Oleh : Sukma Oktaviani 
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)
Mediaoposisi.com- Sebagai umat muslim, kita harus mengimani bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Rosul terakhir utusan Allah SWT., dalam mengimani dan mencintai sosoknya, dan apa-apa yang beliau bawa untuk alam semesta ini tidak bisa jika hanya dari kata-kata saja, harus juga sesuai dengan tindakannya.

Mencintai beliau juga harus lebih dari pada mencintai diri sendiri, harta, jabatan, keluarga, juga orang lain. Belum sempurna apabila seorang muslim mencintai apa-apa lebih dari cintanya kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan sabdanya:

”Belum sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai ia menjadikan aku lebih dicintai daripada orangtuanya, anaknya, dan segenap manusi” (HR. al-Bukhari)

Namun begitu menyedihkannya di zaman ini baginda Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan manusia biasa, dan direndahkan. 

Apakah ini termasuk kedalam penistaan? Sudah kita tahu bersama bukan, beberapa waktu lalu ada sebuah tayangan mengejutkan, tatkala seorang anak dari tokoh negeri ini membanding-bandingkan Nabi Muhammad SAW. dengan ayahnya. Hal itu sangat membuat banyak hati umat Islam yang geram.

Massa dari Dewan Pimpinan Cabang Front Pembela Islam Kabupaten Cianjur dan beberapa elemen organisasi kemasyarakatan lain menggelar unjuk rasa di Bundaran Tugu Lampu Gentur Cianjur, Jawa Barat, Jumat 22 November 2019. Mereka menuntut agar SukmawatiSoekarnoputeri yang dianggap telah menghina umat Islam segera diadili dan dipenjara.

Massa yang sebelumnya berkumpul di Tugu Tauhid Alun-alun Cianjur melakukan long marchmenuju Bundaran Tugu Lampu Gentur yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Akibatnya, sejumlah ruas jalan utama dalam kota Cianjur mengalami kemacetan. Bahkan, Jalan Ir Djuanda yang jadi lokasi aksi ditutup total.
Ketua DPC FPI Kabupaten Cianjur, Hud Alaydrus, dalam orasinya menegaskan bahwa pernyataan Sukmawati yang membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad adalah sebuah penghinaan yang tak dapat diterima umat Islam. 
Oleh sebab itu, kata Hud, aparat penegak hukum harus segera mengadili sekaligus memenjarakan puteri Sang Proklamator tersebut.
"Dia sudah berkali-kali menghina dan melecehkan umat Islam, apalagi sekarang yang dihinanya junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW. Jika aparat penegak hukum tak bertindak, kami akan terus turun ke jalan untuk melakukan revolusi," kata Hud di Cianjur, Jumat 22 November 2019. (Tempo.co)
Miris, lihatlah fakta yang terjadi sekarang, begitu banyak penistaan yang terjadi bukan hanya ini saja, namun tidak pernah ada tindak tegas dari pemerintah negeri ini. 

Para penegak hukum tidak jelas dalam menghukumi, lantas dimana letak perlindungan dan keadilan yang digembor-gemborkan negeri ini?  Padahal sudah jelas, isi pembicaraan beliau memang untuk merendahkan Nabi Muhammad SAW.

Syaikh al-islam Ibn Taimiyah telah menjelaskan dalam kitabnya, bagaimana batasan tindakan orang yang menghujat Nabi Muhammad SAW. yaitu: kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan beliau, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan. (lihat: Ibn Taimiyah , Ash-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul, 1/563)

Bagi orang Islam, hukum menghina, dan sejenisnya itu jelas haram. Ibn Mundzir menyatakan, mayoritas ulama sepakat bahwasannya sanksi orang yang menghina Nabi Muhammad SAW. adalah hukuman mati. Ini merupakan pendapat Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam As-Syafii (lihat: Al-qadhi iyadh, Asy- Syifa bi Tarif Huquq Al-Musthafa, hlm. 428)

Sistem Kapitalisme Lemah

Sistem kapitalisme yang dasarnya memisahkan agama dari kehidupan ini, memang benar-benar lemah dalam menghadapi berbagai problematika yang terjadi, terutama problem yang sedang kita bahas sekarang ini. Sistem yang melahirkan kebebasan ini, selalu kaku dan tidak tegas dalam menghukumi segala penistaan agama yang terjadi.

Sebagai bukti, sistem kapitalisme yang kini diterapkan di negeri kita ini, sampai sekarang tak mampu bertindak tegas, dan gagal melindungi agama yang berada di negerinya, UU penodaan agama yang katanya sudah dibuat dengan begitu rinci tidak efektif dalam menghentikan adanya penistaan yang terjadi.

Apabila tidak ada tindak tegas dalam problem ini, maka para penista agama terutama yang tidak menyukai Islam, mereka akan senantiasa merasa aman. Penistaan agama pun akan semakin merajalela, dan negeri pun ini akan jauh dari kerukunan dan kedamaian.

Sistem kapitalisme memang bukan memberikan kedamaian, seringkali ia tidak memenuhi keadilan dalam setiap penegakkan hukumnya, yang bermodal besar senantiasa bisa membeli hukum, senantiasa menang dalam berbagai aspek.

Sebagai generasi muslim, tak bisa kita biarkan ini terjadi-terus menerus, apabila penistaan ini dibiarkan agama Islam ini sungguh tak dapat terlindungi, senantiasa akan ada pelecehan-pelecehan yang semakin menjadi-jadi kedepannya.

Tak Bisa Diam, Perjuangkan Solusi Fundamental!

Diam bukan solusi, diam bukan sebuah kebaikan dalam menghadapi adanya penistaan terhadap agama kita, terutama penistaan terhadap baginda Nabi Muhamad SAW. bungkamnya lisan kita malah membuat para penista akan semakin menjadi-jadi. Apabila kita diam, sungguh kita sudah berdosa karena telah membiarkan adanya kemungkaran.

Ulama besar Buya Hamka rahimahulLah pernah berkata perihal orang yang diam tatkala agamanya dihina. “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.”

Karena itu, marilah berjuang! Sistem kapitalisme tak mampu melindungi agama kita. Sebagai generasi muslim kita harus membela agama kita, membela nabi kita yang mulia. 

Jika tak mampu dengan tubuh yang sedang lemah, maka masih ada lisanmu, jika ia tak mampu juga maka masih ada tulisan yang mampu mendobrak kemungkaran.

Perjuangkan! Sungguh tidak ada solusi yang mampu memberantas segala problematika yang terjadi, tidak ada solusi yang mampu melindungi umat Islam dengan kekuatannya. Selain, tegaknya Islam dimuka bumi ini. Dulu pernah ada kisah di Kekhilafahan Ustmani tatkala kaum Yahudi meminta tanah Palestina, namun Khalifah Abdul Hamid II menolaknya dan berkata bahwa tanah itu milik umat Islam.

Umat Islam saja begitu diutamakan, tak ingin sang Khalifah apabila hak umat direnggut. Apalagi ini, penistaan terhadap manusia mulia, yang kelak kita pinta syafaatnya di akhirat Nabi Muhammad SAW. Mungkin apabila ada Khalifah semua akan diberantas habis, pelakunya akan diadili seadil adilnya.

Sungguh saat ini kita benar-benar membutuhkan pelindung, membutuhkan persatuan yang mampu mendamaikan umat di dunia. Tiada lagi yang mampu selain adanya penegakan Khilafah di muka bumi ini. Maka, marilah perjuangkan! Wallahu alam.

Posting Komentar