Oleh : Fadillah Khairunnisa
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Uighur bergabung dalam Daulah Islam di masa Utsman bin Affan r.a, disinilah teknologi kertas pindah dari China ke negeri Muslim, sehingga dimulilah penyusunan mushaf Al-Qur’an Utsmani.

Selama 1.400 tahun Uighur, Xinjiang, menjadi negeri muslim, walaupun pernah dikuasai Mongol pada abad 13 M. Namun, komunis berbalik dan menghabisi semua symbol Islam, semua sejarah Islam di China sudah banyak yang dihapus, penderitaan ini pun dirasakan muslim Uighur sampai sekarang.

Banyak persekusi-persekusi yang dilakukan oleh China terhadap muslim Uighur, seperti melarang penggunaan nama Islam untuk bayi-bayi yang baru lahir, dan pemilik nama berbau Arab/Islam diancam tidak mendapat pekerjaan, menyita Al-Qur’an, sejadah, dan atribut-atribut yang menyimbolkan Islam. Melarang anak-anak mengikuti pelajaran agama Islam dan belajar Al-Qur’an, dan Ustadz-ustadz yang mengajarkan Al-Qur’an ditangkap.

Masjid-masjid di Uighur diubah jadi pusat propaganda, dan dihasurkan mengibarkan bendera China dan spanduk bertuliskan slogan komunisme, juga mencopot kaligrafi kalimat tauhid La Ilaha Ilallah di dinding masjid.

Para Muslimah yang memakai gamis Panjang, dipotong gamisnya di tengah jalan, dan melarang berkurudung juga bercadar. Muslimah Uyghur juga dipaksa menikah dengan lelaki kafir suku Han, dengan tujuan menghapuskan ras Uyghur.

Para komunis China memasang puluhan ribu kamera pendeteksi wajah untuk mengawasi gerak-gerik rakyat Uighur. Adapun program “Become Family” yang mengharuskan keluarga di Uighur menerima tamu dari partai komunis yang diutus untuk mendoktrin, mengawasi dan melarang ibadah di rumah rakyat Uighur.

Sekitar satu juta laki-laki Uighur dipaksa ikut ke camp “Re-Edukasi” akibat dari memelihara jenggot, dan melakukan kegiatan keagamaan, disana mereka di doktrin dengan komunisme dan patriotism China, dan dipaksa makan babi dan minul alcohol yang sudah pasti dalam Islam kedua hal tersebut termasuk hal yang haram.

Banyak sekali bukan perlakuan komunis China yang mendoktrin dan mencuci otak para kaum muslim Uighur di camp-camp mereka, banyak rakyat Uighur yang disiksa di camp-camp tersebut, dari hal ini bisa dilihat bahwa ini adalah pelanggaran HAM bukan?

Namun, apa yang dilakukan dunia ketika tahu sebenarnya ini adalah pelanggaran HAM? Apakah melindungi rakyat Uighur? Apakah mengirim pasukan untuk membebaskan rakyat Uighur?.

Hak Asasi Manusia atau HAM, bukanlah hal yang tabu lagi kita dengar, adanya pelanggaran HAM yang terjadi di beberapa titik wilayah negara yang isinya terdapat warga muslim, seperti Palestina, Rohingya, Suriah, dan bahkan Uighur. Komunis China disana jelas-jelas melakukan pelanggaran HAM dan menindas rakyat Uighur namun selalu menutupinya.

detik.news – “Sangat sulit bagi pemerintahan China untuk membantah dan mengingkari bahwa di Uighur tidak ada pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia dari umat Islam yang ada disana. Dan juga sangat sulit bagi pemerintah Amerika untuk membantah dan mengingkari bahwa mereka juga telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dari rakyat Afghanistan dan Palestina” ucap Sekjen MUI Anwar Abbas (16/12/2019).

Bisa dilihat bahwa HAM hanyalah iming-iming semata, Tak ada yang namanya HAM dimata para komunis China ini, HAM hanya berfungsi melindungi kebebasan bagi mereka, melicinkan program penjajahan di atas dunia dengan tujuan menghalangi kebangkitan Islam dan melanjutkan hegemoni mereka.

Jika, kita dan rakyat Muslim yang menderita hanya berharap pada omong kosong HAM, sungguh hanya akan menghantarkan pada kekecewaan dan penderitaan yang tak kunjung berhenti.

Lalu apa maksud dari peristiwa ini? Apakah ada hubungannya dengan Deradikalisasi yang digaung-gaung kan banyak negara?.

Rakyat Uighur yang melakukan kegiatan keagamaan di cap sebagai orang yang radikal, mulai dari memakai baju yang menjulur kebawah, berwudhu, dan sholat, ini semua kegiatan yang akan melabel kan rakyat Uighur adalah rakyat yang radikal, dan yang ujung-ujungnya akan di bawa ke camp “Re-Edukasi”, dimana disana mereka akan di cuci otaknya sebagai bentuk program “deradikalisasi”.

Deradikalisasi ini sebagai bentuk proses penghapusan Islam dari benak kaum Muslim. Tidak hanya di Indonesia terjadi deradikalisasi, namun di Uighur program deradikalisasi sudah masuk pada level advance atau level tinggi seperti yang bisa kita lihat dari banyaknya fakta yang ada.

Para komunis ini, akan terus menaikkan level deradikalisasi mereka seiring berjalannya waktu dilihat dari kuat lemahnya kaum Muslimin.

Butuh Kesadaran Umat

Uighur bukanlah satu wilayah yang diduduki kaum Muslimin yang di serang oleh komunis China dan kapitalis barat. Palestina, Suriah, dan Rohingya, juga merupakan negara yang dijajah oleh kaum komunis dan barat.

Rakyat muslim Indonesia pun secara tak sadar mendapat perlakuan deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintahnya sendiri, sehingga harusnya rakyat sadar, bahwa ini bukanlah perkara mudah, ini menyangkut nyawa para kaum Muslimin.

Dalam Surah An-Nisa:93 yang artinya, Barang siapa yang membunuh kaum Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadnya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.

Sungguh kejam apa yang sudah dilakukan oleh kaum komunis ini kepada rakyat Uighur, butuhnya adanya kesadaran umat muslim yang lain, butuh adanya pemahaman bahwa ini bukanlah hanya sekedar program deradikalisasi biasa, mereka rakyat Uighur butuh kita yang tidak terjajah oleh kaum komunis itu.

Hal kecil sekalipun, yang hanya menghapus pelajaran tentang Khilafah dan Jihad, sudah termasuk dari program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah negara, namun saying di Uighur sudah mencapai level advance atau level tertinggi dalam program deradikalisasi ini dan tidak memperdulikan Hak Asasi Manusia.

Khilafah Solusi Utama

Rakyat hanyalah sebagian kecil untuk mendukung adanya protes mengenai penjajahan yang terjadi di Uighur, Negara-negaralah yang sebenarnya sangat berpengaruhlah bagi kelangsungan suatu rakyat tersebut, jika negara bersikap bodoamat, maka habislah wilayah kaum Muslimin ini, butuh adanya Daulah untuk menaungi dan melindungi kaum Muslimin yang ditimpa oleh penjajah komunis jahat ini.

Satu negara yang bersuara tidak cukup untuk melindungi seluruh wilayah umat Muslim, maka dari itu Khilafah yangat dibutuhkan bagi mereka. Sistem pemerintahan Islam yang tidak pernah merendahkan satu nyawa umat Muslim.

Sistem pemerintahan Islam ini menaungi seluruh umat muslim bahkan wakyat yang tidak beragama Islam sekalipun, meriayah seluruh urusan umay didalamnya, dan tidak ada yang namanya pelanggaran HAM juga deradikalisme.

Seluruh umat dunia akan merasakan satu perasaan yang sama, dan dinaungi oleh satu peraturan dan pemikiran yang sama. Dan juga tidak terlepas dari system pemerintahan dan aturan Islam.

Posting Komentar