Oleh: Mochamad Efendi
(Pengamat el-Harokah Research Center)


Mediaoposisi.com- 155 buku agama akan dirombak oleh menteri agama karena kontennya bermasalah, tidak sesuai dengan keinginan penguasa rezim. Salah satu konten bermasalah adalah tentang khilafah. 

Jika khilafah adalah ajaran Islam, harusnya tidak masalah diajarkan pada pelajaran agama Islam. Kita tidak boleh memilih hanya ajaran yang disukai saja. Dalam Islam, kita diajari untuk berislam secara kaffah dan itu adalah perintah Allah.

Islam adalah ajaran sempurna yang tidak mungkin bermasalah bahkan jika diterapkan secara kaffah akan membentuk tatanan masyarakat ideal yang Islami. 

Lalu siapa yang bermasalah? Tentunya pemikiran manusia yang lemah dan banyak keterbatasannya sering bermasalah oleh karena itu kita butuh aturan ideal dari yang menciptakan manusia agar segala permasalahan bisa diselesaikan dengan benar, tepat dan tuntas.  

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan kebijakan perombakan materi buku pelajaran agama Islam yang mengandung konten bermasalah, termasuk khilafah sudah dilakukan sejak periode Menag terdahulu. Namun dia tak menyebut siapa Menag sebelumnya yang ia maksud. 

"(Saya) belum secara teknis, tapi kelompok kerja sudah disusun dan sudah mulai bekerja sebelum saya masuk," kata Fachrul saat ditemui usai menghadiri Indonesia Sharia Economic Festival di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/11). (http://kumbanews.com/155-buku-agama-sd-hingga-sma-dirombak-kemenag-termasuk-soal-khilafah/)

Harusnya Islam diajarkan apa adanya utuh tanpa harus dikurangi maupun ditambah. Jika ada yang tidak sesuai dengan pemikiran kita, pasti ada yang salah bukan pada ajaran Islam tapi pada pemikiran manusia yang lemah yang terkadang tidak mampu melihat kebenaran. 

Kita harus menerima apapun yang berasal dari ajaran Islam jika dalilnya kuat bersumber dari hukum Islam, meskipun hati kita tidak sepakat. Itulah bukti keimanan kita.

Bukan khilafah yang bermasalah tapi isu radikalisme yang merupakan agenda barat yang bermasalah. Kebencian terhadap Islam dan phobia akan tegaknya Khilafah membuat barat menghembuskan isu radikalisme. Deredikalisasi adalah bukan produk Indonesia dan pasti tidak tepat jika diterapkan di negeri yang mayoritas Muslim.

Radikalisme bermasalah karena menghembuskan benih-benih kebencian pada umat Islam. Diakui atau tidak bahwa radikalisme telah membangun framing buruk terhadap Islam. Yang mengibarkan bendera tauhid diinvestigasi dan dikriminalkan. Khilafah dianggap ajaran radikal. 

Cadar dan celana cingkrang dilarang dan dianggap menyebarkan benih-benih radikalisme. Bahkan seorang anak SD kelas 5 yang mengatur dirinya dengan sistem pergaulan Islam dianggap memiliki virus-virus jahat yang akan tumbuh menjadi benih redikalisme.

Fakta menunjukkan semua yang berbau Islam kaffah dan militansi terhadap keyakinan dianggap radikalisme. Padahal, seorang Muslim harus memiliki keyakinan kuat pada agamanya, Islam agar tidak mudah dipengaruhi dan diwarnai oleh kebiasaan buruk yang merusak generasi.

Seorang muslim yang bangga dengan agamanya jangan dituduh menyimpan benih radikalisme. Jangan kaitkan militansi  dalam beragama dengan aksi teror yang merusak. Dalam Islam perbuatan terorisme sangat dikutuk keras. Jika muslim punya kayakinan kuat terhadap agamanya, dia tidak akan melakukan tindakan terorisme.

Tapi umat Islam jangan selalu dipojokan dan dianggap menyebarkan radikalisme. Radikalime bisa muncul karena rezim yang burbuat dzalim. Perlakuan tidak adil pada umat bisa menjadi penyebab aksi teror yang merusak.

Ajaran Islam tidak bermasalah. Pihak yang selalu berfikir buruk terhadap Islam yang bermasalah. Mereka yang membenci Islam yang menyebarkan virus radikalisme yang bisa memicu tindakan kekerasan. Jadi siapa sebenarnya yang bermasalah?


Posting Komentar