Oleh : Zulfa Rasyida
(Pengemban Dakwah, Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com- Monas kembali dibanjiri manusia. Seperti dua tahun kemarin, Desember adalah momentum umat Islam berkumpul, tepatnya pada tanggal 2 Desember (212). Sebanyak 7 juta manusia hadir dalam aksi reuni 212 kali ini.

Jutaan manusia yang hadir sebagai peserta 212 ini bergerak bukan karena adanya fulus yang mereka dapat apabila mereka hadir. Bukan pula karena kepentingan politik dan golongan. Akan tetapi ghirah (semangat) keislaman, keimanan, dan ketaqwaan-lah yang menggerakkan mereka.

Hal ini terlihat dari berbagai kisah perjuangan peserta dari berbagai penjuru Nusantara. Pria asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Mohammad Fuad (52 tahun) mengayuh sepeda dari rumahnya untuk menghadiri acara Reuni Akbar 212.

Tampak pula peserta aksi yang menunggangi kuda untuk menuju kawasan Monas. Ada sekitar sembilan orang yang ikut dalam barisan berkuda tersebut. Mereka terpantau melewati Jalan Kebon Sirih menuju arah Tugu Tani.

Secara teratur para peserta dari berbagai kalangan dan bermacam transportasi ini memasuki kawasan Monas. Kesadaran ini tak terlepas juga dari fenomena hijrah yang terjadi. Mulai dari kalangan remaja dan pemuda  hingga para artis yang hijrah.

Menjamurnya komunitas hijrah juga menjadi tolak ukur dari meningkatnya ghirah umat saat ini. Komunitas kajian Musawarah misalnya. Kalangan para artis yang mulai sadar akan pentingnya Islam dalam kehidupan mereka membentuk komunitas ini untuk merangkul sesama artis muslim.

Berbagai konten Islami bertema remaja juga mulai banyak bermunculan di media sosial. Fenomena hijrah dari pakaian tren masa kini hingga fenomena pacaran diulas oleh sekian banyak akun sekreatif mungkin.

Hal yang juga menjadi penggerak para peserta aksi ini adalah bendera tauhid yakni al-liwa’ dan ar-rayah. Berkibarnya jutaan bendera tauhid serta bendera tauhid raksasa tak pernah ketinggalan dibentangkan.

Ini menjadi bukti bahwa telah ramai umat yang sadar bahwa bendera tauhid bukanlah bendera satu ormas tertentu melainkan bendera umat muslim, bendera Rasulullah saw. Hal ini juga membuktikan bahwa umat semakin cerdas dalam menyikapi berita tentang bendera tauhid ini.

“Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani)

Sekali lagi, berkumpulnya umat Islam dalam aksi Reuni 212 ini menjadi bukti bahwa ghirah Islam itu masih ada dan hidup dalam tiap hati individunya. Berkibarnya bendera dan panji Rasulullah saw adalah saksi bahwa Islam akan kembali hidup dan tegak di muka bumi ini.

Posting Komentar