Oleh : Fadillah Khairunnisa
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Beberapa hari yang lalu terjadi penyerangan yang dialami oleh PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul ‘Ulama) Solo. Penyerangan yang menyebaban bentrokan ini terjadi di depan kantor PCNU Solo pada hari Jum’at sore (6/12), dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Awal mula terjadi kejadian ini, pada saat puluhan massa ormas islam dari Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) dan Forum Umat Islam Surakarta (FUIS) pulang menggelar aksi unjuk rasa agar KH. Ahmad Muwafiq di proses hukum dalam kasus tentang ceramahnya -yang menceritakan masa kecil Nabi Muhammad SAW yang rembes dan tidak diurus dengan baik oleh kakek Nabi Muhammad, kasus ini pun termasuk menghina Nabi Muhammad SAW dan penistaan agama- di Polresta Surakarta. Setelah melakukan aksi unjuk rasa, para massa ormas islam ini pulang melewati kantor PCNU.

Pada saat para massa DSKS sampai di kantor PCNU, pada saat itu pula terjadi adu mulut antara massa DSKS dengan massa yang tengah berjaga-jaga di depan kantor PCNU. Adu mulut itupun berubah menjadi bentrok yang saling lempar batu dan kayu, bentrokan ini hanya berlangsung sebentar, setelah anggota Brimob dan dan Dalmas Polresta Surakarta tiba di lokasi dan langsung membubarkan massa. “Saya lihat massa ormas islam datang mengendarai sepeda motor lewat di kantor PCNU. Kedua massa dari NU dan ormas islam langsung terlibat bentrok lempar-lemparan batu dan kayu,” Wawan(48) saksi mata kepada kumparan. -popnesia.com

CNNindonesia.com – Massa DSKS dan Banser NU terlibat saling lempar batu di depan Kantor PCNU Solo. Namun Kapolresta Surakarta AKBP Andy Rifai menyebut yang terjadi saat itu hanya adu mulut antara dua kelompok tersebut. Andy menuturkan setelah kurang lebih satu jam berunjuk rasa, sekitar 30-50 orang massa DSKS memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang itu mereka melintas di depan kantor PCNU Solo. “Kebetulan disitu juga ada kegiatan dari PCNU, di situ ada Banser ada beberapa orang, kemudian di situ terjadi adu mulut,” ujar Andy.

Adapun cerita versi PCNU Solo, bentrok dipicu oleh massa DSKS dan FUIS membunyikan suara motor mereka dengan keras di depan kantor PCNU Solo, aksi tersebut menyebabkan Pagar Nusa dan Banser keluar dari kantor PCNU Solo. “Kita memang rekan-rekan di NU, Pagar Nusa dan Banser sudah bersiaga di Kantor PCNU. 

Mereka DSKS dan FUIS usai demo di polresta Surakarta melintasi kantor PCNU,” kata Ketua PCNU Wonogiri, Mubarok yang ikut berjaga sejak siang di kantor PCNU Solo. Pihak DSKS pun angkat bicara kalua kejadian itu bukan karena DSKS, Humas DSKS, Endro Sudarsono mengatakan ada massa yang ikut demo terkait kasus penistaan agama yang melibatkan Gus Muwafiq di Polresta Surakarta, kemudian aksi unjuk rasa membubarkan diri, “Ya kalau ada aksi bentrok itu bukan dari DSKS. Saya tidak tahu, sebelumnya sudah diimbau agar pulang tidak lewat dekat Kantor PCNU Solo karena sudah ada Gerakan massa banyak di situ,” kata Endro.

Banyak yang merekam kejadian ini, video-video mengenai bentrok ini pun menyebar dimana-mana, seperti video yang ada di akun Youtube Garuda Terbang, dengan judul “Masa HTI Serang Kantor PCNU Surakarta Solo”, video yang berdurasi 2 menit 13 detik ini memperlihatkan kejadian bentrok antara dua kelompok itu, namun berdasarkan judul, pemilik video itu seakan memberi tahu kalau yang bentrok adalah antara Banser NU dan HTI. 

Tidak hanya itu, video yang diunggah akun Youtube Ahmad Zazuli, juga menggugah video kejadian bentrok itu dengan judul “Heboh masa HTI Solo Bentrok dengan warga di Solo”, kedua video ini sama-sama menge-cap HTI sebagai ormas Islam yang bentrok dengan Banser NU, padalah kenyataannya tidak seperti itu, fitnah ini mulai tersebar semenjak kedua video ini beredar di media sosial.

Terjadinya Fitnah

Adanya berita fitnah ini pun di konfirmasi dan di klarifikasi oleh akun Youtube Dakwah Solo, dimana pembicaranya adalah Ustadz Faishol HS, seorang Tokoh dan Ulama Soloraya, Beliau mengatakan “Kami mengetahui benar karakteristik dakwah yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia, HTI dalam melakukan dakwah senantiasa berpijak dalam 4 hal. 

Pertama, Syar’iyah, yaitu selalu dalam koridor Syariah Islam, kedua, Siyasiyah, dalam ranah politik, yang ketiga Fikriyah, itu dalam ranah pemikiran, dan yang keempat, La Madiyah, tidak menggunakan kekerasan. 

Menanggapi video yang beredar di Youtube atau di sosmed bahwa massa Hizbut Tahrir menyerang kantor PCNU di Surakarta, video tersebut benar-benar HOAX dan FITNAH yang keji, karena antara judul dengan isi, tidak ada kesesuaian sama sekali…”. Ustadz Faishol juga menghimbau agar akun tersebut segera di hapus jika dalam 1x24 jam video itu tidak dihapus, maka akan menempuh jalur hukum.

HTI jelas tidak ada ikut campur dalam urusan bentrok yang terjadi di PCNU Solo, bahkan kita dapat melihat jelas selama ini HTI tidak pernah bergerak dengan kekerasan, HTI merupakan partai politik Islam yang berdakwah mengikuti metode dakwah Rasulullah SAW. 

Melalui akun Youtube Fokus Khilafah Channel, Ulama sekaligus Juru Bicara HTI, Ustadz Ismail Yusanto mengatakan bahwa berita dan video yang menyangkut Hizbut Tahrir Indonesia adalah tidak benar, dan HTI sangat menyayangkan peristiwa itu terjadi, dan Beliau menghimbau agar kabar fitnah tersebut tidak terus dikembangkan, karena fitnah itu termasuk perbuatan yang keji. 

“Sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara, mungkin saja ada kesalah pahaman dan emosi, tetapi itu tidak boleh memecah persaudaraan kita…” kata Ustadz Ismail Yusanto menanggapi peristiwa yang terjadi.

Hizbut Tahrir Indonesia

HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia, sebuah partai politik Islam yang berstruktur dan memiliki metode dakwah sesuai hukum syara’ yang Nabi Muhammad contohkan. Juru bicara HTI, Ustadz Ismail Yusanto mengatakan pada Mei lalu, bahwa saat ini HTI sudah ada di 34 Provinsi dan 300 di kabupaten/kota. Meski, Badan Hukum HTI telah dicabut oleh pemerintah, namun dakwah dan adanya kajian-kajian yang masih dilakukan, menjadi Ruh dari HTI ini tetap hidup. 

Berdasarkan Sirah Rasulullah SAW, HTI menetapkan 3 metode perjalanan dakwahnya, yaitu pertama, Tahapan Pembinaan (Marhalah A Tatsqif), kedua, Tahapan Berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa’ul Ma’al Al Ummah), dan yang ketiga, Tahapan Penerimaan Kekuasaan (Marhalah Istilaam Al Hukm).

“Kami melakukan dakwah memang digarap secara segmented. Ada yang katakanlah kalangan ulama, itu ada, itu sesuatu yang harus semestinya, Kemudian di kalangan remaja, Kalangan kampus. Kalangan pengusaha, Kalangan Intelektual,” Juru Bicara HTI, Ustadz Ismail Yusanto. Orang-orang yang bergabung dengan HTI akan terus berdakwah Bersama HTI, yang kegiatan dakwahnya dilakukan di masjid-masjid, pesantren, perkantoran, bahkan pabrik sekali pun. 

Dan mengapa HTI dapat diterima di masyarakat sekarang?, yakni karena umat Islam merindukan Islam yang sebenarnya serta materi dakwah yang disampaikan tidak menyimpang. Hizbut Tahrir akan terus berdakwah meskipun tanpa Badan Hukum sekalipun, dan tidak pernah terdengar sebelumnya HTI berdakwah dengan cara kekerasan, apalagi sampai bentrok dengan ormas Islam lainnya. 

Posting Komentar