Oleh : Nur Azizah 
(Penulis dan Aktivis Muslimah Jakarta Utara)

Mediaoposisi.com-Uighur menjerit! Di mana para penguasa negeri-negeri muslim? Apakah karena mereka terlalu mempercayai China, hanya karena negara itu memiliki ekonomi yang sangat kuat dan memberi Anda beberapa manfaat?

Beberapa tahun belakangan  Beijing mengeluarkan aturan baru melarang seluruh Etnis dari Uighur yg beragama muslim untuk beribadah sesuai agama mereka dan melarang mereka berpakaian layaknya seorang muslim dengan alasan  sebagai upaya pemerintah China dalam deradikalisasi.

Menurut sejarah, bangsa Uighur merdeka telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Tapi Cina mengklaim daerah itu warisan sejarahnya, dan oleh karenanya tak dapat dipisahkan dari Cina. Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim Cina tidak berdasar dan sengaja menginterpretasikan sejarah secara salah, untuk kepentingan ekspansi wilayahnya. 

Tahun 1949, 96 persen penduduk Xinjiang adalah klan Turki. Namun, sensus Cina terakhir menyebutkan kini hanya ada 7,2 juta Uighur dari 15 juta warga Xinjiang. Selain itu ada etnis Kazakh (1 juta), Kyrgyz (150 ribu), dan Tatar (5 ribu). Para tokoh Uighur percaya jumlah mereka di sana 15 juta. Selain itu, kini di Xinjiang tinggal juga etnis ras Asia: Han-Cina, Manhcu, Huis, dan Mongol. (REPUBLIKA.CO.ID)

Dan kini lebih dari 2 juta muslim Uighur di kurung di kamp konsentrasi mirip dengan gaya Nazi. Anak-anak Uighur dipaksa untuk berbicara bahasa China, berpakaian pakaian tradisional Tiongkok, mengkonsumsi makanan haram, beribadah dan sujud ke patung Confusius, menghafal arti bendera Komunis.

Tidak berhenti di sini, mereka semua memisahkan anak-anak tidak berdosa itu dari ibunya. Anak-anak itu diberi pendidikan untuk membenci agamanya sendiri kemudian diambil organ-organ tubuh yang penting untuk diperjualbelikan. Sedangkan ibunya diperkosa secara bertahap bahkan beramai-ramai. Gadis muslimah di Uighur dipaksa menikah dengan Atheis.

Bahkan kitab suci Al-Qur’an yang merupakan pedoman bagi umat muslim di Uighur telah dianggap sebagai buku jahat penyebab menyebarnya Radikalisme. Hingga akhirnya berton-ton Al-Qur’an dibakar.

Dari 24.000 masjid di seluruh Turkistan Timur, lebih dari 20.000 di antaranya telah dihancurkan. diubah menjadi kantor-kantor pemerintah, diberikan kepada pebisnis China, dan berubah menjadi pusat propaganda. Bahkan lebih dari 60.000 guru agama, dan ulama telah dibuang ke penjara dengan dalih Memerangi Ekstrimisme.

Begitu memang cara licik mereka para komunis. Mereka mengemas semua kebohongan untuk menghancurkan umat muslim. Mereka bahkan berani mengecam penguasa  negeri muslim untuk tidak ikut campur. Ya, sekali lagi mereka (para penguasa muslim) bertekuk lutut di hadapan pemerintah China.

Tidak aneh memang. Bungkamnya pemimpin Muslim lantaran Cina merupakan mitra utama dari 20 negara yang tergabung dalam OKI. Proyek One Belt Cina menjanjikan keuntungan bagi banyak negara Muslim.

(Sembari menutup mata dan hati rapat-rapat,  para penguasa muslim pun mencukupkan dirinya dengan berkata “Itu adalah urusan intern dalam China”. Hanya naik setingkat dari itu mereka hanya mengecam tanpa adanya tindakan sedikitpun.)

Begitulah gambaran hipokrit wajah-wajah Hak Asasi Manusia (HAM) yang sangat diagung-agungkan dunia. Apabila itu terkait tentang dunia Islam dan segala bentuk pembantaian pada kaum muslim oleh "negara-negara teroris bergaris keras" dunia seakan-akan mendadak bisu dan buta termasuk awak media mainstream sekalipun.

Padahal, tidak cukup dengan mengecam dan mengutuk. Seharusnya kita juga wajib menolong Muslim di Uyghur. Sesuai perintah Allah di Al-Qur'an, saat saudara kita membutuhkan pertolongan, maka kaum muslim di seluruh penjuru dunia wajib memberikan pertolongan. Allah SWT berfirman :

"(Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Anfal : 72)

Kesakitan mereka seharusnya juga kesakitan untuk kita. Darah mereka adalah darah kita juga bukan? Mereka semua saudara-saudari  seiman kita. Sedih mereka pun sedih kita. Diibaratkan orang terjatuh, yang terluka kaki tapi mulut yang merintih kesakitan. Juga seharusnya kita seperti itu, merasakan sakit atas apa yang diderita saudara-saudari kita disana. Seperti yang sudah Allah jelaskan di dalam al-qur'an, Allah SWT berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran 3: 103)

Yang juga dipertegas dengan Hadits shahih.

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. 

Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat” HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.


Sesungguhnya diamnya penguasa negeri muslim saat ini karena terperangkapnya mereka dari sistem kehidupan yang rusak. Sistem yang membatasi kepedulian dan tanggungjawab terhadap saudara-saudara kita sebatas kepentingan dan wilayah teritorial. Sistem yang semakin mengokohkan hegemoni barat dan para kafir aseng untuk memukul mundur kebangkitan Islam.

Bukan lagi saatnya kita  terdiam  dan hanya termenung syahdu di depan layar ponsel atas kesakitan saudara-saudari kita di Uighur. Sudah saatnya dunia sadar bahwa cukup sudah penderitaan yang dirasakan kaum Muslim di Uighur maupun di negeri-negri muslim lainnya. 

Harus segera kita sadari bahwa hanya dengan kepemimpinan Islam dan sistem islam lah yang dapat menyelesaikan semua problematika yang umat hadapi saat ini. Maka tidak ada perjuangan yang pantas selain memperjuangkan Islam. Wallahu’alam bishawab.[MO\ia]

Posting Komentar