Oleh: Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)


Mediaoposisi.com- Pembelaan kepada saudara Muslim Uigur pagi hari ini oleh umat Muslim Yogyakarta di Masjid Syuhada hingga Longmarch menuju titik nol Yogyakarta begitu menggetarkan hati. Semangat juang membela harga diri umat Muslim begitu terlihat dari kesungguhan mata mereka, juga teriakan yang seolah melangit sampai sisi Ilahi.



Laki-laki dan perempuan begitu tertibnya terpisah, meski gemuruh amarah serta semangat membela agama terpatri dalam benaknya, namun syariat Islam masih menjadi hal yang senantiasa di utamakan para mujahid dan mujahidah yang hadir.


Pembelaan terhadap Muslim Uighur pagi tadi, yakni “Aksi Peduli Muslim Uighur” tim Media Oposisi mewawancarai seorang bapak bernama Syarif, yang notabene beliau adalah pelajar S3 di Cina. Beliau sangat setuju dengan adanya aksi peduli tersebut.

“Saya sendiri adalah salah satu yang pernah tinggal lama di Cina 4 tahun gitu, jadi saya tahu sendiri keadaan bagaimana situasi politik di Cina yang memang pada masa-masa seperti ini sangat represif.” ucap beliau.

Selain penjelasan perihal bagaimana rezim Cina menghadapi situasi ini, beliau juga menjelaskan bagaimana penyebaran umat Muslim Uighur di Cina juga keinginan Muslim Uighur untuk merdeka.

“Kalau istilah merdeka yang dimaksud mereka (umat Muslim Uighur) itu merdeka untuk menjalankan kebebasan beragama. Karena disana solat dilarang, puasa dilarang, baca al-qur’an dilarang. Jadi tentu itu adalah hak asasi penduduk Uighur untuk merdeka.”

Jadi sudah jelas, kondisi yang menimpa Uighur saat ini memang sungguh bukan karena rasa tau apa pun. Namun, karena penduduk Uighur mayoritas beragama Islam. Jadi sudah jelas bukan? Yang ingin mereka hancurkan bukanlah manusianya, namun agamanya yakni Islam.

Sehingga, para kaum Muslim Uighur yang enggan melepas agamanya, mereka akan senantiasa di siksa, ditindas, bahkan sudah tidak dimanusiakan seperti halnya manusia. Miris bukan? Begitu naasnya kondisi ini.

Tetapi, lihatlah bagaimana fakta hari ini, para penguasa Muslim bungkam, mereka diam tanpa suara seolah tak terjadi apa-apa pada umat Muslim di negara luarnya. Maka dari itu,  adanya aksi peduli terhadap Uighur ini merupakan bentuk kepeduliaan umat, dan kesadaran umat bahwa umat Muslim memanglah satu tubuh.

Kita merasakan lukanya bukan? Tatkala umat Muslim Uighur ditindas tanpa ampun. Jika hati kita tak bergetar maka coba cek kembali keimanan kita.

Umat Muslim Butuh Pelindung

Sudah jelas, diamnya para penguasa Muslim memanglah akibat dari diterapkannya sistem kapitalisme yang berbuah nasionalisme. Sehingga ikatan akidah tidak lagi menjadi ikatan yang utama. Ikatan nasionalisme ini memanglah ikatan yang lahir dari sistem yang bukan berasal dari Pencipta, sehingga efeknya adalah keterpurukan, dan ketidaksejahteraan yang terjadi. Terutama terhadap umat Muslim.

Sungguh, umat benar-benar butuh pelindung. Selayaknya Rosulullah yang pada saat itu membela kehormatan seorang wanita tatkala dilecehkan oleh bangsa Yahudi. Umat Muslim saat ini pun ingin pembelaan dari seoarang pemimpin, pemimpin yang mengutamakan kemaslahatan umat, bukan pemimpin yang rakus terhadap nikmat dunia.

Tidak ada pemimpin yang mampu memaslahatkan umat Muslim dan melindungi mereka. Selain, Khalifah yang merupakan pemimpin Islam, adanya Khalifah hanya bisa apabila ada intitusi yang menerapkan hukum Islam. Yaitu Kekhilafahan.

Dengan adanya Khilafah yang dipimpin Khalifah, sungguh umat Muslim akan senantiasa dibela, segala problematika umat pun akan tuntas. Karena, Khilafah adalah intitusi Ilahi, institusi yang menerapkan al-qur’an dan sunnah.

Adanya aksi peduli Uighur ini, menandakan kepedulian umat dan kesadaran umat. Kita sebagai umat Muslim yang peduli pula, harus juga menyuarakan diterapkannya hukum Islam. Agar problematika bisa tuntas secara fundamental. Wallahu alam

Posting Komentar