Oleh : Zulfa Rasyida
(Aktivis Dakwah, Mahasiswi, Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com- "Apakah kita tidak merasakan kesakitan dan kepedihan saudara-saudara kita yang sedang didzalimi oleh rezim komunis China?", orasi Rabil DKM STTA dalam aksi peduli Uighur Yogyakarta (21/12/19).

Kalimat pembuka itu jelas saja menampar para aktivis dakwah khususnya dan kaum muslimin pada umumnya. Mungkin kita sering mendengan Uighur namun tak ingin mencari tahu lebih dalam apa dan bagaimana yang terjadi pada mereka.

Tentu tak lagi tabu di pikiran kita bagaimana aturan komunis yang begitu kejam dan memaksa. Menyamaratakan hak dan kewajiban, menafikkan adanya Tuhan, dan aturan kehidupan yang dibuat sendiri oleh akal manusia.

Herannya, dengan kedzaliman yang terorganisir serta sangat menyiksa itu bukankah sampai pada negara-negara mayoritas muslim? Mengapa mereka diam?

Hal ini takkan membuat kita heran ketika kita mau menggali alasab mereka bungkam. Tentu saja karena banyaknya hutang mereka pada China dan investasi Tiongkok yang sudah beranak-pinak di negeri mereka.

Tak ada makan siang gratis bagi kaum komunis maupun kapitalis. Mereka memberikan sebanyak-banyaknya hutang pada negeri-negeri mayoritas muslim, agar negeri-negeri itu tak mampu berkutik dengan segalam bentuk aturan yang mereka buat sendiri.

Termasuk dalam perbuatan biadab mereka terhadap saudara-saudara muslim kita. Hutang yang sifatnya mengikat dan takkan mungkin terbayarkan serta terus-menerus menggunung itu akan membungkam mulut para penguasa muslim.

Dalam Islam, tidak akan pernah negara mengambil hutang pada negara lain. Jangankan hutang, untuk ekspor produk dalam negeri Daulah Islam saja tidak diperbolehkan, takkan mungkin terikat dengan aturan negeri asing.

Hanya Khilafah satu-satunya solusi tuntas dalam menyelesaikan problematika umat termasuk penderitaan muslim Uighur. Solusi yang menuntaskan dari akarnya agar tak terbentuk cabang-cabang kufur lagi yang semakin menambah kezaliman di dunia.

Mengapa Khilafah? Mengapa Daulah Islam?

Jika kita menelisik sejarah, Daulah Islam adalah The Golden Age pada masa gelapnya Eropa. Zaman yang peradabannya maju luar biasa dibandingkan negara adidaya saat ini.

Para ilmuwan dan temuannya yang hingga saat ini dipakai merupakan hasil dari peradaban Islam. Gemilangnya zaman itu tidak pernah ada yang menandingi.

Sejarah telah diputar balikkan, menjadi seolah umat Islam tidak pernah mengalami kebangkitan. Nama para ilmuwan yang menulis kitab-kitab mengenai temuan-temuannya diganti menjadi nama-nama orang kafir.

Islam adalah sebuah ideologi yang memiliki aturan sangat kompleks. Tentu saja masalah diskriminasi terhadap Islam seperti ini tidak akan lagi ada dalam Daulah Islam.

Aturan yang diberikan oleh Allah SWT merupakan aturan yang sesuai dengan fitrah manusia dan merupakan aturan yang paten. Meskipun permasalahan umat itu semakin berkembang, Islam tetap mampu menyelesaikannya dengan ijtihad.

Hal yang berhubungan dengan muslim Uighur adalah masalah jiwa. Dimana satu jiwa begitu berharga dalam Islam, sehingga terdapat hukum jiwa dibayar dengan jiwa.

Sedangkan dalam sistem yang kufur ini, nyawa manusia terutama muslim sangat murah. Hukum yang fleksibek dan tidak membuat jera sama sekali takkan mampu menyelesaikan masalah ini.

Padahal satu jiwa yang melayang takkan bisa digantikan oleh jiwa yang lain. Tentu saja hal ini diatur dalam Islam, tapi tidak dalam aturan manusia yang angkuh ini.

Inilah hal yang mendasari para peserta aksi Yogyakarta menyerukan Daulah Islam, Khilafah Rasyidah sebagai satu-satu solusi mengakar dalam membantu muslim Uighur khususnya dan umat Islam umumnya.

"al ummah nurid khilafah Islamiyah!", tutup Rabil dalam orasinya membakar semangat para peseta aksi. [MO/ip]

Posting Komentar