Penulis : Baiq Dwi Suci Anggraini, S.Psi
 (Pengajar Sekolah Anak Tangguh Mataram)


Mediaoposisi.com-Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) membahas isu krisis kemanusiaan serta perdamaian dunia untuk Myanmar dan Palestina pada forum KTT ke-35 ASEAN di Thailand dalam pertemuannya dengan PBB beberapa waktu lalu. (sumber: detik.com, 3/11/2019). 


Jokowi menitikberatkan pada kedua isu tersebut, sehingga lebih dalam menyampaikan kesiapan Indonesia untuk berkontribusi bagi upaya penyelesaian masalah di Myanmar dan Palestina saat ini. Fakta tersebut menunjukkan mulai adanya keseriusan pemerintah Indonesia sebagai pemimpin negeri muslim, terhadap kondisi negeri muslim lainnya yang “sedang tertawan.” 


Dengan demikian patut kita apresiasi bahwa setidaknya Presiden negeri muslim semisal Indonesia pun, masih mengingat dan memperhatikan keterpurukan yang terjadi di Palestina khususnya.


Namun sangat disayangkan, perhatian pemerintah dari waktu ke waktu hanya terhenti pada tataran diplomasi atau negosiasi, tanpa menganalisa lebih serius solusi mengakar yang dibutuhkan Palestina, bahkan seluruh negeri muslim yang saat ini tengah berkonflik. Untuk itulah kehadiran perasaan keimanan seorang muslim awalnya harus dihadirkan terlebih dahulu, agar lebih mudah memandang krisis puluhan tahun yang menimpa Palestina ternyata bukan saja persoalan antar Negara. 


Tidak selesai pada proses kecaman dan upaya mengutuk kebiadaban Israel, akan tetapi ada fakta sejarah yang seharusnya bisa dicermati lebih mendalam. Bahwa, meledaknya penyerangan fisik yang terjadi di Gaza lebih khusus, murni disebabkan adanya sentimen agama antara Yahudi kepada Islam yang akhirnya berdampak pada obsesi mereka secara berlebihan untuk menguasai total tanah Palestina.


Memahami akar sejarah persoalan Palestina terutama, tidak bisa dilihat melalui kasus-kasus kecil yang muncul belakangan. Pasalnya, hak kemerdekaan rakyat Palestina secara resmi sudah diketokpalu oleh PBB dan diakui hampir semua elemen keanggotaan dunia. 

Namun di lapangan, pergulatan emosi dan ambisi elit Yahudi Israel yang mengatasnamakan politik di balik gencatan senjata, rupanya masih akan terus menjadi titik sentral penyebab timbulnya kegilaan mereka untuk menguasai tanah Palestina secara menyeluruh. Dengan demikian upaya Israel di bawah komando Presiden Benyamin Netanyahu, agaknya tetap membara sampai keseluruhan tanah Palestina berhasil mereka caplok dan akhirnya muslim Palestina akan terusir dari negeri mereka sendiri. 

Kenyataan pahit inilah yang pantasnya mulai lebih serius untuk dipikirkan, diobservasi, diutamakan dan dikawal bersama oleh seluruh kelompok muslim dunia agar Palestina tidak terjajah dan kian lama terlempar dari negerinya.


Kita sudah mengetahui dengan sangat sempurna, bahwa Gaza merupakan basis konflik hari ini yang kondisinya selalu dalam keadaan terpuruk. Palestina sebagai pusat Ibu kota tak kalah pelik, keadaan negeri kaum muslimin tersebut tengah di ujung penderitaannya. 

Ditambah lagi dengan serangan Israel yang bertubi-tubi menghancurkan fasilitas publik hingga tempat tinggal pribadi milik rakyat yang notabene muslim. Dan kita sepakat, Gaza masih akan terus mengalami konflik gencatan senjata yang menyebabkan pertumpahan darah setiap waktu.

Selanjutnya, konflik berkepanjangan yang terjadi di negeri itu bukan persoalan hangat yang menjadi bahan editorial media setiap ada serangan baru. Melainkan sudah menjadi konsumsi umum di tengah masyarakat dunia, bahwa Gaza tidak pernah sepi dari pemberitaan yang habis dibicarakan lalu disimpan, diputar terus-menerus kemudian ditutup rapat. Persis siaran ulang, sejenak orang bersimpati dan berempati pada kaum muslimin di Palestina. 

Sedangkan di lain waktu, mereka bisa dengan mudah melupakan lagi penderitaan warga Gaza. Beruntungnya, kondisi panas dingin di Palestina pada umumnya tidak pernah seratus persen hilang dari ingatan masyarakat Indonesia. Bahkan spirit pembelaan umat islam di seantero Indonesia misalkan, tak kalah ikut mendorong dukungan yang mampu menggelorakan semangat negeri muslim lainnya. 

Ibarat pemantik, Indonesia banyak sekali memberikan sumbangsih fisik dan menampakkan dukungan moriil bagi keseluruhan masyarakat Palestina. Kepedulian negeri muslim terbesar di Asia ini, meninggalkan kesan istimewa tersendiri bagi umat islam di Palestina.

Sayangnya, wujud kepedulian mereka itu belum memberikan efek jangka panjang untuk melepaskan belenggu yang menjerat muslim Palestina hari ini. Jeratan yang tak kunjung berakhir, seolah menimbulkan kesan bahwa selamanya Gaza terpenjara dalam tawanan Negara-Negara sekutu di sekelilingnya. Padahal warga Gaza pun tidak hanya sedang menantikan uluran tangan berupa kebutuhan domestik, sandang pangan papan. 

Di luar daripada itu, masyarakat Palestina justru lebih memahami bahwa kemerdekaan yang mutlak akan mereka dapatkan hanya ketika kaum muslimin di seluruh belahan dunia bersedia berjihad mengusir secara telak Israel dari bumi para Nabi.

Maka persoalan Gaza ataupun Palestina lebih luasnya, bukan mengarah pada polemik antar kelompok atau problem politik Timur Tengah saja. Dalam hal ini, persatuan umat islam sangat diperlukan sebagai bentuk kedaruratan yang wajib segera diimplementasikan. Lebih lanjut, tanpa persatuan kaum muslimin maka mustahil permasalahan yang menimpa Gaza akan selesai hanya dengan diplomasi berulang-ulang. 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami persoalan inti penyebab meletusnya penyerangan terhadap muslim Gaza yang tak pernah berakhir.

Dengan demikian kita akan lebih seksama menarik benang merah sebagai solusi tuntas untuk menghentikan kejahatan perang Israel terhadap Palestina. Artinya, persoalan entitas antar golongan bahkan yang menyangkut keimanan tidak bisa diselesaikan hanya dengan upaya damai. 

Dengan kata lain, kedigdayaan pasukan Israel yang tidak begitu besar jumlahnya hanya mampu dipukul mundur dengan sebuah kekuatan besar yang mengerahkan pasukan bersenjata lengkapnya juga untuk mengusir habis Israel dari Palestina. Untuk itu, tentunya saat ini Palestina sedang membutuhkan pasukan jihad kaum muslimin yang bergerak atas dasar kekuatan akidah dan ukhuwah (persaudaraan) karna Allah.

Sekat-sekat nasionalisme tidak lagi boleh menjadi pembatas tajam yang menghalangi negeri-negeri Arab untuk bergerak melawan tirani Israel, oleh karenanya kaum muslimin di seluruh belahan dunia wajib mutlak melepaskan diri dari belenggu kebangsaan yang memisahkan batas kepedulian terhadap muslim Palestina. 

Hal ini berarti bahwa tidak boleh ada jurang pembatas antara Palestina dengan Indonesia sekalipun, kecuali mereka diikatkan dengan keimanan yang lurus kepada agama yang satu, Islam. Untuk itulah sangat urgen menghadirkan sebuah kepemimpinan tunggal di tengah kaum muslimin sebagai perisai yang terbukti mampu membebaskan Palestina dari kearoganan Israel. 

Sebab fakta sejarah mencatat dengan gemilang, bahwa hanya Khilafah sebagai institusi Islam tertinggilah yang sanggup menggerakkan kaum muslimin di bawah komando pemimpin (Khalifah).


Menuju ke sana, perlu diketahui bahwa pasukan jihadis Taliban di Afghanistan pun sedang mempersiapkan kebebasan untuk Palestina. Namun tanpa kekuatan politik, kesempurnaan perjuangan umat islam yang berlomba datang ke Palestina seterusnya akan menjadi olok-olokan Israel dan tiraninya. Fakta sejarah menggambarkan bahwa Israel tidak bergeming dengan kehadiran sekelompok jihadis Hamas ataupun Fatah yang lahir dan tumbuh untuk membela kepentingan muslim Palestina. 

Artinya, saat ini Palestina amat sangat membutuhkan sumbangsih kekuatan jihad terbesar yang dikomandoi oleh seluruh kaum muslimin terbaik di penjuru dunia.


Kalkulasi kekuatan militer kaum muslimin di seluruh negeri muslim sangatlah besar apabila dibandingkan dengan kecilnya angka militer Israel dan Amerika yang berada di belakangnya sebagai penyokong. Dalam hal ini, keadidayaan Amerika sebagai entitas politik yang diakui sebagai polisi dunia mampu mendampingi Israel dalam satu misi ras, etnis, dan keyakinan terhadap agama yang serupa. Dalam artian bahwa kaum muslimin pun sepantasnya memberikan lawan yang sebanding, vis a vis. Dibutuhkan kekuatan militer dan adidaya politik super tunggal yang mendukung perjuangan umat islam untuk mengeluarkan Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya dari cengkeraman asing dan aseng.
            Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa ketiadaan super system yang dimiliki Islam saat ini membenarkan munculnya penindasan berkepanjangan terhadap umat islam. Maka hanya dengan menghadirkan kepemimpinan Islam saja, bala tentara Israel yang kecil tersebut akan bersedia menyerah kalah oleh kekuatan militer dan politik Islam. 

Berikutnya, Khilafah Islam sebagai mercusuar politik yang akan melaksanakan peranannya memayungi seluruh negeri muslim dari kejahatan negeri lain. Wallaahu’alam bisshowab.[MO/ia]

Posting Komentar