Oleh: Mustika Lestari

(Pemerhati Remaja)

Mediaoposisi.com-Kebangkitan Islam saat ini, bagi rezim kalangan nasionalis radikal dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Abuse of power dilakukan sebagai bentuk ketakutan mereka. Ibarat api, sebelum api muncul dari baranya maka bara itu harus segera dipadamkam dengan cara apapun. 

Mereka berusaha menghancurkan kekuatan Islam dengan berbagai cara, simpul-simpul kekuatan umat disasar satu demi satu. Mulai dari ulama dipersekusi, Al-Qur’an dilecehkan, bendera tauhid dibakar hingga ajaran Islam direvisi bak skripsi. Itulah fenomena hukum di negeri ini.

Seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten Khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs dan MI.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar menjelaskan yang dihilangkan bukan hanya materi Khilafah dan perang, tetapi setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan.

Menurutnya, perang memang bagian dari sejarah kehidupan Rasul, tapi Rasul tidak hanya berperang saja. “Justru yang akan kita ungkap banyak nanti aspek kehidupan Rasul yang menjaga perdamaian yang madani,” ujarnya.

Dia menambahkan, semua buku-buku ajar di MI, MTs dan MA berorientasi pada penguatan karakter, ideologi Pancasila dan anti korupsi. Paling utama mengajarkan Islam wasathiyyah (http://m.republika.co.id, 7/12/2019).

Islam Moderat, Amputasi Ajaran Islam

Sekularisme semakin menancapkan taringnya di negeri ini. Bagimana tidak, upaya menghilangkan ajaran Islam dari benak umat manusia semakin digencarkan. Salah satunya wacana penghapusan beberapa ajaran Islam dari kurikulum. Beberapa waktu terakhir, ajaran Khilafah dan jihad paling menjadi sorotan. Sungguh naif, agama dijadikan kambing hitam untuk stigma negatif intoleran, radikalisme dan perpecahan oleh mereka yang anti syariat.

Berita terbaru, Dirjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama (Kemenag), Komaruddin Amin mengatakan saat ini program bahan ajar dan pelajaran di Madrasah dan pondok pesantren sudah berjalan baik. Dalam upaya menjaga masuknya paham ekstrem, Kemenag merevisi kurikulum pendidikan agama. Kemenag tengah menggodok buku moderasi beragama untuk madrasah, pesantren hingga sekolah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sebelumnya, Menag Fachrul Razi meminta agar Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam untuk bersinergi dalam mengawal penguatan moderasi beragama di madrasah dan perguruan tinggi keagamaan Islam. Dari sini, Kemenag mengharapkan agar para guru yang telah dilatih dapat mengaplikasikan moderasi beragama terhadap peserta didiknya. Tujuannya untuk memastikan tidak ada peserta didik atau mahasiswa yang terpapar paham ekstrem atau radikal.

Menanggapi hal ini, berdasarkan salinan surat yang diterima CNNIndonesia.com disebutkan bahwa Kemenag melakukan revisi terhadap kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI-KD) untuk mendukung moderasi beragama serta pencegahan paham radikalisme disatuan pendidikan madrasah. Surat tersebut juga mengatur penarikan materi ujian di madrasah yang mencantumkan konten Khilafah dan jihad.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Komaruddin Amin mengonfirmasi surat edaran tersebut. Dia menjelaskan Kemenag tidak menghapus konten ajaran Khilafah dan jihad, melainkan diperbaiki. Komaruddin berkata materi Khilafah dan jihad tidak dihapus karena merupakan bagian dari sejarah Islam. Namun, perlu ada penyesuaian mengikuti perkembnangan zaman. 

Tindakan Kemenag menghapus Khilafah dan jihad dari materi ajar agama adalah bentuk nyata Islamofobia. Ketakutan terhadap Islam yang tidak berdasar ini bahkan telah sampai pada taraf akut, sehingga mengidentikkan ajaran Islam ini sebagai pemecah-belah dan intoleran. 

Padahal Khilafah pernah menjadi institusi global dan secara empiris pernah mempersatukan 2/3 belahan dunia. Begitupula jihad yang senantiasa membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia, selain kepada Allah SWT. Ironisnya, kini ajaran tersebut diidentikkan dengan radikal, tindakan kekerasan dan intoleransi.

Radikalisme sendiri merupakan proyek besar rezim saat ini yang terus digulirkan untuk menghadang arus besar perjuangan penegakan sistem Islam. Melarang mempelajari dan mengajarkan Khilafah, mempersekusi ulama yang gigih memperjuangkan tegaknya Khilafah, memecat ASN yang menyebarkan paham Khilafah yang terlibat dalam organisasi yang mengusung Khilafah serta tuduhan lain  mengidentikkan Islam berpaham radikalisme yang lekat dengan kekerasan.

Selain itu, konteks perang digoreng sedemikian rupa sehingga terkesan menganut kekerasan. Dikatakan bahwa pendidikan agama yang menceritakan perang-perang yang dilakukan Rasulullah SAW seperti Perang Badar, Perang Uhud dan sebagainya itulah yang menyebabkan siswa menjadi radikal. Sebab, ayat-ayat perang sering disalah artikan oleh beberapa pihak. Karenanya porsi materi tentang sejarah perang (jihad) dikurangi.

Dirjen Pendis Prof. Komaruddin menyampaikan terkait materi Khilafah dan jihad akan diberikan perspektif yang lebih produktif dan konstektual. Nanti akan disampaikan bahwa Khilafah itu tidak cocok lagi untuk konteks Indonesia. Beliau menegaskan, Khilafah dan jihad tidak dihapuskan, hanya akan dihapuskan dari pelajaran fikih dan akan dipindahkan ke pelajaran sejarah Islam. Jadi, sejarah dan perspektifnya akan lebih produktif dan kontekstual.

Perlu diketahui, kafir Barat melalui antek-anteknya dari kalangan penguasa, pengusaha maupun tokoh masyarakat yang mau dibayar murah terus mengobarkan perang pemikiran dan kebijakan untuk menjauhkan benak umat dan keyakinannya dari pemahaman Khilafah sebagai ajaran Islam yang agung. 

Mereka tidak ingin negara Khilafah ini tegak, sebab jika ini benar-benar terjadi niscaya kafir Barat akan kembali menjadi bangsa yang hina sebagaimana mereka menghinakan umat Islam hari ini. Saat ini, Barat tidak menginginkan umat Islam kembali mengkaji khazanah Islamnya. 

Upaya menjegal hukum Islam dan mengkerdilkan maknanya pun akan terus dilakukan dengan cara mengutak-atik kurikulum pendidikan, menghapus materi Khilafah dan jihad dari kurikulum madrasah. Semua itu di lakukan atas dasar program perang melawan radikalisme yaitu kepada Islam.

Radikalisme ini sebagai senjata yang diciptakan musuh Islam untuk mencerai-beraikan umat Islam sehingga benar-benar bercerai. Oleh karena itu, usulan tersebut harus diwaspadai karena ini salah satu celah sekularisme untuk menghancurkan ajaran Islam yang sesungguhya. 

Dari sini muncul opini Islam wasathiyyah (Islam moderat) dan Islam radikal (Islam Fundamentalis). Barat memposisikan umat Islam yang menerima ide-ide mereka berasaskan sekularisme seperti sistem politik demokrasi, sistem sosial hedonis sebagai kelompok Islam moderat, sedangkan kelompok yang gigih memperjuangkan Islam Kaffah sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW dilabeli Islam radikal atau fundamentalis.

Kelompok Islam radikal ini dijadikan sebagai sasaran war on terorism pasca tragedi di WTC 911. Jika ada kelompok yang mendakwahkan Islam Kaffah dan diformalisasi dalam bentuk negara, maka itulah teroris dan harus dimusuhi bersama. Sementara, kelompok Islam moderat akan senantiasa disupport oleh Barat.

Sebab kelompok ini memang didesign untuk menghancurkan Islam dari dalam dengan berbagai cara, terutama dengan mengamputasi ajaran-ajaran Islam, menolak ajaran Islam yang diambil secara keseluruhan. Menurut mereka, Islam itu cukup nilai-nilainya saja, terutama harus sesuai dengan keadaan zaman. Sangat disayangkan, ada umat Islam bahkan kalangan intelektualnya mau membebek kepada Program Barat.

Padahal, ajaran Islam terlebih sejarah perjuangan Rasulullah SAW adalah contoh nyata kehidupan agung yang harus menjadi inspirasi dan pedoman bagi kehidupan bagi kehidupan seorang Muslim.

Apabila sejarah kehidupan Rasulullah SAW sebagai ajaran Islam ini ditutupi, berarti telah mengerdilkan sebagian ajaran Islam yang sempurna. 

Apalagi memberi makna baru padanya (Khilafah dan jihad) sesuai kehendak agar sejalan dengan moderasi, maka sama halnya mengarahkan umat pada ajaran Islam yang keliru lagi menyesatkan. Maka, jangan sampai sejarah pemerintahan dan perang beliau dalam pendidikan Islam saat ini dicederai hanya karena kepentingan sepihak (proyek deradikalisasi).

Kurikulum Pendidikan dalam Islam


Tentang Islam, ia bukan sekedar agama. Lebih dari itu, Islam adalah pandangan hidup yang apabila diterapkan keseluruhan ajarannya. Seperti halnya dalam pendidikan, pendidikan Islam menggunakan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam yaitu menghasilkan manusia yang memiliki pola pikir yang Islami sehingga berperilaku sesuai ajaran Islam. 

Kurikulum disusun agar semua tujuan pendidikan berupa penguasaan tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan dapat terwujud melalui materi ajar, metode dan sarana pengajaran yang benar.

Salah satu materi pengajarannya yang wajib adalah penanaman tsaqofah Islam, baik melalui akidah, fikih, akhlak, sejarah dan lain sebagainya. Penyampaian tsaqofah Islam haruslah memberikan gambaran Islam secara utuh sehingga membentuk pribadi yang utuh. 

Maka, sungguh sangat tidak masuk akal jika para siswa dijauhkan dari beberapa ajaran Islam termasuk sejarah kehidupan nabi SAW yang mulia dan penuh hikmah, termasuk sejarah perang beliau. Seharusnya kita berupaya membumikan shiroh Nabi SAW dalam seluruh kehidupan kita agar menciptakan generasi yang mampu memajukan negeri ini.

Islam memerintahkan agar negara melayani kebutuhan warga negaranya, termasuk pendidikan. Negara wajib hadir dengan menerapkan sistem pendidikan Islam. Kewajiban ini tentu tidak dapat diabaikan hanya karena kepentingan sepihak yang sering bersinggungan dengan kepentingan umat Islam.

Tentu, inilah tugas bersama umat Islam berjuang dalam merealisasikan seluruh ajaran Islam, bukan malah mereduksi ajaran Islam. Dari sinilah urgensi perjuangan penegakan Khilafah Islam, sebab hanya dalam naungan sistem ini ajaran Islam diterapkan secara Kaffah. Wallahu a’lam bi shawwab.[MO\ia].






Posting Komentar