Oleh : Zulfa Rasyida
(Pengemban Dakwah, Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-  Kebutuhan manusia dibagi menjadi tiga, kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dalam hal ini, pakaian adalah salah satu kebutuhan primer. Semua manusia memerlukan pakaian.

Jenis pakaiannya seperti apa adalah pilihan masing-masing individu. Membuka atau menutup aurat adalah jalan yang masing-masing orang pilih.

Bicara soal pakaian, ada yang sedang viral diperbincangkan dan dipermasalahkan. Cadar dan celana cingkrang. Ada apa dengan keduanya? Mari kita selami.

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan berencana melarang pengguna niqab atau cadar untuk masuk ke instansi milik pemerintah. Hal itu ia katakan karena alasan keamanan usai penusukan mantan Menkopolhukam Wiranto.

Fachrul mengatakan rencana itu masih dalam kajian. Namun aturan itu sangat mungkin direkomendasikan Kemenag atas dasar alasan keamanan.

"Memang nantinya bisa saja ada langkah-langkah lebih jauh, tapi kita tidak melarang niqab, tapi melarang untuk masuk instansi-instansi pemerintah, demi alasan keamanan. Apalagi kejadian Pak Wiranto yang lalu," kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Hotel Best Western, Jakarta, Rabu (30/10).

Melarang niqab masuk ke instansi-instansi pemerintah dengan alasan 'keamanan' sepertinya kurang masuk akal. Katanya dalam demokrasi bebas berpakaian macam apapun, sepertinya multi fungsi.

Alasannya adalah karena cadar dan celana cingkrang merupakan ciri dari 'teroris' dan orang-orang 'radikal'. Benarkah pernyataan tersebut?

Disini penulis tidak akan membahas lebih rinci pada kata 'teroris' namun akan lebih mengulas tentang 'radikal'.

Apa itu radikal?

Jika kita kembalikan pada KBBI artinya kurang lebih adalah secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) atau maju dalam berpikir dan bertindak.

Sepertinya tidak ada yang salah bukan dengan makna radikal itu sendiri? Lantas, apa masalahnya?

Ternyata saat ini, kata radikal adalah diartikan amat keras menuntut perubahan (undang-undang dan pemerintahan). Dampaknya kepada kelompok-kelompok atau ormas-ormas yang dianggap menuntut perubahan UU dan pemerintahan akan dicabut badan izinnya.

Kelompok atau ormas yang dianggap radikal oleh pemerintah adalah kelompok atau ormas yang mengkritik pemerintah, menuntut perubahan peraturan, dan tidak sesuai ideologi bangsa.

Ciri dari kelompok atau ormas tersebut selalu diidentikkan dengan ciri-ciri muslim. Termasuk wanita bercadar dan lelaki bercelana cingkrang. Mengapa demikian?

Sudah cukup lama dan bisa dibilang basi sebenarnya isu-isu tindak kejahatan yang pelakunya selalu dicirikan sebagai seorang muslim. Mulai dari kejadian 11 September 2001 yakni pembajakan pesawat jet penumpang yang dilakukan oleh suatu kelompok.

Kejadian yang diduga kelompok Islam al-Waeda yang dipimpin Osama bin Laden ini sempat viral dan membuat masyarakat New York saat itu bertanya-tanya apa itu Islam dan bagaimana Islam.

Ketika melihat ciri dan organisasi mana mereka bergabung justru isu Islam adalah teroris tidak logis. Berbondong-bondong non kafir saat itu menjadi muallaf.

Kasus bom bali, bom panci, bom Paris, dan pembomban di dunia selalu ditemukan pelakunya adalah seorang muslim. Memakai pakaian khas muslim dan mengatasnamakan jihad fisabilillah.

Lucunya, semua pelaku tindak kriminal yang mengatasnamakan dirinya muslim selalu membawa data dirinya. Mulai dari KTP hingga KK. Pertanyaannya, Buat apa?

Jika kita pikirkan secara rasional, pelaku tindak kriminal apapun tidak akan sempat membawa data diri selengkap itu untuk melakukan tindak kriminal. Mereka hanya akan fokus bagaimana cara menyalurkan 'bakat' kriminalitasnya kepada para korbannya.
Kenapa selalu dicirikan sebagai seorang muslim? Benarkah mereka muslim? Ada apa dibalik semua ini?
Harusnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini sudah sering muncul di kepala kita dan, harusnya juga kita mencari tahu jawaban yang paling tepat. Mengapa muslim yang menjadi tersangka?

Umat Islam pernah berjaya, masa keemasannya pernah tertancap, dan wilayah kekuasaannya adalah 2/3 dunia. Bisa dibayangkan betapa agungnya peradaban saat itu.

Saat dimana Eropa kumuh, kotor, dan bodoh, adalah zaman gemilangnya emas di puncak kejayaan. Saat Eropa gelap dan becek, Daulah Islam terang benderang dan jalanan beraspal.

Pernahakah kita mendengar hal ini? The Dark Age mungkin pernah kita dapatkan dalam sejarah, tapi dibali The Dark Age itu ada The Golden Age yang disembunyikan.

Bangkitnya Islam adalah momok terbesar bagi negeri-negeri Barat. Mereka percaya bahwa setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani saat itu maka akan tegak kembali khilafah di masa mendatang.

Berbagai macam propaganda dan tren mereka viralkan. Mulai dari dijauhkannya bahasa Arab dikalangan kaum muslimin, hingga pakaian yang mengikuti mode.

Food, Fun, and Fashion adalah satu dari sekian banyaknya metode yang mereka pakai guna menjauhkan umat Islam dengan Islamnya sendiri. Menyebar virus-virus Islampobia agar Barat menjadi kiblat peradaban.

Tentu saja tujuan mereka agar umat Islam lupa dengan Islam mereka. Sehingga kebangkitan Islam itu bisa delay lebih lama lagi.

Meski berbagai cara apapun mereka memerangi umat Islam dengan pemikiran asing dan hudaya Barat, tetap saja mereka tidak akan mampu membohongi diri mereka bahwa Islam pasti tegak.

Mereka saja percaya, bagaimana dengan kita?

Akankah kita termakan oleh berbagai isu yang dilontarkan sedangkan mereka menutupi kebiadaban mereka terhadap saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Myanmar, Aleppo, Uyghur, dan lainnya, atau kita mau membuka mata betapa kejamnya mereka.

Harusnya kita lebih yakin dengan akan bangkitnya umat Islam karena kita punya harapan disisi Allah yang mereka tidak punya. Orang-orang kafir itu bisa memetik bunga namun tidak bisa menunda musim semi untuk datang. Teruslah berjuang para penggenggam bara Islam, bagimu adalah hujjah dihadapan Illahi Rabbi.

Posting Komentar