Oleh : Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)
Mediaoposisi.com- Luka yang menganga, teriakan yang seharusnya mampu menggetarkan jiwa, derai air mata di setiap harinya, melawan musuh demi mempertahankan keimanannya. Ya, mereka umat Muslim Uighur yang saat ini teriakannya mengguntur.


Aktivis Uighur mengungkapkan telah mendokumentasikan hampir 500 kamp dan penjara yang dikelola China untuk memenjarakan kelompok etnis, menuding China menahan lebih dari 1 juta orang.

Gerakan Kebangkitan Nasional Turkistan Timur, kelompok yang berbasis di Washington yang memperjuangkan kemerdekaan muslim Xinjiang, mengatakan pada Selasa pihaknya mengamati gambar dari Google Earth dan menemukan 182 yang diduga "kamp konsentrasi" yang dicantumkan oleh koordinat.
Kelompok tersebut mengatakan mencocokkan temuan mereka dengan informasi lapangan, selain itu mereka juga menemukan 209 yang diduga penjara dan 72 kamp kerja paksa, yang akan disebar kemudian.
"Dalam skala besar, temuan ini belum teridentifikasi sebelumnya, jadi kita bisa perkirakan jumlah orang yang ditahan jauh lebih besar," kata Kyle Olbert, direktur operasi untuk gerakan tersebut, dilansir dari Aljazeera, Rabu (13/11). (merdeka.com)
Faktanya, sudah sejak dari lama sekali penindasan di Uighur ini terjadi. Namun begitu naasnya,  tatkala tak ada sama sekali pembelaan serius dari para penguasa Muslim, atau pun negeri mayoritas Muslim. Seperti negeri kita ini. Bukan kah kita yang penguasa negerinya Muslim dan yang negerinya mayoritas Muslim?

Seharusnya negeri ini bersuara, membela, dan menghentikan penindasan tersebut. Begitu anehnya tatkala negeri kita ini diam membisu tanpa kata, padahal umat Muslim diluar sana sedang meronta. Begitu aneh pula tatkala penguasa Muslim asik bercengkrama ria dengan Cina, sedang umat Muslim Uighur ditindas oleh rezim Cina.

Akar Permasalahan

Diamnya para penguasa Muslim sungguh akibat diterapkannya sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme ini memanglah sistem yang dimana pemodal besarlah yang berkuasa, juga sistem kapitalisme ini pula lah yang membuahkan adanya nasionalisme atau kecintaan terhadap negaranya.

Petama, di sistem ini pemodal besar yang berkuasa. Sehingga, para penguasa Muslim yang mayoritas dari mereka adalah negara pembebek bungkam. Mereka semua takut dihentikannya modal yang dikeluarkan oleh negara penyetir seperti Cina.

Seperti fakta investasi negara penyetir tersebut yakni Cina kepada Indonesia, Cina begitu besar memberi investasi kedalam negeri ini. Dilihat dari data Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM), pada periode Januari-September 2018 realisasi investasi dari Cina menyampai angka yang sangat tinggi, yaitu USD1,8 miliar.
Kedua, adanya nasionalisme yang merupakan buah dari adanya sistem kapitalisme. Nasionalisme ini menjadikan umat Muslim lupa bahwasannya ikatan yang paling kuat hanyalah ikatan akidah. Ikatan nasionalisme ini merupakan ikatan yang lemah. Dari ikatan nasionalisme inilah tersekat-sekatnya wilayah Islam.

Sehingga para umat Muslim lupa bahwa seharusnya mereka menolong para kaum Muslim Uighur. Luka mereka adalah luka umat Muslim Indonesia pula, juga luka umat Muslim di dunia.

Sistem Islam Solusi

Adanya sistem Islam merupakan solusi yang fundamental. Umat Muslim memanglah membutuhkan pelindung, dan tidak bisa mengandalkan sistem diluar Islam sebagai pelindung. Karena, faktanya mereka acuh bukan saat ini?

Sistem Islam mampu meriayah rakyat, seperti hal nya Umar bin Khathattab tatkala menjadi seorang Khalifah. Beliau tidak membiarkan satu rakyatnya pun kelaparan, juga pada masa pemerintahan beliau rumah sakit diadakan secara gratis dan cuma-cuma.

Memanglah, pemimpin Muslim pasti mengutamakan rakyatnya. Satu rakyat saja tak boleh kelaparan, apalagi Uighur yang dimana satu komunitas penduduknya tertindas. Pastilah, apabila ada sistem Islam yang diterapkan dalam naungan Khilafah problem ini akan terselesaikan.

Maka dari itu, marilah kita sebagai umat Muslim menyuarakan diterapkannya kepemimpinan Islam. Karena hanya inilah solusi untuk berbagai problem yang terjadi di dunia saat ini. Hanya inilah solusi bagi umat yang tertindas. Wallahu alam.


Posting Komentar