Oleh : Siti Komariah S.Pd.I
(Komunitas Peduli Umat)

Mediaoposisi.com-Seperti kita ketahui bersama, setiap 1 Desember diperingati Hari AIDS Sedunia. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang cara penularan HIV/AIDS, guna mencegah penularan penyakit tersebut. Namun nyatanya, hingga saat ini HIV/AIDS masih menjadi lingkaran setan yang membelengu berbagai negeri, termasuk Indonesia.

Dari tahun ke tahun penderita HIV/AIDS terus meningkat dan menyasar seluruh elemen masyarakat dan berbagai usia, mulai dari orang dewasa hingga balita dan bayi.

Seperti yang diungkapkan Dr. Irma Kepala Seksi Penyakit Menular Dinkes provinsi Sulawesi Tenggara. Hingga periode September 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menemukan sebanyak 275 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), (Sultra.inikata.com, 8/12/2019).

“Dari 275 penderita kasus HIV AIDS di Sultra yang ditemukan, 26 orang diantaranya meninggal dunia. Angka ini meningkat jika dibandingkan tahun 2018 yakni hanya 20 orang,” ujar dr Irma saat ditemui, Jumat (6/12/2019).

Ia menjelaskan, penderita HIV dengan kisaran umur terbanyak pada usia produktif yakni usia antara 25-49 tahun dan kecenderungan peningkatan kasus pada kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan juga Ibu Rumah Tangga.

Penyebab HIV/AIDS

Ada beberapa faktor penyebab dari penularan HIV/AIDS yaitu. Pertama, melalui transfusi darah yang mengandung virus HIV, bisa melalui jarum suntik bekas pengidap HIV, tindik, tatto, narkoba injeksi, dan melalui ibu hamil kepada janin yang dikandungnya, ataupun anak yang disusuinya. Kedua,  hubungan seks. Inveksi HIV dapat terjadi melalui hubungan seks bebas (gonta ganti pasangan), dan LGBT (homoseksual atau heteroseksual).

Sebagaimana menurut Rosmelia, dosen fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) menyatakan LGBT adalah gaya hidup yang potensial menyebarkan penyakit HIV/AIDS. Kasus ini sudah mencapai angka 48.000 khusus untuk kasus baru 2018. Dan saat ini ada 600.000 orang yang terjangkiti HIV/AIDS. 50% dikarenakan homoseksual/LGBT, tribunnews.com.

Apabila kita melihat faktor di atas telah jelas bahwa faktor-faktor penyebab HIV/AIDS bukan hanya masalah kesehatan saja, namun juga masalah perilaku menyimpang sek bebas dan homoseksual (LGBT).

Ditambah lagi asas kehidupan bercorak sekulerisme yang telah mengesampingkan peran agama dalam mengatur kehidupan manusia. Alhasil, kehidupan manusia serba bebas. Tak ada rasa malu dalam interaksi laki-laki dan perempuan, saling berboncengan, pacaran, membuka aurat di tempat umum, bahkan perzinahan di depan mata. Hal ini akibat kebebasan berperilaku amat dijunjung tinggi dalan sistem sekulerisme ini.

Kacamata Islam

Saat ini negara sebenarnya telah memberikan solusi terhadap penyakit HIV/AIDS. Namun, solusi yang diberikan oleh negara merupakan solusi yang hanya memandang pada aspek kesehatannya saja, misalnya dengan kondomisasi, penyuluhan bahaya HIV, pembagian jarum suntik steril, dan lain sebagainya, tanpa melihat aspek perilaku masyarakatnya, yaitu gaya hidup seks bebas (zina) dan homoseksual (LGBT) yang justru difasilitasi oleh pemerintah dan didukung keberadaannya. 

Inilah salah satu sudut pandang kapitalis-sekuler yang hanya mampu memberikan solusi semu, dan hanya memandang satu aspek masalah saja terhadap berbagai persoalan yang mendera negeri ini, tanpa mencari akar pokok dari masalah tersebut.

Berbeda dengan sistem kapitalis, sistem Islam memandang penyakit HIV/AIDS bukan hanya masalah kesehatan saja, namun Islam juga memandang penyakit HIV merupakan masalah perilaku kehidupan manusia seks bebas (zina) dan homoseksual (LGBT). 

Sehingga Islam tidak hanya mencegah dan mengobati penyakit HIV/AIDS saja, melainkan Islam juga menghapuskan dan memberikan sanksi tegas dan keras terhadap perilaku menyimpang tersebut yang terbukti menjadi penyebab dari penyakit mematikan tersebut.

Islam juga menganjurkan kepada negara untuk memblokir situs-situs porno yang beredar di berbagai media. Pun mencopot seluruh bisnis "esek-esek", baik yang berstatus legal maupun illegal. Dengan begitu persoalan HIV/AIDS dapat diatasi dengan tuntas. Karena aturan Allah dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan.  Wallahu A'alam Bisshawab.[MO/ia].

Posting Komentar