Oleh : Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Beberapa waktu lalu pusat Jakarta kembali menghitam dan memutih. Panji al-liwa dan ar-rayyah Rasulullah SAW berkibar dengan indahnya. Gema takbir menggelegar seolah sampai menembus langitnya Jakarta, lantunan shalawat kepada Rosulullah terdengar indah, menyentuh kedalam jiwa. Begitu gemetar seharusnya kita sebagai seorang Muslim.

Reuni 212, bukan sekotak nasi yang memanggil. Namun keimanan didalam diri yang membuat mereka semua berpijak di pusat negeri ini. Berbagai kalangan berkumpul, berbagai profesi, bebagai daerah, hingga berbagai suku tak mempermasalahkan berbedaan. Karena bagi mereka semua, aqidahlah yang mempersatukan.

Selain itu, acara reuni 212 yang diadakan beberapa hari lalu sangat tertib, dan damai.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, digelarnya reuni akbar 212 adalah untuk mengirimkan pesan damai dan aman. Hal tersebut disampaikan Anies di hadapan massa reuni akbar 212, di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2019).

"Kami bersyukur Alhamdullillah ini yang keempat kalinya Monas menjadi tempat di mana semua berkumpul di lapangan yang besar ini dikirimkan pesan bahwa jumlah bisa banyak ratusan ribu berkumpul dari seluruh penjuru, jika sampai di tempat ini pesan yang dikirimkan bahwa semua hadir mengirimkan pesan damai, aman, dan meneduhkan bagi semua," ucap Anies.  (Kompas.com)

Merupakan kepastian apabila acara berjalan tertib dan damai, apabila berjalan dengan kekerasan pasti ada biang dibaliknya. Pesan cinta umat Islam begitu tulus, perjuangan yang dibawa mujahid 212 merupakan bukti pembelaannya terhadap agamanya, terutama terhadap Rosulullah SAW., yang baru-baru ini mendapat penistaan dari manusia dan dibanding-bandinkan dengan manusia biasa.

Kesadaran Persatuan Umat

Berkumpulnya umat di reuni 212 meurupakan bukti bahwa umat telah sadar akan pentingnya persatuan, umat telah sadar bahwa tanpa persatuan Islam akan senantiasa dilecehkan. Adanya reuni 212 pun, seolah memberi tahu kita bahwa umat yang sedang tertidur sudah terbangun dan siap untuk bangkit kembali.

Tentu, acara fenomenal yang berhasil merekatkan ukhwah islamiyah ini tidak lepas dari kehendak Allah, Allah sudah memberi isyarat kepada kita bahwa sudah waktunya umat harus sadar, sudah waktunya agama Allah ini dimenangkan semenang-menangnya di muka bumi ini.

Terbukti, tahap demi tahap Allah menyatukan umat. Dari mulai adanya penistaan terhadap al-qur’an , bendera tauhid yang dahulu mereka belum mengenalnya, hingga adanya penistaan Rosulullah. Dari setiap kejadian Allah memberi hikmahnya, yakni terdorongnya semangat persatuan umat.

Momentum ini merupakan momen yang tepat dimana kita harus menyuarakan dan menegaskan bahwa persatuan umat tidak akan bisa terlaksana apabila didalam naungan sistem yang salah, sistem yang lahir dari pemikiran manusia. 

Sistem kapitalisme, dimana sistem kapitalisme yang sedang diterapkan di negeri kita ini tak mampu menangani dan bertindak tegas terhadap penistaan agama. Sebagai bukti sampai detik ini penistaan terhadap Rasulallah tak ada tindakan pada penistanya.

Adanya reuni 212, sejujurnya menunjukan bahwa umat sudah geram akan berbagai penistaan agama yang terjadi. Namun umat bingung akan solusi fundamental yang mampu mencabut segala problematika yang terjadi di negeri ini. Umat geram Islam sudah banyak mendapat stigma buruk tampa bukti nyata, yang faktanya semua hanya opini kebencian belaka.

Solusi Fundamental

Sejak wilayah Islam disekat-sekat oleh nasionalisme, Islam pun melemah. Tak ada daya untuk melawan, selain umat yang sadar dengan menyuarakan pembelaannya dengan tegas terhadap mereka para penista Islam dan apa-apa yang berhubungan dengan Islam. Sungguh, umat sebenarnya membutuhkan pemimpin yang satu yang bisa melindungi Islam dan umat dengan kekuasannya.

Islam sebagai agama dan ideologi yang memiliki peraturan dan hukum yang begitu rinci, memang sudah terbukti selama 14 abad menjadi peradaban yang gemilang. Hanya saja, kebanyakan umat Islam saat ini tak mengetahui hal itu, karena minimnya edukasi perihal sejarah peradaban Islam dimasa silam.

Bersatunya umat dan negeri-negeri Islam dalam satu kepemimpinan, bukanlah sebuah hayalan. Institusi Islam yang menjadi peradaban gemilang dimasa silam itu disebut Khilafah. Rasulullah SAW bersabda, “…Selanjutnya akan kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)
Syaikh Abu al-Turab Sayyid bin Husain al-‘Affani pun dalam A’lam wa Aqzam Fi Mizan al-islam  (1/376) menegaskan: “Hadits ini merupakan hadits shahih yang menegaskan kembalinya Khilafah Islamiyyah.”

Khilafah merupakan institusi yang keberadaanya menjadi tali penguat umat, yang kini umat Islam berceceran tanpa induk yang menguatkannya. Khalifah sebagai seorang pemimpinnya akan senantiasa menjaga hak rakyat, terutama melindungi Islam dari berbagai penistaan manusia pembencinya.

Reuni 212 simbol kesadaran umat, tugas kita bersama untuk memahamkan bahwasannya umat butuh persatuan dalam naungan kepemimpinan Islam yang mampu melindungi Islam dari hal apa pun. Tak perlu ragu, apabila kita beriman kita harus yakin bahwasannya Islam pasti bangkit kembali, dan menjadi peradaban yang gemilang lagi.

Yakinlah, Jakarta saja bisa hitam dan putih oleh al-liwa dan ar-rayyah, dengan dakwah pastilah dunia bisa hitam dan putih juga oleh panji Rasulullah tersebut. Aamiin Allahumma Aamiin

Posting Komentar