Oleh : Novi Apriliani
(Aktivis Muslimah dan Penulis di Komunitas Muslimah Coblong)

Mediaoposisi.com-Akhir – akhir ini kasus penistaan agama terus terjadi baik berupa penghinaan atau pelecehan terhadap Allah, Rasulullah SAW dan ulama maupun terhadap ajaran islam berupa syariat yang termasuk hal ibadah di dalamnya.

Salah satu contoh kasus yang belum lama ini terjadi, yaitu publik kembali di gemparkan oleh
pernyataan kontroversi dari adik kandung Megawati Soekarnoputri (mantan Presiden RI).
Dalam potongan video yang telah tersebar luas di media sosial, Sukmawati Soekarnoputri berkata : 

"Sekarang saya mau tanya nih semua. Yang berjuang di Abad 20, itu Nabi Yang Mulia Muhammad apa Ir.Soekarno untuk kemerdekaan?"

Sungguh tak pantas rasanya kita membandingkan baginda Rasulullah SAW dengan siapapun,
karena beliau adalah manusia mulia yang telah di maksum oleh Allah SWT dan merupakan suri taulada yang terbaik bagi kita semua.Disebutkan dalam Firman Allah :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allâh”. [al-Ahzâb/33:21]

Pertanyaan kontroversi yang dilontarkan Sukmawati tersebut di dalam sebuah forum sontak saja mengundang kemarahan umat, pasalnya bukan kali pertama Sukmawati mengeluarkan pernyataan yang kontroversi seperti ini.

Sebelumnya Sukmawati juga sempat mengegerkan publik dengan Puisinya yang membandingkan cadar dengan tusuk konde dan membandingkan suara adzan dengansuara kidung.

Atas pernyataan yang dianggap membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW itu,
Sukmawati dilaporkan oleh simpatisan Koordinator Bela Islam (Korlabi).

Pihak kepolisian menerima laporan bernomor LP/7393/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum pada tanggal 15 November 2019 dengan pelapor Ratih Puspa Nusanti. Pasal yang dilaporkan yakni tentang tindak pidana penistaan agama Pasal 156a KUHP.

Contoh kasus penistaan agama lainnya yang terjadi yaitu dilakukan dari kalangan anak
muda. Seorang YouTuber yang tengah naik daun yaitu Atta Halilintar, dalam salah satu isi kontennya Atta Halilintar dan adik-adiknya mempermainkan gerakan sholat.

Dalam video itu Atta dan adik-adiknya terlihat sedang melaksanakan sholat secara berjamaah di sebuah ruangan, lengkap dengan menggunakan busana muslim. Namun, pencetus kata ashiaaap itu saat sedang melakukan sholat saling menginjak kaki satu sama lain.

Dan dalam isi konten tersebut Atta dan adik-adiknya banyak mempermainkan gerakan sholat
lainnya, seperti melirik dalam sholat, mengangkat telepon saat sedang melaksaan sholat dan masih banyak hal lainnya.

Hal tersebutlah yang dinilai mempermainkan agama. Meskipun memang ada klarifikasi dari pihak Atta dan keluarga bahwa konten tersebut bukan untuk menista, melainkan bermaksud
mwngedukasi bahwa hal tersebut bisa membatalkan shalat, sebagai seorang publik figure.

Seharusnya Atta sadar bahwa segala tindak tanduknya bisa ditiru dan menjadi inspirasi bagi para followers ( fans) nya. Pasalnya warganet saat ini cenderung mengambil potongan-potongan video saja, tidak menonton secara utuh. 

Potongan adegan yang salah ini bisa jadi dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga video tersebut dianggap mampu melecehkan kegiatan beribadah
agama tertentu.

Sholat merupakan Ibadah wajib yang dilakukan bagi setiap individu Umat Islam, Rasulullah SAW bersabda :

“Sholat Adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan
agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”.

Atas tindakan Atta Halilintar dalam konten YouTubenya tersebut , Atta dilaporkan oleh Ustadz Ruhimat tercantum dengan nomor LP/7322/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 13 November 2019. Pasal yang disangkakan adalah Pasal 156 a, dan UU ITE Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 a tentang dugaan penistaan agama.

Namun hingga saat ini laporan-laporan terkait kasus penistaan agama tersebut belum bisa kita lihat tindak lanjutnya dari para aparat Kepolisian. Maraknya kasus penistaan agama, seolah membuktikan bahwa negara seperti acuh tak acuh atas peristiwa penistaan agama tersebut dan cenderung menganggap bahwa ini adalah hal yang biasa saja dan tak perlu dibesar-besarkan. 

Sehingga bukannya padam, api kasus penistaan agama ini
malah makin membara. Dari contoh kasus penistaan agama yang dilakukan diatas , maupun kasus-kasus penistaan agama yang terjadi lainnya terdapat 2 faktor kemungkinan :

yaitu dilakukan karena unsur ketidaktahuan atau malah dilakukan secara sadar dan sengaja karena kebenciannya terhadap Islam.

Di sistem Negara yang sekuler ini, terbukti bahwa negara telah gagal melindungi agama, dengan semakin maraknya para pelaku penistaan agama, karena tidak pernah ada sanksi yang tegas dari penguasa di negeri ini kepada para pelaku penistaan agama.

Padahal di dalam Islam salah satu tujuan utama penyelenggaraan kekuasaan adalah Hirasah al-Din (memelihara agama) agar syariat agama tetap bisa diamalkan seutuhnya.
Perlindungan agama itu bukan hanya pada pemeluknya saja, tetapi agamanya itu sendiri harus dilindungi dari berbagai bentuk penistaan.

Negara wajib melindungi agama. Karena salah satu fungsi adanya negara adalah melindungi agama.Sebagaimana perkataan imam al-Ghazali, “agama itu pondasi. Dan pemimpin negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada pondasinya, akan roboh. Dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan tersia-sia” (Imam al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, hal. 255).

Undang-Undang terkait kasus penodaan agama yang sudah dibuat di Negeri ini belum efektif
menghentikan semua itu. Ditambah lagi penegakan hukumnya seringkali tidak memenuhi rasa
keadilan.

Salah satu parpol, yaitu PKS (Partai Keadilan Sejahtera) telah mengusulkan RUU perlindungan agama dan ulama untuk memperluas cakupan Undang-Undang yang sudah ada atau menutup celah kekosongan hukum dalam konteks saat ini.

Akankah usulan tersebut di setujui? Apakah realisasinya akan sesuai dengan ekspektasi?
Kita akan saja semoga itu bisa menjadi salah satu titik terang dalam memberantas para pelaku
penistaan agama.

Namun yang jelas jika saja pemimpin di Negeri ini mau menerapkan seluruh aturan Sang Pencipta, yaitu aturan Syariat Islam yang sudah terbukti kegelimangan atas penerapannya selama 13 abad lamanya, pastilah Daulah (Negara) ini bisa menjadi Perisai bagi seluruh umat.

Jika Negara sudah diatur sesuai dengan aturan Syariat Islam, kasus-kasus penistaan agama seperti ini tidak akan banyak terjadi lagi, karena umat (masyarakat) akan mendapatkan edukasi yang cukup dalam hal agama dan pastinya akan ada tindakan tegas teruntuk para pelaku penistaan agama tersebut.[MO/ia]

Wallahu alam bish shawab.

Posting Komentar