Mediaoposisi.com-Rabu Lalu, 11 Desember 2019, Wall Street Journal mengeluarkan sebuah artikel berita berjudul “How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps”, yang didalamnya terdapat berbagai argumen yang menuai berrbagai respon dari umat Islam di Indonesia. Surat kabar Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintah China mendanai sekelompok delegasi asal Indonesia yang terdiri dari organisasi Islam dan wartawan untuk berkunjung ke Xinjiang dalam upaya meraih dukungan internasional dan membentuk opini publik. (bbc.com)





Hal ini membuat isu mengenai Uighur kembali memanas. Selain itu, cuitan seorang pesepakbola salah satu klub Liga Inggris, Mesut Ozil, yang melakukan kritik keras terhadap berbagai perlakuan pemerintah Tiongkok terhadap muslim Uighur menambah memanasnya isu terhadap Uighur.



"Mereka membakar Quran. Mereka menutup masjib-masjid. Mereka melarang sekolah-sekolah. Mereka membunuh orang-orang suci. Mereka dipaksa masuk ke kamp-kamp dan keluarga mereka dipaksa tinggal bersama laki-laki Tiongkok. Para perempuan dipaksa menikahi laki-laki Tiongkok. [Di Tiongkok] Quran dibakar, masjid ditutup, sekolah-sekolah yang mengajarkan Islam, madrasah dilarang, ulama dibunuh satu per satu. Meski demikian, para Muslim tetap diam." Cuit Mesut Ozil di akun Media Sosialnya.



Pemerintah China menampik tudingan tersebut. Namun, Sebuah dokumen yang merinci tentang perlakuan pemerintah Tiongkok terhadap warga Muslim di Xinjiang bocor kepada  International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) pada Minggu (24/11). tercatat dalam dokumen yang bocor itu memperlihatkan sebaliknya. Zhu menginstruksikan kepada kepala kamp detensi di Xinjiang agar menjalankan fasilitas tersebut seperti penjara yang sarat dengan disiplin ketat, hukuman dan pelarangan untuk kabur. Salah satu yang mendapatkan dokumen itu adalah The Guardian. Zhu menginstruksikan agar tidak boleh ada tawanan yang meninggalkan lokasi hingga memberlakukan pengakuan dan penebusan jika mereka melanggar peraturan. Instruksi lainnya adalah agar pengelola fasilitas menjadikan Bahasa Mandarin sebagai prioritas bahan ajaran utama. Kemudian, seperti berbagai laporan selama ini, di dalam kamp-kamp detensi juga harus dipasang kamera-kamera pengintai di dalam asrama maupun ruang kelas. (idntimes.com)
Setelah sekian lamanya, bagaimana sikap kaum muslim akan saudaranya? Masihkah diam seribu bahasa tanpa sedikitpun memperlihatkan kepeduliannya?
Karena itu, kami dari Aliansi Silaturahim Jogja Bergerak menyampaikan Rilis Sikap terhadap Kondisi Muslim Uighur, sebagai berikut :
1.      Mengecam dan mengutuk keras perlakuan keji rezim Tiongkok terhadap etnis Muslim Uighur, mulai dari penyiksaan, pemaksaan ideologi, pelarangan Ibadah, bahkan pemerkosaan dan hingga pembunuhan.
2.      Mendesak pemerintah Indonesia selaku negeri dengan mayoritas Umat Islam untuk bertindak dengan  melakukan investigasi dan pembebasan terhadap etnis Uighur yang ada dalam kamp-kamp konsentrasi sehingga memiliki kebebasan menjalankan agamanya.
3.      Menyampaikan kepada seluruh khalayak umum, agar terus membongkar makar rezim Tiongkok yang melakukan berbagai penyiksaan dengan dalih re-edukasi dan sebagainya. Dan ikut dalam mendesak pemerintah Indonesia agar bersuara terhadap kejahatan kemanusiaan ini.
4.      Menyeru kepada seluruh kaum Muslim, bahwa sebenarnya berbagai penindasan, perlakuan keji, dan penyiksaan yang terjadi terhadap kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia, dikarenakan tidak adanya Pelindung Ummat. Pelindung Ummat yang bisa menjaaga kehormatan dan diri kaum Muslim ini adalah Khilafah. Hanya dengan Khilafah lah kaum Muslim akan terjaga kehidupannya.
Semoga Allah limpahkan segala kemudahan dan kelapangan bagi ummat Muslim lainnya agar selalu menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar dan dalam membongkar berbagai macam kedok busuk para musuh-musuh Islam, serta segera memberikan Nasrullah-Nya untuk tegaknya kembali Khilafah Rosyidah 'ala Minhajin Nubuwwah yang dengannya kehidupan Islam dapat kembali menaungi dunia. [MO]
Yogyakarta, 21 Desember 2019
Aliansi Silaturahim Jogja Bergerak

Posting Komentar