Oleh : Novia Darwati 
(Lingkar Studi Perempuan Dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Nadiem Makarim, nama yang tiba-tiba trending di negeri +62. Bukan untuk pertama kalinya Nadiem menjadi salah satu key-word yang banyak dicari oleh para peselancar di dumay (dunia maya). 

Sebelumnya, pada tahun 2010 namanya sempat melambung karena telah membuka stratup baru di Indonesia, yakni Gojek. Menggenggam dunia transportasi lewat aplikasi, sebuah terobosan baru di kalangan generasi millenial yang membuat tercengang para pengusaha yang masih terbiasa dengan gaya bisnis “lama”. 

Siapa sangka penguasa dunia layanan transportasi masa kini bukanlah seorang yang bergelut di bidang permesinan atau pertransportasian, melainkan yang suka berada di depan alat elektronik dan bermain-main dengan sosial media. Sebuah pemikiran yang out of the box.

Tidak kalah “nyeleneh” seperti Pak Nadiem yang menguasai dunia transportasi melalui aplikasi, presiden Joko Widodo juga setelah sukses mengagetkan publik dengan pemilihan calon wakil presidennya yang penuh drama, kini kembali membuat rakyat terheran-heran dengan pemilihan menteri-menterinya. 

Di antara para menteri baru yang sukses menuai pro-kontra atas pengangkatannya, nama Nadiem Makarim turut berada dalam jajaran tersebut.

Sosial media pun seperti biasa, ramai membicarakannya. Berbagai macam arah perbincangan netizen menyeruak. Setidaknya ada tiga topik besar yang menjadi tema utama yang dibahas kalangan netizen. 

Yang pertama, percakapan senda gurau ranah pendidikan yang akan dimodel layaknya Gojek. Memberi bintang untuk guru yang selesai mengajar, misalnya. 

Percakapan gurauan semacam ini sah-sah saja, karena rakyat Indonesia mungkin juga sudah lelah melihat panggung drama politik. Bolehlah sekali dua kali bersenda gurau asal tidak mencukupkan diri sampai disana.

Yang kedua, profil Nadiem Makarim, mulai dari agama, orangtua, istri, Gojek pro LGBT, dll. Ini obrolan kasta yang lebih tinggi setelah gurauan tadi, karena memikirkan mau diarahkan kemana pendidikan anak-anak nanti? Pro LGBT? Pro Pluralisme? Liberal tingkat dewa? Ngeri memikirkannya. 

Yang ketiga, ini bukanlah obrolan yang memiliki kasta lebih tinggi dari nomor dua, namun nampaknya hal ini yang butuh  dikritisi lebih dalam, yakni terkait masa depan pendidikan Indonesia yang berambisi serius dalam mencapai kesuksesan penerapan RI 4.0. 

Mengapa demikian?
Bukan tanpa alasan Presiden Jokowi memilihnya menjadi menteri pendidikan yang notabene dunia pendidikan tidak ada hubungannya sama sekali dengan latar belakang kehidupan maupun prestasi Nadiem Makarim. Nadiem Makarim, seorang bos startup unicorn (saat ini sudah mencapai level decacorn) berhasil mencuri hati Pak Presiden. 

Setidaknya ada 3 hal yang pernah disampaikan oleh presiden sebagai alasan dipilihnya Bos Gojek menjadi menteri pendidikan. Presiden merasa butuh Menteri Pendidikan yang memiliki keahlian manajerial, menguasai teknologi, serta mampu memberi terobosan untuk mewujudkan SDM handal.

Terkait teknologi, tidak ada yang ragu dengan kemampuannya. Untuk keahlian manajerial dan mewujudkan SDM handal, Pak Nadiem dinilai telah mampu dalam dua hal ini karena sudah merintis Gojek sejak awal hingga menjadi salah satu unicorn di Indonesia serta membuka lapangan pekerjaan yang banyak bagi penduduk Indonesia melalui kerjasamanya dengan para mitra Gojek.

Pak Jokowi berharap dengan ditunjuknya bos Gojek akan mampu mengantarkan Indonesia sukses mengawal RI 4.0. Dalam debat capres-cawapres, Pak Jokowi mempromosikan arah pandang unicorn di Indonesia ke depannya yang telah mantap digagas dan sudah mulai digarap sebagiannya oleh pemerintahan masa itu.

Salah satu yang disebutkan Pak Jokowi adalah terkait potensi munculnya unicorn di Indonesia. Dalam debat tersebut, beliau menyampaikan bahwa di Asia terdapat 7 startup level unicorn, dan 4 di antaranya ada di Indonesia. 

Empat unicorn yang dimaksud adalah traveloka, bukalapak, tokopedia, dan Gojek. Beliau menargetkan ke depan akan muncul 1000 startup baru yang akan di link kan dengan inkubator-inkubator di global agar bisa ada akses untuk dikembangkan di negara-negara lain. Ini untuk mendukung berlangsungnya RI 4.0 di Indonesia.

Tongkat Estafet Suksesi RI 4.0 di Tangan Nadiem Makarim

Mungkin akan muncul pertanyaan di benak masyarakat, jika targetnya adalah memunculkan 1000 startup baru, mengapa Pak Nadiem tidak menjadi Menkominfo saja?

Ada beberapa tahapan yang butuh dilalui Indonesia untuk mencapai kesuksesan RI 4.0. Tahapan awal telah digarap oleh para menteri di periode sebelumnya. Misal, Menkominfo Rudiantara saat menjabat telah menggarap proyek infrastruktur Palapa Ring. 

Dimana proyek tersebut fungsinya adalah  menyiapkan Indonesia bagian Barat-Tengah dan Timur untuk memiliki akses sinyal (akses internet) berkekuatan tinggi. Internet masuk kampung, internet masuk hingga wilayah pelosok. Sedangkan sekarang saatnya berfokus pada SDM yang akan menjalankannya.

Sebagaimana yang diketahui bersama, formasi pendidikan menengah di Indonesia adalah SMK jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan SMA. Pada pemerintahan yang telah lalu, formasinya dibuat demikian untuk mendukung terciptanya lebih banyak SDM yang siap pakai untuk kerja. Namun saat ini tantangan dunia semakin meningkat, melalui RI 4.0 manusia dituntut paham tentang dunia IT bahkan untuk kelas pekerja. 

Sebagaimana yang diberitakan di media, Jokowi meminta Mendikbud Nadiem siapkan SDM siap kerja. Disinilah tugas utama Nadiem Makarim. Maka tidak heran, jika Dikti yang awalnya bergabung dengan menristek, kini kembali berada di bawah menteri pendidikan. Sebab sasaran RI 4.0 salah satunya adalah civitas akademika perguruan tinggi.    

Bahaya RI 4.0
Seperti biasa, para kapitalis memang hebat dalam ber-bunglon-isasi. Wajahnya selalu disulap hingga tak nampak aslinya. Hobinya menawarkan racun berbalut madu. Jika didengarkan dari pemaparan Pak Jokowi tentang target 1000 startup dan hubungannya dengan masa depan Indonesia, begitu indahnya impian itu. 

Apalagi Bos Gojek yang pernah didatangi Mellinda Gates (istri Bill Gates) ini yang mengawalnya. Andai startup adalah sebuah barang dagangan, maka mendikbud Nadiem Makarim lah endorsenya. Seorang pengusaha muda millenial pendiri startup Gojek hingga mampu membawanya menuju kelas decacorn.

Sayangnya, fakta startup tak jauh beda dengan UKM. Memulai bisnis startup hingga level unicorn bukanlah hal mudah. Startup kecil memang bisa membuka peluang kerja, namun disini jugalah salah satu letak kesalahannya. Membuka lapangan pekerjaan bukanlah tugas rakyat, melainkan tugas pemerintah. 

Dengan munculnya banyak startup, hanya mengulang kesalahan masa lalu, yakni pemerintah lepas tangan dari kewajibannya memberi peluang kerja yang luas bagi rakyatnya. Bisnis startup sukses hingga menjadi unicorn adalah hal yang sulit. Sebagaimana bisnis UKM yang dicita-citakan akan mampu menandingi produk-produk dengan merk-merk besar yang sudah terkenal, itu hanya fatamorgana.

Di sisi lain, jika dari kebijakan ini akhirnya muncul millenial yang berhasil sampai sekelas Nadiem Makarim, justru berkemungkinan akan melancarkan investasi asing dan terserapnya tenaga ahli asing. Sebab di Indonesia tenaga ahli terbatas, dan lagi startup yang mau sampai level unicron syaratnya adalah dengan mendapatkan banyak kucuran dana dari investor. 

Timbal balik yang bisa dimanfaatkan investor setidaknya ada 3 hal, penguasaan data tentang masyarakat, produk impor dari mereka, dan mendapatkan teknologi terkini dengan cara mudah-murah untuk memenangkan pertarungan bisnis. Yang mikir inovasi teknologinya adalah anak bangsa, yang duduk manis sambil kipas-kipas menikmati hasilnya adalah mereka.

Dominasi asing akan nampak di sini. Belum lagi ditambah gaya khas RI 4.0 untuk skala Perguruan Tinggi adalah memperbanyak penelitian yang penelitian tersebut wajib dikomersilkan sebagaimana yang telah diucapkan oleh Menristekdikti periode sebelumnya.

Untuk penelitiannya, pendidikan RI 4.0 akan menekankan pada riset pengembangan kecerdasan buatan, internet of things, dll. Apakah semua orang mampu melakukannya? Tentu tidak. Dan jika kecerdasan buatan benar-benar sukses, justru semakin banyak menggerus lapangan kerja bagi masyarakat. 

Pabrik-pabrik tidak akan perlu banyak karyawan. Cukup satu karyawan siap kerja yang paham IT dan bisa mengendalikan mesin dari jarak jauh untuk memantau mesin bekerja dengan baik.  

Orientasi Pendidikan Dalam Islam

Dibandingkan mengurusi RI 4.0, Indonesia memiliki PR besar dalam dunia pendidikan, yakni iman dan taqwa generasi muda. Berita freesex anak-anak remaja hingga guru dan kepala sekolahnya sampai pembunuhan antar remaja bahkan juga pada gurunya sendiri menjadi catatan kelam pendidikan Indonesia hari ini. Kapitalis sama sekali tidak akan menyentuh itu.  

Berbeda dengan Islam, pendidikan dalam Islam mementingkan aqidah yang wajib ditempuh selama bersekolah di sekolah dasar dan menengah. 

Standar sukses seorang pemuda dalam Islam adalah menjadi muslim-muslimah yang bertaqwa, bukan gelar akademik, maupun kemampuan menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Ilmunya berguna untuk masyarakat bukan untuk dikomersilkan. Maka ilmu yang didapat bisa berguna dunia-akhirat. Wallahu a’lam. [MO/vp]

Posting Komentar