Oleh : Ibnu Anwar Al-Bimawi
(Mahasiswa)


Mediaoposisi.com-lagi, terjadi. rezim Komunis china melancarkan tindakan genoside yang kesekian kalinya terhadap suku turk muslim uyghur.

kutukan makian menjadi respon semesteran atau tahunan dilantunkan oleh ribuan umat islam tat kala menkonfirmasi ke tak berdayaannya dalam memerdekakan uyghur dari jeratan pembantaian.

negara negara islam dunia termasuk indonesia dengan populasi islam sebagai umat mayoritas tak kuasa mengerakkan bantuan fisik berupa pengiriman pasukan militer.

bantuan temporary berupa logistik mengalir deras kesana, bagaikan aliran sungai ciliwung yang meluap karna tak mampu menampung saking banyaknya antusias umat islam.

tapi bukan itu solusi ideal yang di harapkan oleh mereka, yang telah terjajah puluhan tahun, entah berapa nyawa yang meregang sebagai tumbal, mereka (Palestina, Uyghur, Kasymir, Rohingya,) butuh tetesan keringat dan darah kita.

mereka tidak butuh harta kekayaan kita, karna itu semua tidak bisa menolong mereka, tidak bisa mengeluarkan mereka dari masalah mereka.
Nasionalisme (nation state): pengkotak-kotakan kaum muslim menjadi negara-negara otonomi, dengan sutroh pembatas geografis, bahkan kebijakan politik luar negri pun dibatasi.

maka tak heran jika umat islam satu sama lain bersikap diam, walaupun letak geografisnya berdekatan sebagaimana Arab Saudi, Mesir, Palestina. pun negri kaum muslim di sekitar uyghur china diam membisu.


mana bukti bahwa umat islam adalah umatan wahidan, mana bukti umat islam adalah saudara, umat islam bagaikan satu tubuh yang akan kesakitan ketika anggota tubuh yang lain terluka.

umat islam, disebut sebagai umat terbaik yang di lahirkan di tengah manusia. itulah yang sering dikatakan oleh para mubaligh, ustadz, da'i di mimbar-mimbar khutbah, di pengajian-pengajian kita.

umat islam bagaikan anak ayam tanpa induk yang mudah di terkam oleh serigala yang kelaparan.

umat islam bagaikan buih di samudra yang luas jumlahnya banyak namun rapuh, mudah terombang ambing oleh ganasnya ombak lautan senja.

umat islam butuh perisai, butuh pelindung dari kungkungan hegemoni orang kafir dan yahudi dari segala arah, yang benci pada umat islam, dan tidak senang melihat kita senang, tidak bahagia ketika kita merasa bahagia.

pelindung itu bernama kholifah didalam institusi khilafah yang akan menghilangkan ikatan rapuh, skat nasionalisme kemudian di konversikan dalam ikatan kuat, ikatan ideologis yang menghancurkan semua skat penghalang antara semua negri kaum muslimin.[MO\ia]

Posting Komentar