Oleh : Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Uighur adalah salah satu suku minoritas resmi di Republik Rakyat Tiongkok / China. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.  Suku ini  merupakan keturunan dari suku kuno Huihe yang tersebar di Asia Tengah dan berbahasa Turki. Mereka menggunakan huruf Arab dalam penulisan bahasanya.

Namun, begitu naas saat ini penduduk Muslim Uighur  menjerit meminta pertolongan. Mereka tertindas di wilayah resmi mereka, dan sampai detik ini belum ada sama sekali adanya keseriusan untuk menyelesaikan problem ini.

Beberapa waktu lalu ada seorang bintang terkenal yang kembali membahas perihal penduduk Muslim Uighur, beliau juga menyimpan kekecewaan mendalam terhadap para kaum Muslim yang seolah tak mengetahui penderitaan yang dialami penduduk Muslim Uighur.

Sebelumnya, Ozil membuat unggahan yang menarik perhatian khalayak. Kesal dengan pemberitaan yang ada, Ozil menulis unggahan yang memberi dukungan kepada muslim Uighur. Bahkan, eks gelandang Real Madrid itu kecewa karena negara-negara yang bermayoritas muslim, seakan tidak membantu saudara-saudara mereka yang ada di China.

"(Di China) Qur’an dibakar, masjid ditutup, sekolah-sekolah teologi Islam, madrasah dilarang, cendekiawan agama dibunuh satu per satu. Terlepas dari semua ini, Muslim tetap diam," kata Ozil di akun Instagram-nya. (okezone.com)

Begitu nyata tercerap oleh indra kita, memang tidak ada tindakan yang serius dari para kaum Muslim terutama penguasa Muslim kepada penduduk Muslim Uighur. Seperti hal nya negeri kita ini, tak ada suara kecaman sama sekali dari penguasa. Sungguh, semua terjadi karena ketakutan negeri ini perihal apabila terjadinya keretakan kerja sama yang terjalin dengan pemerintah China.

China begitu besar memberi investasi kedalam negeri ini. Dilihat dari data Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM), pada periode Januari-September 2018 realisasi investasi dari China menyampai angka yang sangat tinggi, yaitu USD1,8 miliar.

Akar Permasalahan

Diamnya para penguasa Muslim adalah akibat dari penerapan sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme merupakan sistem yang memiliki dasar sekuler, hingga memaksa di dalam aspek kehidupan serta bernegara dijauhkan dari agama.

Sistem kapitalisme juga merupakan sistem yang dimana para pemilik modal yang berkuasa, seperti hal nya fakta di atas. Dengan modal besar yang diberikan China, menjadikan China penyetir bagi negeri.

Islam sendiri merupakan agama juga ideologi yang begitu rinci aturannya. Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan juga bernegara, akibatnya akan ada kekacauan yang melanda, dan ketertindasan yang menyedihkan terhadap umat Islam. Faktanya seperti yang terjadi sekarang.

Dari pemisahan agama dari kehidupan ini, akhirnya para kaum muslim tak lagi menjadikan aqidah Islam sebagai ikatan dalam kehidupan. Ikatan yang digunakan adalah ikatan kepentingan, dan ikatan-ikatan yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Seperti ikatan nasionalisme atau kecintaan mendalam terhadap negerinya, ikatan diluar Islam ini merupakan hasil infiltrasi dari pemikiran Barat dan merupakan ikatan yang lahir dari sistem kapitalisme.

Ikatan nasionalisme ini, menjadikan kaum Muslim tersekat-sekat oleh negara. Lengan yang ingin menolong Muslim diluar negaranya terjebak oleh pagar nasionalisme.

Faktanya negeri-negeri mayoritas Muslim tidaklah lemah, kekuatan militernya padahal mampu untuk membela Muslim yang tertindas. Namun, beginilah jika kapitalisme yang dasarnya sekularisme ini masih menjadi sistem pemerintahan yang dianut negeri.

Maka, tugas militer hanya menjaga ideologi negerinya saja, tidak akan peduli terhadap apa-apa yang terjadi di negeri lainnya, kecuali adanya materi/ keuntungan yang diterima, seperti modal yang besar.

Penerapan Islam Memberantas Penindasan

Seharusnya sebagai umat Muslim, kita harus senantiasa menyuarakan Islam sebagai satu-satunya solusi fundamental bagi setiap segala problematika kehidupan yang terjadi. Khususnya terhadap penindasan kaum Muslim yang terjadi sekarang ini.

Dalam Islam, tatkala Islam menjadi pemimpin dalam pemerintahan, dan taktkala Islam menjadi aturan dalam negara ia adalah sebagai benteng penjaga bagi kaum Muslim. Dibawah naungan Khilafah, adanya militer adalah sebagai pelindung bagi kaum Muslim, kehadirannya sebagai pembela rakyat kekhilafahan.

Khalifah sebagai pemimpin umat, tidak mepedulikan materi yang didapat, namun kesejahteraan umat adalah yang utama. Khalifah akan senantiasa memberi kebijakan yang meriayah rakyatnya. Karena ia memimpin sesuai dengan apa yang Allah SWT perintahkan.

Allah SWT., berfirman, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.” (TSQ. Al-Anfal:72)

Sebagai pelindung umat Khalifah akan senantiasa mengerahkan segala kekuatan pasukannya untuk membela kaum Muslim. Selain itu, Khalifah akan senantiasa mempertahankan milik kaum Muslim dengan segenap kemampuannya.

Tercatat dalam sejarah, suatu peristiwa yang sangat menggetarkan hati. Pada zaman Khalifah Sultan Abdul Hamid II, tatkala Yahudi meminta tanah Palestina kepada Sultan dan beliau berkata.

”Jika khilafah Utsmaniyah dimusnahkan suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Tetapi, bila aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari khilafah Islamiyah” – Abdul Hamid II, 1902

Begitu menggetarkan hati, tatkala seorang Khalifah rela mengorbankan dirinya demi kota Palestina yang merupakan milik negara Muslim. Tak rindu kah kita akan pemimpin yang senantiasa membela umat? Pemimpin yang menerapkan hukum Allah SWT?

Dengan kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafahlah segala penindasan akan berakhir. Tugas kita saat ini yakni bersuara, hingga tercipta opini umum dalam masyarakat, bahwasannya Khilafah adalah satu-satunya institusi yang mampu melindungi kaum Muslim.

Hingga kelak tidak akan ada lagi penindasan kaum Muslim, seperti yang terjadi di Uighur atau negara muslim lainnya. Aamiin, wallahu alam.

Posting Komentar