Oleh : Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)


Mediaoposisi.com-  Kini kaum Muslim semakin dirunding pilu, luka yang menganga tak lekas sembuh. Fakta diamnya dunia Islam semakin memberi luka dalam, kekejaman yang dilakukan para pembenci Islam tak menjadikan dunia Islam bergerak memberantas, atau sedikit suara melintas.

Pengacara HAM secara umum memperkirakan bahwa China memenjarakan lebih dari 1 juta warga Uighur dan warga etnis Muslim Turkis lainnya.
Namun Randalla Schriver, pejabat tinggi Pentagon untuk Asia mengatakan, pada Mei angka itu diperkirakan mendekati 3 juta warga - jumlah yang luar biasa di wilayah yang populasinya 10 juta jiwa.
Aktivis dan saksi mata mengatakan China melakukan penyiksaan untuk secara paksa mengintegrasikan orang-orang Uighur ke dalam mayoritas Han, termasuk menekan kaum Muslim untuk meninggalkan ajaran agama mereka, seperti salat dan tidak makan daging babi dan alkohol. (baca: merdeka.com 14/11/19)
Begitu naas bukan? Tak usai-usainya para pembenci Islam menindas para kaum Muslim. Lebih naas lagi, sudah kita ketahui bersama bahwasannya bukan hanya kaum Muslim Uighur saja yang terluka. Coba kita lihat kaum Muslim Rohigya.
Lebih dari 700.000 Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar utara, pada Agustus dan September 2017, setelah serangan oleh gerilyawan Rohingya terhadap pasukan keamanan di sana menyebabkan militer melakukan pembalasan. Etnis Rohingya terus mencari perlindungan di kamp pengungsi di Bangladesh, negara tetangga Myanmar.
Misi pencari fakta itu berfokus pada kekerasan seksual dan berbasis gender, yang dilaporkan secara luas oleh para penyintas yang tiba di Bangladesh.
Misi menyimpulkan, Tatmadaw menunjukkan "niat melakukan genosida" terhadap kelompok minoritas Muslim itu dengan "secara sengaja merusak kondisi kehidupan perempuan dan anak perempuan Rohingya yang diperhitungkan akan membawa kehancuran bagi Rohingya secara keseluruhan atau sebagian." (baca: voaindonesia.com 23/08/19)
Masih banyak lagi kaum Muslim diluar sana yang terluka, dan banyak juga fakta yang disembunyikan mereka para pembenci Islam. Seperti halnya Palestina, Suriah dan negara mayoritas Islam lainnya. Bukankah dengan tangis mereka yang membendung seharusnya kita tak berdiam saja? Sungguh, umat butuh pelindung.
Sekat Nasionalisme                                                                                                            
Dunia Islam akan senantiasa diam, tatkala sekat nasionalisme masih ada. Sekat nasionalisme ini lahir dari sistem kapitalisme yang kini menjadi sistem mayoritas dunia, termasuk negara kita ini Indonesia.
Sekat nasionalisme akan membuat umat Muslim yang berada di negara tersebut menjadi tak peduli akan kondisi umat Muslim diluar negaranya. Sekat nasionalisme menjadikan akidah umat Muslim tak menjadi ikatan yang melekat lagi pada diri individunya.
Sungguh miris, apabila sekat nasionalisme ini masih ada. Tak akan terjadi sampai kapan pun adanya ketuntasan pada problem umat Muslim. Mengapa demikian? Karena akidah sudah tak menjadi ikatan penguat mereka lagi.
Umat butuh pelindung yang mampu mempersatukan umat tanpa adanya sekat-sekat wilayah. Umat butuh persatuan agar mampu menghentikan segala kekejaman, dan tindak penindasan yang sedari lama hingga kini terus menerus terjadi.
Khilafah Mampu Melindungi
Khilafah adalah konstitusi negara Islam, yang dimana didalamnya menerapkan hukum Islam secara menyeluruh. Dengan demikian seorang Khalifah atau pemimpin yang memimpin Khilafah pasti menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan al-qur’an dan sunnah.
Maka seorang Khalifah sudah pasti akan bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi didalam institusi Kekhilafahan serta bertanggungjawab atas apa-apa yang terjadi pada rakyatnya. Karena,  Khalifah akan senantiasa memberi kebijakan yang meriayah rakyatnya.

Khalifah adalah memimpin sesuai dengan apa yang Allah SWT perintahkan.
Allah SWT., berfirman, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.” (TSQ. Al-Anfal:72)

Sudah jelas, kaum Muslim hanya bisa sejahtera dan tidak mendapat lagi penindasan hanya dengan adanya Khilafah. Sungguh hanya kepemimpinan Islam inilah yang mampu menolong kaum Muslim.
Selayaknya Umar bin Abdul Azis yang sampai uang kas negara itu penuh, dan tak ada rakyat miskin sama sekali. Semua itu adalah hasil dari adanya Khalifah yang senantiasa berusaha dalam meriayah rakyatnya. Tak ada seorang pemimpin Islam yang membiarkan keterpurukan terhadap kaum Muslim. Karena, Khalifah sadar bahwa segalanya dipertanggungjawabkan di akhirat.
Tak rindukah kita akan adanya kepemimpinan Islam? Tak inginkah kita adanya perlindungan terhadap tangisan umat yang membendung? Marilah kita berjuang, menyuarakan bahwasannya Khilafah Islam harus diterapkan di muka bumi ini. Wallahu alam.

Posting Komentar