Oleh : Halimah Tunnisa
(Aktivis Muslimah Kaffah Rantauprapat)



Mediaoposisi.com-Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian kejadian yang mengarah ke penistaan Agama baik dari pemuka politik maupun publik figur, bukan hanya itu saja bahkan melalui aplikasi game pun digunakan untuk memperburuk agama Islam. Seakan akan tak habisnya mereka  menghinakan agama islam. Tidak hanya di negeri kita tercinta Indonesia namun juga belakangan ini ada pendeta yang bersal dari luar negeri yang menghinakan islam.

Penghinaan yang dilontarkan bukan hanya sekedar satu bahagian saja namun mencakup pada bagian terpenting dari ajaran agama islam itu sendiri. Seakan-akan mereka bebas melontarkan apa pun sesuka hati mereka terhadap islam tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Kebencian demi kebencian mulai sangat tampak mereka tunjukan baik itu agama Islam nya maupun ajaran ajaran yang dibawa oleh Islam. 

Mulai dari penghinaan terhadap Rasulullah SAW sampai wajibnya Khilafah pun mereka tentang dan hinakan. Tidak hanya terkait pada penghinaan Rasulullah dan Khilafah namun juga tata cara sholat dalam islam.

Seperti berita yang dikutip dari CNN Indonesia | Sabtu, 16/11/2019 17:12 WIB “Sukmawati menjelaskan video itu merekam momen ketika ia sedang berbicara di forum anak muda yang mengusung tema “Membangkitkan Nasionalisme, Menangkal Radikalisme, dan Memberantas Terorisme. Dalam ceramah itu, Sukmawati juga membahas soal perekrutan teroris.

Sukmawati mengatakan berdasarkan informasi yang ia terima, ada kelompok teroris melempar sejumlah pertanyaan saat proses perekrutan. "Ada pertanyaan mereka adalah mana lebih bagus antara Alquran atau Pancasila. Saya hanya menceritakan kembali bahwa saya dapat informasi itu," ucap Sukmawati”.

Dalam pidato yang dilontarkan oleh Ibu Sukmawati seakan akan membandingkan peran Nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno yang notabene adalah pahlawan Plakmator bagi negara Indonesia. Namun yang menjadi pusat permasalaan adalah orang yang diperbandingan tersebut tidak seharusnya diperbandingkan, karena dilihat dari waktu dan masa perjuangan kedua belah pihak yang jauh berbeda tersebut. 

Tidak sekedar memperbandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno saja namun juga memperbandingkan Pancasila dengan Al-Qur’an yang mana pun tak seharusnya diperbandingkan. Karena sudah pasti Al-Qur’an jauh lebih sempurna dibandingkan yang lain lainnya. Pun dilihat lagi Pancasila itu sendiri diambil dari inti sari Al-Qur’an itu sendiri. 

Jika kita kilas ulang bahwa ibu Sukmawati bukan kali pertama menjukkan ketidak sukaannya terhada ajaran Islam, di tahun 2018 juga pernah membandingkan yang tidak seharusnya juga harus diperbandikan, yaitu atribut kebudayaan dengan syariat islam yang ada dalam Islam. Jelas pada saat itu umat Islam menunjukkan kemarahannya terhadap pernyataan Ibu Sukmawati.

Lain lagi tentang game yang juga tidak lama ini menunjukkan penginaan terhadap agama Islam yang ditunjukkan melalui aplikasi game Remi yang biasa digunakan oleh kalangan Pria dan Pemuda ini memicu kemarahan umat Islam. Seperti yang dilansir dari VIVA News, Senin,11/11/19|14:20 WIB, 

“Permainan yang diduga diproduksi oleh Developer Paragisoft itu dinilai menistakan agama. Di dalam game terdapat pilihan menu yang tidak pantas dengan menghina islam dan Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Tentu kami mengecam keras adanya aplikasi game tersebut,” ujar ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten Garut, Sirojun Munir, Senin,11 November 2019.

Menjadi bahan olokan bahkan alat untuk menakuti orang lain sudah sangat sering sekali kita lihat dan perdengarkan baik di media pertelevian maupun media sosial. Seolah olah menunjukan apapun ajaran maupun simbol yang menjadi bahagian dari agama Islam adalah sebuah ketakutan yang harus dihilangkan dari lingkup negara. 


Ketakutan ini menunjukan polemik yang luar biasa dampaknya , karena bukan hanya Non Muslim saja yang menjadi target mereka untuk merasa takut terhadap simbol-simbol tersebut, namun juga umat muslim  pun menjadi terpengaruh dan bahkan membenci simbol-simbol agamanya sendiri. Tak habis cara mereka menjadikan simbol dan ajaran islam sebagai umpan untuk menjatuhkan agama Islam dan orang orang yang membela agama islam itu sendiri. 

Hukum yang diberikan oleh negara pun tak setimpal dengan penghinaan yang dilakukan oleh oknum, bahkan  Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin malah meminta umat Islam agar memaafkan Ibu Sukmawati atas tindakan nya yang membandingkan peran Nabi Muhammad Dengan Ir. Soekarno.

Ketika islam tak lagi dijadikan titik utama pemecahan persoalan hidup, saat Al Qur’an tak lagi dijadikan sebagai aturan dalam hidup, maka mereka yang tak minginginkan Islam berjaya akan mencari bagaimana cara agar umat Muslim jauh dari Islam itu sendiri. 

Timbullah asas pemisahan agama dari kehidupan, penghilangan pengaturan hidup dari keseharian umatnya (baca: sekulerisme) maka kemudian muncullah penghinaan demi penghinaan, penistaan demi penistaan, penodaan dan bahkan menjadikan islam sebagai ketakutan yang luar biasa yang harus dihilangkan dari pikiran umat dan dunia.

Inilah bukti bahwa kehancuran demi kehancuran akan terjadi tatkala umat islam menjauhkan agama dari dirinya sendiri, tak menjadikan islam sebagai mabda (ideologi), tak menjadikan aturan dalam kehidupan, menentang ajaran demi ajaran yang dibawa oleh Islam. 

Yang pada akhirnya maraknya islamophobia baik dari kalangan non-Muslim maupun umat muslim itu sendiri. Tak ada lagi ketakutan bagi mereka untuk mengolok-olok Islam, menghinakan islam, menodai serta menistakan ajaran islam. Mereka mulai menunjukkan kebencian mereka terhadap agama islam secara terang terangan.

Hanya dengan tegaknya Islam lah yang dapat  menyelesaikan persoalan yang ada pada saat ini. Dengan tegaknya Khilafah islam akan terjaga dengan baik. Hukuman bagi penista akan ditegakkan seadil-adilnya, tak akan ada lagi mulut atau tangan tangan nakal manusia untuk menghinakan Agama Islam. 

Tidak ada sistem yang lebih baik penjagaannya selain dari pada Islam. Tidak ada aturan yang lebih tegas selain islam. Hanya Islam satu satunya dan tak ada yang dapat menandinginya.[MO/ia]

Posting Komentar