Oleh : Fadillah Khairunnisa
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)
Mediaoposisi.com- Terdengar lagi jeritan rakyat Uighur setelah sekian lama dibungkam kan oleh media massa, suara-suara pertolongan itupun akhirnya terdengar lagi setelah beberapa lama hilang oleh waktu. 

Kaum minoritas Uighur yang terdapat di Republik Rakyat Tiongkok ini sudah membuka suara, berteriak, meminta tolong kepada kaum muslim lainnya untuk membantu mereka keluar dari penjara camp Re-Edukasi yang dilakukan oleh komunis China, penderitaan yang berlangsung sudah sangat lama ini sudah tidak tertahankan lagi bagi rakyat Uighur. 

Anak kecil meminta tolong untuk dikembalikan ayah mereka yang ditangkap oleh komunis China, para pemuda Uighur meminta tolong untuk di lepaskan dari kejamnya penyiksaan di camp Re-Edukasi itu, dan wanita-wanita Uighur meminta perlindungan agar tidak di potong kain jilbab mereka.

Tidak mungkin rakyat muslim diluar sana tidak mendengar jeritan mereka. Beberapa negara mengecam adanya pelanggaran HAM yang terjadi di Uighur, namun bagaimana dengan Indonesia? 

Apakah rakyat Indonnesia ikut menyuarakan keadilan bagi rakyat Uighur? Memang sudah banyak yang sadar dari individu para orang-orang muslim terutama di negara yang mayoritas Islam ini yaitu, Indonesia, namun bagaimana jika dukungan hanya timbul di individu-individu mereka saja, dan Ormas-ormas Islam malah tidak bergerak dan bersuara?

Adanya kabar bahwa ternyata Ormas Islam yang ada di Indonesia dibujuk oleh China, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul ‘Ulama, media Indonesia dan bahkan akademisi, untuk tidak mengkritik dugaan persekusi yang diterima oleh rakyat Uighur, karena saat itu Uighur mencuat usai sejumlah organisasi HAM International merilis laporan yang menuding China menahan satu juta rakyat Uighur di camp Re-Edukasi (konsentrasi) di Xinjiang. 

Untuk menutup mulut Ormas Islam, China bahkan menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap Ormas-ormas Islam pada tahun 2018 lalu, karena isu Uighur kembali mencuat. -cnnindonesia

Dalam laporan WJS (World Street Journal) pemimpin Muhamamadyah sempat mengeluarkan surat terbuka pada Desember 2018 lalu, yang mengkritik terhadap perlakuan China dengan rakyat muslim Uighur, sampai menuntut China dan memanggil duta besarnya ke Jakarta. 

Sejumlah kelompok Islam bahkan berunjuk rasa didepan Kedubes China sebagai bentuk protes atas penderitaan Uighur. Maka dari itu, tak lama kemudian China berupaya meyakinkan Ormas Islam bahwa China tidak melakukan itu dan tidak ada yang namanya penjara camp Re-Edukasi.

Islam perlu dibela

Sungguh hebat siasat para komunis China, ketika isu kaum muslim mencuat maka mereka sepintar mungkin menutupi kekejaman mereka, namun ketika isu itu mereda dan tidak ada satupun yang peduli, mereka dengan cepat melakukan penindasan sampai pada tahap membunuh kaum muslim yang darahnya haram dibunuh dalam Islam. 

Kedustaan mereka mengenai penampungan warga Uighur hanyalah sebagai sebuah program pelatihan vokasi, bukan camp cuci otak atau Re-Edukasi.

Kaum muslim tidak bisa lagi diam, atau hanya melihat sekilas di sosial media, atau hanya mendengarnya lewat TV, butuh adanya peregerakan agar media Internasional sadar bahwa semua yang di katakan komunis China adalah kedustaan untuk menutupi kekejaman yang mereka perbuat. 

Tidak hanya bergerak membela negara-negara yang minoritas Islam, namun sebenarnya Islam lah yang harus diperhatikan dan dibela, sekarang Islam tidak pernah di jaga sedikitpun, penistaan agama dimana-mana, bahkan adanya penghinaan kepada Rasulullah SAW.

Sungguh barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong urusan kita di dunia.[MO]

Posting Komentar