Oleh: Nurbaiti Tarihoran


Mediaoposisi.com-Pada awal Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia, atau yang sering kita dengar dengan sebutan HIV/AIDS, penyakit berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian bagi siapapun yang menjadi korbannya. Hingga saat ini masyarakat dunia belum menemukan obat penawar dari penyakit berbahaya ini, bahkan cara mengatasi penularannya. 

HIV/AIDS telah menjadi momok yang menakutkan bagi siapapun. Bahkan terapi ARV (Antiretrovirals) yang diakui dunia sebagai obat yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS pun belum mampu menyembuhkan HIV secara menyeluruh.

Saat ini jumlah penderita HIV/AIDS meningkat 30% dari jumlah sebelumnya 15% (Tahun 2018). Hal ini senada dengan penuturan Kemenkes RI per tanggal 27 Agustus 2019, penderita HIV di DKI Jakarta masih terbilang banyak, yaitu 62.108 jiwa. Kemudian disusul Jawa Timur 51.990 orang, Jawa Barat 36.853 orang, Papua 34.473 orang, dan Jawa Tengah 30.257 orang.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sebuah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Dimana orang yang terkena virus ini akan sangat mudah terinveksi penyakit lainnya dan daya tahan tubuhnya pun semakin hari akan semakin lemah. Seseorang yang terinveksi HIV jika tidak mendapat penanganan yang tepat akan berakibat fatal, karena dalam jangka waktu 5-10 tahun HIV akan berkembang menjadi penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Pada tahun 1978 virus ini ditemukan di San Fransisco, Amerika Serikat pada para pelaku homo seksual. Sedangkan di Indonesia HIV/AIDS pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1981. Para turis datang ke Indonesia dengan membawa virus ini dan menularkannya lewat hubungan seksual, atau dalam bahasa medis sering disebut Penyakit Menular Seksual (PMS).

Pergaulan bebas yang marak terjadi di sekeliling kita, memberikan peluang besar penyebaran penyakit mematikan ini. Selain itu paham Liberalisme di negeri ini semakin memperlebar pintu masuk penyebaran HIV/AIDS. Mulai dari usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak kecil yang tidak berdosa pun terbawa arus Liberalisme. 

Dari penuturan yang disampaikan Kepala Seksi Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Widyawati penderita penyakit ini justru dialami anak-anak, ibu rumah tangga remaja bahkan tenaga kesehatan yang menangani pasien HIV/AIDS.

Penderita HIV/AIDS (ODHA) di kota Jakarta sendiri didominasi oleh para lelaki penyuka sesama jenis alias Homo Seksual, ibu rumah tangga, perempuan pekerja seks, waria dan pria pekerja seks. Penyimpangan kelainan seks lelaki penyuka sesama jenis ini memicu peningkatan penularan HIV/AIDS, karena mereka tidak hanya berhubungan dengan sesama jenis tetapi juga dengan istri mereka.

Hal inilah yang mengakibatkan tingginya penderita HIV/AIDS yang dialami ibu rumah tangga. Perilaku homoseksual, berzina, gonta-ganti pasangan seks dan lainnya  menjadi pemicu awal penularan virus berbahaya ini. Semua itu adalah buah pemikiran barat akibat dari Liberalisme yang ada dalam sistem Demokrasi. 

Budaya ini telah menjadi kebiasaan dan trend di negara-negara besar, seperti Amerika, Inggris, Irlandia dan Negara-negara yang menjadi pengikut dan budak-budak pengusung Demokrasi. Tak terkecuali di negeri ini, segala macam bentuk budaya, kebiasaan dan tingkah laku orang-orang barat maupun Yahudi satu persatu sudah mulai merasuki sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia.

Pergaulan bebas, Free sex, pacaran, aborsi serta narkoba dikalangan remaja ABG/millenial, pelajar maupun mahasiswa sudah tak bisa dibendung lagi. Istilah Bucin (Budak Cinta), bahkan sudah menjangkit hingga ke anak-anak SD. Semua ini adalah dampak dari Liberalisme yang merajai negeri ini. 

Masih jelas dalam ingatan kita beberapa bulan yang lalu, salah satu petinggi negeri ini bahkan dengan terang-terangan mendukung LGBT. Padahal sudah jelas sekali, LGBT salah satu pintu masuk penyakit mematikan ini.

Pemerintah dan masyarakat dunia telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi  penularan HIV/AIDS guna mengurangi jumlah penderitanya, namun semuanya gagal. Misalnya saja, saat pemerintah mencanangkan program Kondomisasi yang ternyata gagal menekan kasus HIV/AIDS. Kenyataannya yang kita lihat justru semenjak adanya kondomisasi, penderita HIV/AIDS semakin meningkat. 

Para pelaku zina pun semakin merebak dikalangan pelajar, maupun mahasiswa dan masyarakat umum lainnya. Upaya pencegahan penularan HIV/AIDS juga terus gencar dilakukan, LSM-LSM telah banyak yang memberikan edukasi kepada mereka-mereka yang rentan terkena HIV/AIDS. Seperti penyuluhan pada para pelaku seks aktif, seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). 

Pengetahuan tentang HIV/AIDS pun telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Misalnya dikemas dalam materi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan disosialisasikan ke sekolah-sekolahNamun sayang, materi penyuluhan tentang HIV/AIDS untuk masyarakat umum maupun pelajar itu minus muatan moral dan agama. 

Bahkan faktor moral dan agama sengaja dihilangkan dan sama sekali tabu dibicarakan, karena menurut mereka HIV/AIDS sekadar fakta medis yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan moral dan agama.

Kebebasan yang diagung-agungkan menjadi sumber masalah yang terjadi di negeri ini. Maka tidak salah jika Rasulullah SAW menegaskan dalam hadistnya yang berbunyi “Tidaklah nampak Zina di suatu kaum, sehingga dilakukan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka Tha’un(wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah ada obatnya dan tidak pernah dialami oleh umat-umat sebelumnya”

Begitu jelasnya Rasulullah menyampaikan, bahwa akan ada penyakit yang tidak akan ada obatnya akibat dari perbuatan Zina tersebut. Semakin jelas terlihat bahwa akar masalah dari penyakit menular ini adalah perilaku Zina yang merajalela di kalangan masyarakat. 

Ditambah lagi dengan tidak adanya sanksi yang bisa menghentikan para pelaku Zina dan penyimpangan lainnya. Seharusnya, pemerintah memberikan sanksi kepada para pelaku Zina yang dapat membuat dan memberi efek jera kepada para pelaku Zina. Dalam Islam para pelaku Zina dan sejenisnya akan dikenakan sanksi atau hukuman, seperti yang telah tercantum dalam firman ALLAH 


“ Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambuk” (QS. An-Nur: 2). Hukuman atau sanksi ini berlaku bagi yang belum menikah (ghair muhshan), dan bagi yang telah menikah (muhshan), maka Islam memberlakukan sanksi rajam (dilempari batu) hingga mati.

Hukuman atau sanksi ini bukan hanya diberikan kepada pelaku zina, dengan rajam bagi yang muhshan, atau dicambuk 100 kali bagi ghair muhshan, tetapi semua bentuk pelanggaran yang bisa mengantarkan pada perbuatan zina. Dalam hal ini, Islam menetapkan sanksi dalam bentuk ta’zir, yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada hakim. 

Dengan cara seperti itu, maka seluruh pintu perzinaan benar-benar telah ditutup rapat-rapat oleh Islam. Inilah yang seharusnya dilakukan pemerintah dalam mengatasi dan menuntaskan akar masalah dari virus yang mematikan ini.

Dengan menerapkan seluruh ketentuan dan hukum ini, masyarakat akan terbebas dari perilaku seks yang tidak sehat. Tidak hanya itu, prilaku seks yang menjadi sumber penyakit AIDS pun benar-benar telah ditutup rapat. Jika pelaku zina muhshan di-rajam sampai mati, maka salah satu sumber penyebaran penyakit AIDS ini pun dengan sendirinya bisa dihilangkan. 

Bukan dengan sosialisasi penggunaan kondom ataupun dengan menertibkan lokalisasi pelacuran. Itu semua tidak akan mengurangi jumlah ODHA di negeri ini.Sedangkan bagi mereka yang tertular penyakit AIDS yang bukan pelaku zina, seperti ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang heteroseksual, atau anak-anak balita, dan orang lain yang tertular melalui jarum suntik dan sebagainya.

Maka negara wajib menyediakan layanan kesehatan nomor satu bagi penderita penyakit ini. Mulai dari perawatan, obat-obatan hingga layanan pengobatan. Karena itu merupakan masalah kesehatan yang menjadi hak masyarakat., Selain itu seorang Khalifah juga akan meneliti dengan serius untuk menemukan obat yang bisa menanggulangi virus HIV/AIDS, untuk itu maka para penderitanya bisa dikarantina. 

Dalam karantina itu, mereka tidak hanya dirawat secara medis, tetapi juga non medis, khususnya dalam aspek psikologis. Penderita AIDS tentu akan mengalami tekanan psikologis yang luar biasa, selain beban penyakit yang dideritanya, juga pandangan masyarakat terhadapnya. Dalam hal ini, ditanamkan kepada mereka sikap ridha (menerima) kepada qadha’, sabar dan tawakal. 

Dengan terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka agar lebih terpacu melakukan amal untuk menyongsong kehidupan berikutnya yang lebih baik.

Semua solusi dan pemecahan ini hanya akan terwujud jika negeri ini menerapkan hukum-hukum Islam, bukan hukum selainnya. Selama sistem Demokrasi masih menjadi pedoman, Liberalisme dan HAM dijadikan tameng dalam menentukan setiap peraturan dan tindakan, maka yang terlihat adalah kehancuran, kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela. Hal ini sesuai dengan apa yang ALLAH sampaikan 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. ALLAH menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”. (QS. Ar-Rum: 41)

Berbeda halnya jika yang diterapkan adalah sistem Islam, maka keberkahanlah yang akan kita lihat. Seperti yang tercantum dalam firman ALLAH “Dan sekiranya penduduk negeri ini beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96) 

Dengan demikian Islam telah berhasil mengatasi masalah HIV/AIDS ini hingga ke akar-akarnya. Semuanya itu tentu hanya bisa diwujudkan, jika ada Negara Khilafah yang bukan saja secara ekonomi mampu menjamin seluruh biaya kesehatan rakyatnya, tetapi juga mampu mengatasi akar masalah ini dengan pondasi akidah Islam yang luar biasa. Wallahua’lam bi ash-shawab.[MO/ia]
              




Posting Komentar