Oleh : Rizkya Amaroddini
(Jurnalis Media Oposisi)

Part 1

Mediaoposisi.com-  Sudah lama tak berjumpa dengan pembaca, kini perjumpaan kita di pertemukan dengan derita uighur. Uighur menjadi sorotan  dunia dalam segala pembahasan. Berawal dari beredarnya dokumen rahasia Pemerintahan China tentang bagaimana Beijing menjalankan kamp penahanan massal yang menahan etnik minoritas Muslim.


Dokumen-dokumen itu mengacu pada laporan New York Times yang di bocorkan oleh seorang anggota partai politik China. Menurut laporan New York Times yang terbit Sabtu (16/11), mengutip dokumen tersebut, Xi menyerukan, “Perjuangan habis-habisan melawan terorisme, infiltrasi, dan separatism menggunakan organ kediktaktoran”, sambil menegaskan “Sama sekali tidak ada ampun”.

Ada seorang wanita bernama Asiye Abdulaheb (46) yang tinggal di Belanda mengakui dalam membantu mempublikasikan dokumen rahasia China. Abdulaheb menjelaskan bahwa selama ini hidup dalam ketakutan setelah dia dan mantan suaminya mendapat ancaman pembunuhan dan dihubungi para pejabat keamanan China saat para jurnalis bersiap melaporkan dokumen itu.

Dilansir dari Internasional.sindonews menuturkan bahwa Abdulaheb dalam wawancara telepon mengkui terlibat rilis dokumen 24 halaman yang dipublikasikan di berbagai media Barat bulan lalu. Dia juga mengatakan terkait peran yang dilakukan sekarang untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari pembalasan pemerinah China.

Surat kabar dari Belanda, De Volkskrant pertama kali melaporkan peran Abdulaheb dalam penyebaran dokumen itu. Keluarga itu terdiri dari mantan suaminya Jasur Abibula, seorang putri umur 6 tahun dan seorang putra umur 8 tahun.

Adulaheb mengaku pejabat China mengatakan kepada Abibula bahwa mereka ingin mengetahui siapa yang memberikan dokumen rahasia itu. Abdulaheb menyatakan bahwa ada seseorang yang mengiriminya dokumen 24 halaman itu secara elektronik pada Juni. “Saat saya mendapat dokumen itu dan melihatnya, saya menyimpulkan ini sangat penting. Saya pikir hal terbaik untuk dilakukan adalah mempublikasikannya,” papar dia.

Setelah Abdulaheb mengunggah foto dokumen di Twitter. Peneliti Jerman tentang Xinjiang Adrian Zenz dan pakar lain menghubunginya. Kemudian mereka dikenalkan dengan para Jurnalis. The Times menjadi bagian dari ICIJ (International Consortium of Investigative Journalists) yang melaporkan dokumen kedua tentang Xinjiang di seluruh dunia.

Dokumen itu muncul sepekan setelah The Times merilis laporan berdasarkan dokumen 403 halaman lainnya yang terfokus pada asal dan meluasnya tekanan pada Uighur di Xinjiang. [MO/ra] 

Posting Komentar