Oleh : Salwa Hidayah ( aktivis dakwah)

          Mediaoposisi.com- Di setiap negeri pasti memiliki sumber daya manusia yang berdomisili di negeri tersebut, dan memiliki sumber daya alam, karena ini adalah aset negeri. jika aset -  aset ini hancur maka negeri tersebut juga hancur, lalu bagaimana dengan kondisi negeri yang diberi julukkan”paru- paru dunia” saat ini???

NEGERI  YANG NESTAPA
Jakarta, kompas.com- Pihak Badan Nasional penanggulangan bencana menyebut, jumlah titik api atau hotspot di Indonesia tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Diseluruh Indonesia, berdasarkan data BPNB, ada 2.862 titik api. 

Berdasarkan badan meteorology, klimatologi geofisika (BMKG), terdeteksi asap di wilayah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Semenjung Malaysia, Serawak Malaysia, dan Singapura. Hal ini membuat kualitas udara di sekitar titik api dan wilayah yang terdampak memburuk berdasarkan aplikasi AirVisual yang dipantau pada senin(16/8/2019).

 Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas, memiliki banyak fungsi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia antara lain, sebagai penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup segala jenis flora dan fauna, penyaring udara, serta mencegah global warming. Dan yang memiliki hutan terluas adalah Indonesia sehingga dia disematakan sebagai ”paru paru dunia”.

Namun sayang, hutan yang dimiliki oleh negeri ini  sudah dilahap habis oleh si jago merah, seperti data diatas terdapat 2,862 titik api, yang berarti berhektar- hektar hutan dan pembukaan lahan telah habis dilahap si jago merah, ada 2 kemungkinan yang menyebabkan kebakaran terjadi, kemungkinan pertama: diakibatkan oleh gejala alam seperti musim kemarau, namun kemungkinan ini bisa dipatahkan dengan realita banyak nya titik api yang ada, karena tidak mungkin banyaknya titik api dikarenakan faktor alam, kemungkinan kedua: ada dalang  dibalik semua kebakaran yang terjadi dihampir seantero nusantara. 

kemungkinan ini adalah kemungkinan yang paling akurat tidak  mungkin ribuan hektar hutan bisa terbakar dengan sendirinya tanpa ada oknum yang membakarnya, dan si oknum juga pasti mempunyai kepentingan pribadi, orang - orang yang melakukan ini pasti memilki segudang uang yakni capital (pengusaha), dan capital  tidak akan bisa membakar hutan tanpa izin sang penguasa negeri ini.

Padahal dampak  dari kebakaran hutan dan pembukaan lahan ini sangatlah berbahaya bagi makhluk hidup seperti manusia dan hewan, ada beberapa dampak dari kebakaran tersebut 1) dampak keseimbangan pada ekosistem alam, misal punahnya flora dan fauna langka karena hilangnya rumah mereka, pencemaran udara, hilangnya unsur hara pada tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi tandus, 2) dampak pada kesehatan masyarakat, kebakaran hutan dan pembukaan lahan sangat berdampak pada kesehatan manusia karena kebakaran menimbulkan asap yang sangat pekat dan dapat menyebabkan masyarakat terkena ISPA ( Infeksi Saluaran Pernapasan Atas ),  penyakit ini jika tidak kunjung diobati akan menyebabkan seseorang mengalami sesak nafas akut dan berakhir dengan kematian. Dan saat ini 2.637 jiwa yang terkana penyakit ISPA  dalam kurung waktu 3 bulan, ini adalah jumlah yang fantastis.

Jika masalah ini juga tidak kunjung terselesaikan, maka akan semakin banyak lagi korban yang terkena penyakit ini, banyak solusi yang mestinya dapat dilakukan oleh pemerintah untuk menghilangka asap, seperti membuat hujan buatan atau dengan meletakkan kipas angina di sepanjang jalan sebagaimana cara ini dilakukan di negeri sebrang yaitu Malaysia, namun solusi ini hanya solusi  temporer bukan solusi tuntas. 

Solusi tuntas yang harus dilakukan pemerintah adalah menangkap oknum - oknum yang membakar dan memiliki kepentingan dengan hal ini serta mengeluarkan undang - undang bagi yang membakar hutan dan lahan secara massif maupun tidak massif. Namun pemerintah negeri ini justru bungkam dengan seluruh kondisi rakyatnya.

Inilah jika pemimpin yang dilahirkan dari sebuah sistem yang tidak memilki asas yang komprehensif dan  protktif, dan sebuah sistem yang melahirkan para capital  yang tidak bertanggung jawab, sistem ini adalah kapitalis liberal sistem yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan, yang menjadikan materi dan kekuasaan sebagai tolak ukur dari perbuatan bagi para pengemban sistem kapitalis ini.

NEGARA YANG BAHAGIA.
Untuk membangun negeri yang bahagia bin sentosa harus mempunyai landasan yang kuat yaitu sebuah sistem yang bisa mengatur aspek kehidupan secara universal ( menyeluruh ), sistem ini adalah mabda islam karena hanya islamlah satu satunya mabda yang mempunyai subtansi yang jelas.

Dalam pandangan mabda islam kasus pada masalah diatas haruslah segera dibasmi oleh negara karena tugas Negara adalah mengurusi urusan rakyatnya (ri’ayah syuunil ummah),  banyak solusi yang diberikan islam untuk kasus diatas, pertama : islam sangat mengecam dalang yang memiliki kepentingan  kasus  ini apalagi dalang dari kasus ini adalah orang eksternal yaitu asing dan aseng yang tidak memiliki kepentingan di dalam negeri tersebut, kedua : negaralah yang harus mengelola sumber daya alam seperti hutan, laut dan lain - lain yang hasilnya untuk mensejahterakan rakyat dan negara, seperti membangun infrastuktur negara dengan cara tidak hutang terhadap negara lain, menggratisi biaya kesehatan, pendidikan dan segala hak yang harusnya menjadi kewajiban negara untuk memberikannya pada rakyat.

Mabda islam pernah diterapkan di satu instansi negara selama 14 abad, dan terbukti selama 14 abad islam menjadi sistem yang mengatur kehidupan manusia hanya 200 kasus yang terjadi, dan mabda islam juga  mengeluarkan pemimipin unggul seperti Ummar bin Khatab yang terkenal dengan ketegasannya, Ummar bin Abdul Aziz yang pada masanya tidak ada rakyat yang miskin. Maka hanya dengan mabda islamlah yang dapat menciptakan suasana negeri yang bahagia bin sentosa dan mabda islam hanya bisa diterapkan dalam satu instansi negara yang bernama khilafah.

Wallahu a’lam bishawab. [MO/AS]

Posting Komentar