Oleh : Zulfa Rasyida
(Mahasiswa, Penulis, Pengemban Dakwah)

Mediaoposisi.com- Istilah radikalisme tentu tak lagi asing di telinga masyarakat. Tiap harinya selalu digaungkan dan digencarkan pasukan serta individu-individu pelawan radikalisme.

Radikalisme ini sebenarnya muncul dari peristiwa munculnya teroris pertama yakni peristiwa 11 November 2001. Gedung yang terbuat dari baja kokoh ditabrak oleh sebuah pesawat tempur menjadi hancur lebur.

War of terrorism, adalah istilah pertama yang digunakan oleh dunia untuk menyebut aksi teror seperti bom bunuh diri dan lain sebagainya. Istilah ini terus digemborkan untuk menyudutkan kaum muslimin, dengan ciri khas seorang muslim pada setiap tersangka bom bunuh diri dengan mudah mereka merusak citra kaum muslimin.

Sayangnya kata terorisme untuk menjatuhkan kaum muslim tak bertahan lama. Selalu ada aksi atau tersangka kasus bom atau lainnya yang lebih kejam dan keras dari terorisme itu sendiri. Pelakunya bukan orang-orang muslim.

Selain bukti fisik yang ditemukan bukan lagi dari kaum muslim, serta berbagai macam media yang menyuarakan kelembutan dan kedamaian Islam, istilah terorisme ini semakin redup.

Redupnya kata teroris tak membuat Barat kehilangan akal. Satu kata yang akhirnya mereka temukan untuk kembali menyudutkan kaum muslimin adalah kata "Radikalisme".

Pada tahun 1933, Bung Karno, presiden Indonesia pertama, menulis risalah mencapai Indonesia merdeka harus ada partai pelopor yang memiliki obor. Obor yang paling kuat adalah obor radikalisme dinamis, yakni yang akan membongkar bangunan kapitalis dan liberalis.

Dalam konteks yang disampaikan oleh Bung Karno tersebut, radikalisme bermakna positif. Akan tetapi kenapa hari ini malah menjadi negatif?

Radikalisme hari ini bukan lagi ditujukan pada mereka yang radikal dinamis untuk menentang kezaliman. Radikalisme hari ini dialamatkan kepada individu atau kelompok yang pemikirannya terlalu Islam, bahkan hingga menginginkan Khilafah.

Klasifikasi Islam yang diutarakan Run Corporation dalam bukunya Civil Democracy Islam, umat Islam dibagi menjadi empat, yakni sekularis, tradisionalis, modernis, dan fundamentalis. Kelompok tradisionalis dan modernis dirangkul untuk memerangi fundamentalis.

Hal ini terjadi karena kelompok Islam fundamentalis ini dianggap membahayakan kepentingan kelompok tertentu dalam pengaruhnya di dunia. Tentu saja pengaruh para kapitalis yang ingin menguasai dunia terutama mencari keuntungan sebanyak-banyaknya demi mengenyangkan perut buncit mereka.

Mengapa Islam yang menjadi objeknya?

Seperti yang telah penulis paparkan diatas, istilah War of Terrorism tidak efektif digunakan sehingga diganti War of Radicalism karena selain Islam banyak yang melakukan kekerasan dalam terorisme.

Begitupun dengan radikalisme, banyak kelompok selain Islam yang sebenarnya radikal. Seperti Organisasi Papua Merdeka dan semacamnya. Mereka yang mengancam untuk memisahkan diri dari negara Indonesia justru dibiarkan bebas berkeliaran bahkan tak dipedulikan dan tak pernah disebut radikalisme, cukup dengan sebutan kelompok keras bersenjata (KKB).

Hal ini adalah kelanjutan dari preposisi Barat untuk menghalangi Islam bangkit. Mereka tahu bahwasanya Aqidah, Syari'ah, dan Khilafah, adalah spirit bagi Islam untuk kembali bangkit di muka bumi.

Sehubungan dengan radikalisme ini, tentu tak lagi asing di telinga kita salah satu bahkan mungkin satu-satunya organisasi yang menyuarakan Khilafah. Ya, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Organisasi yang BHP nya telah dicabut karena dianggap membahayakan keutuhan bangsa Indonesia ini semakin viral dan terkenal dengan cap radikalisme. Mungkin lebih tepatnya Islam fundamentalis yang harus dibasmi karena membahayakan kepentingan kelompok tertentu.

Setelah ramai menyuarakan Syari'ah dan Khilafah sebagai ajaran Islam. Sempat beredar berita mengenai masa HTI serang kantor PCNU Surakarta, Solo. Benarkah demikian?

"Sempat beredar di media sosial bahwa Hizbut Tahrir Indonesia terlibat dalam penyerangan Kantor PCNU Solo. Melalui media ini, saya ingin menegaskan bahwa berita itu sama sekali tidak benar", ucap Jubir HTI Ustadz Muhammad Ismail Yusanto dalam video berdurasi satu menit tiga belas detik, di channel youtube Fokus Khilafah Channel.

Hizbut Tahrir Indonesia tidak terkait dengan peristwa itu dan sungguh menyayangkan peristiwa itu terjadi. HTI juga menghimbau agar fitnah itu tidak dikembangkan, karena fitnah tersebut sangat keji.
HTI berharap, konflik yang sempat muncul segera diredakan dan didamaikan, karena setiap muslim itu bersaudara, tidak boleh ada perpecahan di tengah kaum muslimin, dan tak ada sedikitpun kebaikan di dalamnya.

"Tetap jaga tali ukhuwah", pungkas beliau.

Jelas sekali bahwa HTI bukanlah pelaku dari penyerangan tersebut, hal ini juga dapat dibuktikan dengan berbagai aksi yang telah HTI lakukan bahkan pada tahun-tahun lampau. Aksi yang damai dan lancar tak pernah sedikitpun merusak fasilitas umum apalagi melukai manusia terutama sesama muslim.

Bakhan hingga rumputpun dihimbau untuk jangan sampai terinjak karena termasuk makhluk Allah SWT. Bagaimana mungkin masa HTI ada yang melakukan penyerangan terhadap saudara semuslim dari organisasi lainnya.

Tak dapat lagi kita elakkan bahwasanya HTI bukanlah kelompok yang membahayakan bagi negeri, sebab Khilafah yang mereka suarakan adalah ajaran Islam dalam bentuk sistem pemerintahan yang akan menyatukan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.

Khilafah akan menghilangkan sekat-sekat pembatas, teritorial, kebangsaan, dan kotak-kotak yang memisahkan kaum muslim selama hampir 100 tahun ini. Bersatunya kembali umat Islam adalah awal kembalinya peradaban kaum muslimin yang bangkit dan menjadi kaum terbaik, peradaban yang penuh kegemilangan.

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur : 55). Wallahua'lamu bi ash-shawab.

Posting Komentar