Oleh: Mochamad Efendi
(Pengamat el-Harokah Research Center)

Mediaoposisi.com-Perang melawan Islam yang dibungkus radikalisme ternyata tidak laku lagi ditengah masyarakat. Umat sudah mulai tahu apa dibalik bungkus radikalisme. Kesadaran umat untuk berIslam secara kaffah sudah mulai menguat. Umat semakin cerdas sehingga tidak mudah terprovokasi dengan skenario isu radikalisme yang mendeskreditkan Islam yang mulia.

Rezim terus menyuarakan perang melawan radikalisme bahkan insiden penusukan menkopohulkam, Wiranto di Padeglang Banten dijadikan alasan untuk lebih keras menyuarakan perang melawan radikalisme.  Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyerukan masyarakat untuk bersama-sama memerangi radikalisme dan terorisme menyusul insiden penusukan yang menimpa Menkopolhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

Namun rakyat sudah mulai sadar dengan skenario jahat perang melawan radikalisme yang sebenarnya untuk mendeskreditkan Islam. Bahkan, kesadaran akan skenario busuk dari radikaliame juga disadari oleh anggota TNI dan keluarganya.  Nyinyiran atas isu radikalisme adalah bukti muaknya umat terhadap framing buruk atas Islam oleh rezime yang anti Islam.

Ini yang menyebabkan pangdam kebakaran jenggot oleh sikap istri anggota TNI yang berani mengkritik penguasa rezime. Jualan radikalisme sudah tidak laku lagi. Tentunya yang menyadari akan bau busuknya isu radikalisme  lebih banyak lagi jika tidak ada usaha manakut-nakuti pada anggota TNI dengan sanksi yang memberatkan.

Anak remajapun paham dengan isu radikalisme yang digunakan senjata untuk menyerang Islam. Mereka berani menampakkan identitasnya sebagai remaja muslim sejati yang mencintai agamanya dan mempelajarinya secara kaffah. 

Mulai bermunculan remaja militan menyebabkan rezime panik dan merasa ketakutan. Remaja yang bangga dengan bendera tauhid diperintahkan untuk diinvestigasi. Mahasiswa yang mendalami Islam secara kaffah dituduh menjadi penyebab mandeknya kemajuan pendidikan karena terpapar radikalisme.

Banyaknya anak remaja yang sadar politik diwakili anak STM membuat rezime semakin panik. Perhelatan besar esport 2020 diadakan agar remaja tidak lagi berurusan dengan politik. 

Remaja dibiarkan terpapar dengan game online melalui pertandingan game online memperebutkan piala presiden. Secara tidak sadar rezime telah merusak generasi anak negeri sehingga mereka enggan berfikir dan tidak peka dengan permasalahan yang dihadapi negeri ini.

Lebih buruk lagi generasi game online akan memilih cara kekerasan untuk menyampaikan keinginan mereka karena terinspirasi dengan kekerasan yang ditunjukkan oleh game yang mereka mainkan. Generasi rusak yang benar-benar terpapar radikalisme sedang diciptakan oleh rezime. 

Generasi yang jauh dari agama  akan sungguh membawa pada kerusakan apalagi mereka sudah kecanduan game online. Makin banyak anak-anak yang bermasalah yang ini tidak disadari oleh penguasa rezime akan menjadi bom waktu yang sulit untuk ditaklukkan.

Jualan apa lagi jika isu radikalisme tidak laku lagi. Kesadaran umat untuk berislam secara kaffah juga ditunjukkan oleh komunitas Muslim United yang sangat menginspirasi umat untuk bangkit melawan berbagai bentuk kedzaliman. 

Meskipun, langkah mereka dihadang dan dipersekusi tapi mereka terus bergerak tanpa rasa takut. Mereka berhadapan dengan penguasa arogan yang dzalim tapi mereka tidak mundur karena dakwah adalah jalan para nabi dan rasul, jalan yang membawa pada kemulian baik di dunia maupun di akhirat.

Islam selama ini dituduh menyebarkan radikalisme, faktanya, demokrasilah yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini. Banyak kejahatan yang dulu dalam sistem Islam tidak pernah terbanyangkan dilakukan oleh manusia, sekarang jadi biasa dalam sistem demokrasi. Perbuatan mesum divediokan mewarnai dunia mensos, bahkan bisa dilakukan oleh seorang anak dengan ibunya.

Anak membunuh orang tuanya atau orang tua membunuh keluarganya sendiri kerena terhimpit ekonomi dulu dalam sistem Islam tidak mungkin terjadi. Tapi dalam sistem demokrasi menjadi biasa. Kekerasan, kebiadaban dan sadisme tumbuh subur dalam sistem demokrasi. 

Jadi tuduhan pada Islam sebagai penyebab radikalisme, kekerasan dan terorisme jelas salah alamat. Semua itu sudah mulai disadari oleh umat. Jadi tidak laku lagi jualan radikalisme untuk mendeskreditkan Islam.

Rezime sering meneriakkan perang melawan radikalisme, kekerasan dan terorisme, namun rakyat sering melihat kekerasan dilakukan oleh rezime itu sendiri. Bagaimana aparat menangani demo turun ke jalan oleh mahasiswa adalah bukti nyata bahwa rezime adalah telandan buruk dalam radikalisme, kekerasan maupun terorisme yang sering diteriakkan oleh rezime itu sendiri.

Bahkan secara tidak disadari, generasi yang suka kekerasan dan malas berfikir dibentuk oleh rezime sendiri dengan mengadakan satu pertandingan game online yang disponsori oleh presiden. Generasi gamers yang tidak peka dengan sekitarnya bagaikan bom waktu yang menjadi masalah negeri ke depan.

Sementara generasi unggul dan cemerlang yang sadar politik dan cinta agamanya, Islam diawasi dan diinvestigasi. Mereka ditakut-takuti dan dipersekusi. Padahal mereka adalah generasi penerus negeri ini yang akan membawa perubahan yang lebih baik dengan Islam.[MO/AS]

Penulis: Mochamad Efendi
Editor: Andini Sulastri 

Posting Komentar