Oleh : Merli Ummu Khila
(Kontributor Media, Pegiat Dakwah)

Mediaoposisi.com-Langit kian pekat, seolah malam tak kunjung pagi. Derita seolah tak pernah usai, pertolongan tak kunjung datang. Perih membayangkan umat muslim Uighur harus melewati hari-hari menakutkan dalam kamp penyekapan. Terasingkan tiada bala bantuan yang mampu membebaskan.

Suku Uighur, muslim etnis Turki yang tinggal di provinsi Xinjiang China sedang ditindas oleh pemerintahan China. Satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang dalam kamp redukasi. Ditahan tanpa sebab dan kesalahan. Mereka didoktrin, disekap dan disiksa.

Penyiksaan tersebut bukanlah hoax belaka. Banyak pengakuan sejumlah mantan tahanan yang memberikan kesaksian bahwa segala bentuk doktrin dan penyiksaan benar adanya. Bahkan terdapat bukti yang menegaskan kejahatan tersebut.

Seperti dilansir oleh BBC news, 24/12019. Dokumen-dokumen pemerintah China yang bocor, yang diberi label ICIJ "The China Cables", termasuk memo sembilan halaman yang dikirim pada 2017 oleh Zhu Hailun, yang saat itu wakil sekretaris Partai Komunis Xinjiang dan pejabat keamanan top kawasan itu, kepada mereka yang menjalankan kamp-kamp.

Memo itu mencakup pesanan untuk:
"Jangan izinkan melarikan diri"
"Tingkatkan disiplin dan hukuman atas pelanggaran perilaku"
"Promosikan pertobatan dan pengakuan"

"Jadikan belajar Bahasa Mandarin sebagai prioritas utama"
"Dorong siswa untuk benar-benar mengubah"
"[Pastikan] cakupan video pengawasan penuh asrama dan ruang kelas bebas dari titik buta"

Dokumen lain mengkonfirmasi skala luar biasa dari penahanan. Satu mengungkapkan bahwa 15.000 orang dari Xinjiang selatan dikirim ke kamp selama hanya satu minggu pada 2017.

Lalu mengapa dunia seolah menutup mata?. Pemimpin negeri Islam pun bungkam tanpa kecaman. Seolah ada kekuatan maha dahsyat yang membuat lidah mereka kelu meski sekedar mengecam. Ada ketakutan yang mereka sembunyikan seolah menganggap muslim Uighur tidak mengalami apa-apa. Bahkan banyak negara justru mendukung kekejaman China tersebut.

Seperti dilansir Republika.co.id , Jenewa 16/07/2019. Arab Saudi, Rusia, dan 35 negara lain telah secara resmi menuliskan surat kepada PBB terkait kebijakan Cina di wilayah barat Xianjiang. Menurut salinan surat yang dipantau Reuters, surat tersebut mendukung kebijakan Cina yang sama sekali bertolak belakang dengan kritik Barat yang kuat terhadap Cina soal Xianjiang.

Hegemoni China atas negeri-negeri Islam disinyalir menjadikan pemimpin dunia tak berkutik. Perjanjian bilateral yang membatasi ruang gerak mereka dalam mengecam tindakan rezim China atas muslim Uighur. Bantuan dalam bentuk hutang yang digelontorkan pada sejumlah negara berkembang membuat China diatas angin.

China memang sedang memperbesar pengaruhnya di dunia terutama pada negara yang sedang berkembang  tak terkecuali Indonesia. Dengan memberikan bantuan berupa hutang  dalam  jumlah besar. Salah satu bentuk kolonialisme yang menjebak negara penghutang , dan akan menuntut konsesi jika tidak mampu melunasi.

Hal ini lah yang membuat banyak negara tak mampu bersuara mengecam kebiadaban pemerintah China atas muslim Uighur. Dan yang paling menyedihkan, China disinyalir merayu ormas Islam agar turut bungkam. Dengan memberikan bantuan uang dalam jumlah besar, China berusaha menyumpal mulut para petinggi ormas Islam.

Beginilah nasib umat Islam tanpa satu kepemimpinan. Penindasan oleh kafir penjajah atas muslim minoritas selalu terjadi di hampir setiap negara. Bercerai berai disekat negara bangsa. Bersatu pun sulit karena terhalang kebijakan setiap negara. Umat hanya mampu mengecam dalam diam. Tidak bisa bertindak karena terhalang konstitusi.

Dalam Islam nyawa seorang muslim sangat berharga. Bahkan menyakitinya pun mendapat balasan yang setimpal dalam hukum Islam. Menghilangkan nyawa tanpa hak merupakan kejahatan besar.

Allah berfirman:
“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32)

Maka, tidak akan mampu umat Islam menolong saudara seagamanya yang di tindas tanpa adanya seorang khalifah. Seorang pemimpin Islam dalam sebuah pemerintahan Islam yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Yang mampu menjadi perisai bagi umat. Seperti dahulu  berjaya menguasai dua pertiga bumi. Menjadi negara digdaya yang di takuti dunia.

Wallahu'alam bishawab.[MO/ia].

Posting Komentar