Oleh : Merli Ummu Khila
(Kontributor Media, Pegiat Dakwah)

Mediaoposisi.com- Semakin hari muncul banyak penista agama. Belum lama ini umat dibuat geram oleh komentar Sukmawati dalam sebuah diskusi yang membandingkan Rasulullah saw. dengan Ir. Soekarno. Ucapannya yang kontroversial itu, telah viral di jagat maya.

Bukan kali ini saja, sebelumnya Sukmawati pernah dilaporkan karena kasus yang sama, yaitu membacakan puisi yang menganggap kidung ibu lebih merdu dari azan dan beberapa bait yang mengandung pelecehan terhadap agama. Namun, meski sudah ada berbagai kalangan yang melaporkan ke kepolisian, tetapi yang bersangkutan tetap lolos dari jeratan hukum.

Kini muncul lagi video pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. oleh pendakwah Ahmad Muwafiq atau akrab disapa Gus Muwafiq. Dan mendapat hujatan dari masyarakat khususnya warganet yang melihat video tersebut yang dianggap  menghina Nabi Muhammad. Ceramah itu terjadi di Purwodadi, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Di sana Muwafiq mengisahkan masa kecil Rasullullah. "Sekarang ini digambarkan nabi lahir itu seperti ini, seperti ini. Nabi lahir biasa saja, enggak usah tiba-tiba dibuat bersinar. Kalau bersinar ketahuan, dipotong sama temannya Abrahah. Ada yang menceritakan, nabi lahir bersinar sampai langit. 

Kalau begitu ya dicari orang Yahudi, dibunuh. Biasa saja, lahir. Masa kecilnya rembes, ikut mbah. Anak kecil itu kalau ikut mbah pasti tidak terlalu terurus, di mana-mana. Mbah itu di mana saja kalau mengurusi anak kecil itu tidak bisa," kata Gus Muwafiq dalam ceramahnya seperti dalam video yang viral.

Bermunculannya penista agama seolah tidak memiliki rasa takut. Entah itu melecehkan ajaran agama, menghina Nabi ataupun mengolok-olok syariah Islam. Mirisnya, meski banyak kecaman dari berbagai kalangan masyarakat, tetapi tidak ada satu pun yang berakhir di penjara. 

Mereka bebas merenggang, seolah tanpa dosa dan beban moral. Maka tidak berlebihan jika dikatakan penista agama yang bermunculan di rezim ini kebal hukum.

Lalu mengapa saat ini seseorang dengan mudah lisannya menistakan agama?  Padahal Islam adalah agama mayoritas bahkan Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Lalu di mana kekuatan umat?

Sekuat apapun kecaman dari umat, jika rezim melindungi pelaku, maka sulit untuk membuat jera. Kalaupun pelaku diproses hukum, tetapi sulit untuk memberikan hukuman yang setimpal. Produk hukum yang sering kali hanya menjadi pasal karet. Pasal yang sering menjadi alat pukul pada lawan politik.

Menghina Allah, ayat-ayat dan Rasul-Nya, adalah penyebab kekafiran, pelakunya keluar dari agama Islam (murtad). Karena agama ini dibangun di atas prinsip mengagungkan Allah, serta mengagungkan agama dan RasulNya. Menghina salah satu di antaranya bertentangan dengan prinsip pokok ini. (Tafsir al-Karim ar-Rahman hal. 342)

Para ulama sepakat (ijma’), bahwa orang yang menghina nabi layak mendapat hukuman mati. Syaikhul Islam al-Harrani dalam kitabnya as-Sharim al-Maslul.

Abu bakr al-Farisi, salah satu ulama Syafi'iyah menyatakan, kaum muslimin sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menghina Nabiﷺ adalah dibunuh. Sebagaimana hukuman bagi orang yang menghina mukmin lainnya berupa cambuk.

Selanjutnya Syaikhul Islam menukil keterangan ulama lainnya, al-Khithabi mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya beda pendapat di kalangan kaum muslimin tentang wajibnya membunuh penghina Nabi ﷺ.”

Sebagai seorang muslim, mencintai Rasulullah adalah bagian dari keimanan, meneladaninya serta memuliakannya adalah sebuah keharusan. Lalu mengapa saat ini umat seolah tidak berdaya dalam menindak penista agama? karena ketiadaan satu kepemimpinan umat Islam. 

Muslim tidak lagi berhukum dengan agamanya  sendiri. Mereka lebih memilih hukum buatan kafir penjajah yang sudah pasti tidak akan memihak umat Islam.

Sudah saatnya kita merekatkan ukhuwah untuk meraih gelar khairu ummah. Dari berbagai bentuk penistaan yang tidak terkendali, suara umat tidak didengar penguasa. Lalu akankah umat diam sementara marwah agamanya terus diinjak-injak? Akankah selamanya umat menjadi buih di lautan? Terhempas ombak kehinaan.

Jika dulu Islam pernah berjaya dan ditakuti dunia. Menjadi mercusuar peradaban hingga Islam, menguasai lebih dari 2/3 dunia. Lalu mengapa kita tidak mau mengulangnya kembali? Merindukan seorang khalifah yang mampu menjadi perisai dan periayah umat. Bersatu dalam satu kepemimpinan dalam bingkai Khilafah. 

Menerapkan sistem Islam secara kafah. Sebuah sistem yang diatur oleh Sang Maha Pengatur. Sehingga kesejahteraan dan marwah Islam akan selalu terjaga sebagaimana dahulu pernah dicontohkan baginda Rasulullah saw. Wallahu a'lam bishshawab [MO/ip]

Posting Komentar