Oleh : Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu lalu, kita di hebohkan dengan berita bahwasannya UAS (Ustadz Abdul Somad) yang terkenal di berbagai kalangan, dibatalkan kehadirannya dalam mengisi kuliah umum yang bertemakan Integrasi Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di Masjid Kampus UGM (Universitas Gadjah Mada) yang tidak bisa dibohongi universitas ini merupakan universitas ternama di Yogyakarta.

Iva Ariani, selaku Kabag Humas dan Protokol UGM, mengatakan, bahwasannya pembatalan ceramah UAS itu atas permintaan pimpinan UGM sendiri (9/10/2019).

Iva Ariani tidak menjelaskan secara detail, mengapa kehadiran Ustadz Abdul Somad dibatalkan, ia hanya menambahkan bahwa, cara berbicara, dan waktu menjadi kendala di hadirkannya Ustadz Abdul Somad, karena untuk menjaga keselarasan kegiatan akademik, dan non akademik.

Dari berita dan penjelasan di atas, kita sebagai generasi negeri, yang terutama generasi  Muslim merasa miris bukan? Secara tidak langsung Islamfobia, dan isu radikalisme sudah benar-benar terbukti marak di berbegai level individu atau kelompok, dan sudah tidak lagi menjadi momok yang asing dalam kehidupan. 

Alih-alih pemberitaan di atas, membuat kita berfikir. Keterpurukan generasi kemungkinan besar terjadi di negeri ini. Perihal hal yang mungkin sekali sebuah kebenaran, dan ilmu saja dibatasi, dan menjadi hal yang sangat menakutkan untuk diterima oleh generasi negeri ini. Bagaimana generasi negeri bisa berkembang, dan mengenal Islam lebih dalam, jika islamfobia, dan isu radikalisme sudah merebak luas.


Islamfobia Perusak Generasi

Islamfobia atau istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka buruk terhadap Islam, memang sedang marak di berbagai level masyarakat di negeri kita ini. Sebagai bukti, pencegahan kajian ustadz-ustadz yang di cap tidak sesuai pancasila, pelecehan terhadap simbol-simbol Islam, ide-ide Islam seperti, cadar, jenggot, terutama Khilafah. 

Islamfobia sendiri, kemunculannya merebak pasca peristiwa ciptaan AS yang dikenal dengan peristiwa 11 september 2001, didalamnya terdapat diskriminasi terhadap kaum Muslim yang dipaksa untuk memisahkan segala aspek kehidupan dengan agama, atau sekulerisme. Selain itu, didalam peristiwa tersebut digaungkahlah presepsi bahwa Islam tidak memiliki norma yang sesuai dengan budaya lain.

Di negeri kita, apabila Islamfobia terus menerus di sebar luaskan, tanpa adanya pencegahan. Maka, generasi bangsa ini yang terutama generasi Muslim akan rusak pemahaman Islamnya, dan akan terus fatal pandangannya terhadap segala sesuatu yang mendalam mengenai Islam. 

Islam sendiri adalah agama satu-satunya yang Allah ridhai, apabila Islam sudah tidak menjadi dasar kepribadian para generasi yang terutama generasi Muslim, maka rusaklah negeri ini. Terutama, apabila pembatasan diskusi para generasi yang mana dititik beratkan pada mahasiswa terus-menerus di gembar-gemborkan, sangat besar kemungkinan mereka hilang daya kritis, dan vitalitasnya sebagai agen perubahan negeri.

Miris bukan? Apa lagi jika kita diam saja, puluhan, bahkan ratusan fitnah terhadap Islam , dan rencana-rencana barat sebagai musuh Islam akan berhasil dan terus di gembar-gemborkan untuk menakut-nakuti generasi negeri ini. 

Agar mereka takut, dan akhirnya jauh dari Islam itu sendiri. Selain itu, pada akhirnya mereka akan, menghabiskan waktu mereka dengan hal yang sia-sia, dan mereka hancur oleh kesia-siaan yang mereka ciptakan sendiri.

Isu Radikalisme Perusak Generasi

Selain islamfobia yang di gembar-gemborkan, isu radikalisme juga sudah sangat marak di berbagai level masyarakat di negeri kita ini. Sampai-sampai upaya deradikalisasi sudah dilakukan rezim negeri ini, atas nama menyelamatkan persatuan bangsa dan menyelamatkan masyarakat dari bahaya. 

Namun pedihnya, stigma radikal sendiri lebih di titik beratkan pada Islam, padahal tidak ada sama sekali ayat didalam kitab umat Islam yakni Al- Quran yang mengajarkan kejahatan.

Selain itu, apabila upaya deradikalisasi adalah untuk melindungi negeri ini. Mengapa tidak ada upaya serius rezim ini untuk menangkal upaya As dan Tiongkok, yang jelas-jelas memiliki tujuan untuk kepentingan mereka, dan mengancam negeri ini. 

Tapi, anehnya Islam yang selalu menjadi korban, dan seolah-olah Islamlah induk kejahatan. Padahal, jelas-jelas stigma radikal tidak pantas di khususkan untuk Islam, karena Islam sendiri adalah agama, dan sistem kehidupan yang mengajarkan kedamaian bukan agama yang menyebar kebencian bahkan kejahatan.

Maka dari itu, apabila islamfobia dan isu radikalisme terus menerus di stigmakan terhadap Islam, para generasi yang terutama generasi Muslim akan semakin cepat mendekat pada kerusakan, keterpurukan, dan kehancuran. 

Jika semua itu terjadi, tidak akan ada lagi generasi Islam seperti, Thariq Bin Ziyad, Muhammad Al-Fatih, dan generasi ilmuan Muslim, yang kita ketahui mereka lahir dari Islam yang menjadi sistem kehidupan, bukan Islam yang menjadi momok yang menakutkan seperti sekarang. Naudzubillahi min dzalik

Islam Kaffah Solusi Tuntas

Penjelasan diatas, adalah problem saat ini, yang membuktikan bahwa jelaslah islamfobia, dan isu radikalisme adalah propaganda melawan kebangkitan Islam, yang mulanya merasuk dulu pada diri generasinya. 

Maka, Sekuat apa pun kita menyuarakan kebenaran Islam. Namun umat Muslim sendiri tak bersatu. Maka, kita akan kalah tatkala para penjahat yang benci terhadap Islam bersatu dan  mereka bekerja sama untuk terus mendorong generasi kita agar jauh dari Islam. 

Pada akhirya propaganda mereka akan berhasil, dan kemungkinan besar kejadian seperti fakta yang sudah di bahas di atas akan sering sekali terjadi, yakni pembatalan kajian Ustadz Abdul Somad, atau ustadz yang hanif dan lurus menyuarakan kebenaran Islam.

Oleh karena itu, sebagai generasi Muslim negeri ini, marilah kita menyuarakan bahwa Islam bisa jaya, kajian atau diskusi Islam tidak dibatasi, dan generasi bisa bangkit secara fundamental hanya dengan adanya persatuan umat Islam dalam sistem yang menerapkan Islam kaffah; dengan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu alam. [MO/SO]

Posting Komentar