Oleh: Andini Sulastri 
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)



Mediaoposisi.com- Jeritan saudara muslim Uighur menjadi alarm bagi muslim lainnya diseluruh penjuru dunia. Umat muslim tidak akan tinggal diam dikala saudaranya disakiti, disiksa, ditindas dan dizolimi.


Di Uighur, muslim dicekal, ditangkap, dipisahkan antara orangtua dan anak. Bukan hanya hal itu, muslim pun dilarang untuk beribadah. Mereka dikumpulkan di sebuah tempat dengan pengontrolan yang ketat. CCTV aktif mengintai gerak-gerik tahanan, memastikan tidak terjadinya aktivitas ibadah sholat.

Banyak pula muslimah-muslimah disana yang disakiti secara fisik oleh rezim China. Mereka diikat dan disiksa, bahkan terjadi pula pengambilan organ tubuh saudara muslim tanpa adanya biusan  pada tubuh mereka.

Sungguh kejam perlakuan-perlakuan komunis China laknatullah. Hal tersebut dapat dibayangkan betapa besarnya perjuangan muslim di Uighur untuk mempertahankan mabda nya, begitu besar keimanan itu termutajasad pada diri nya, begitu kuat aqidah yang melekat pada akal nya.

Muslim Yogyakarta mengawali pergerakan umat muslim di Indonesia dengan mengadakan aksi damai yaitu aksi bela Uighur yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 Desember 2019 dengan melaksanakan longmarch yang diisi dengan beberapa orasi penyampaian pembelaan terhadap muslim Uighur.

Muslim Bagaikan Satu Tubuh

“Jika tubuh kita tertusuk, teraniaya, tapi kita diam-diam saja, masih tenang-tenang saja, maka hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama bahwa tubuh kita, sistem saraf kita telah rusak, atau yang kedua bahwa kita bukan bagian dari tubuh kita.” Fadil (Aktivis Gema Pembebasan)

Umat muslim tidak akan diam disaat melihat saudaranya terzolimi dengan begitu parahnya akibat dari sistem yang rusak ini yaitu kapitalisme yang sangat kotor. Diibaratkan satu tubuh, jika ada anggota tubuh yang merasakan sakit, maka anggota yang lain akan memberikan respon, akan merasakan sakit dan senantiasa tidak akan tinggal diam terhadap anggota tubuh yang sakit.

Itulah penganalogian umat muslim, jika ada muslim yang merasa tersakiti, terzolimi, tertindas, maka tidak akan mungkin saudara muslim lainnya tidak merasakan apa-apa. Seraya umat muslim merasakan sakitnya, saling membantu dan saling mmendoakan.

Seperti yang dipaparkan diatas, apabila kita tenang-tenang saja atau diam saja saat kita tersakiti, saat saudara muslim kita teraniaya, maka terjadi dua kemungkinan tersebut. Bahwa sistem tubuh atau saraf kita telah rusak, atau kita bukan bagian dari muslim itu sendiri. Na'udzubillah min dzalik.

Uighur menjadi momentum umat muslim bersatu dengan berlandaskan ikatan ideologi. Hanya ideologi Islamlah yang dapat menyatukan dan memperkuat umat dan saudara lainnya. Kekuatan inilah yang akan membuat para rezim gempar akan rasa takut yang luar biasa.


Karena jika umat muslim telah bersatu dan menjunjung agama Allah (syaria'at), maka tamatlah kerusakan-kerusakan yang dibuat kapitalisme, hilanglah penderitaan-penderitaan umat Islam dipenjuru dunia. Ada 2 peran yang dapat diambil oleh umat muslim atas kejadian ini, yaitu berperan sebagai pejuangnya Allah atau hanya menjadj penonton dalam perjuangan ini. [MO/SO]

Posting Komentar