Oleh : Zulfa Rasyida
(Pengemban dakwah, Penulis, Mahasiswa STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com- Berkiblat pada negara Barat, tak jauh-jauh dari tiga "F" yang merubah mind set millenial. Kemegahan dan kegagahan Barat membuat remaja tak lagi mau melirik barang sekejap matapun kepada Islam. Keindahan Barat menyilaukan mata bangsa Timur hingga lupa akan jati dirinya.

Apa tiga "F" itu dan Mengapa sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat terutama millenial saat ini?

Tentu kita tak lagi asing dengan Food, Fashion, and Fun. Propaganda yang gencar didakwahkan oleh Barat untuk mengalihkan pandangan dan fokus umat Islam pada keIslamannya.

Food. Sebagai millenial, kita pasti akan tergiur keindahan makanan dan jajanan kekinian yang kian hari semakin bervariasi. Bahkan hingga lembaran kertas emas pun bisa jadi bahan makanan. Pertanyaannya, sehatkah makanan yang muncul? Halalkah? Thayyib kah?

Ketika kita mau mengamati, pasti makanan yang beredar dan berlabel kekinian kebanyakan junk food, alias makanan sampah berkedok makanan cepat saji penuh gizi.

Fashion. Tampilan modis, pakaian terkini, bukan lagi hal tabu jika orang tak lagi berpakaian di jalanan. Mulai dari balita hingga lansia semua mengikuti tren terbaru.

Tentu kita tahu bagaimana fashion yang berkembang hari ini. Bukan lagi bagaimana menutup aurat sebagai bukti keimanan dan konsekuensi sebagai muslimah, melainkan bagaimana agar keindahan tubuh wanita semakin mudah terekspos.

Fun. Penyakit terakhir yang membuat umat Islam kian memburuk adalah kesenangan. Kecintaan pada hal-hal yang sebenarnya mubah namun membuat semakin lalai.

Mulai dari kesenangan mendapat smartphone terbaru, nonton film-film terbaru, dan hang out ke tempat-tempat kekinian menjadi tradisi baru disemua kalangan masyarakat terutama millenial.

Bicara soal film, yang masih hangat keluar dari panggangan, yakni berbagai film kontroversial yang sasarannya adalah remaja millenial. Sudahlah terlihat banyaknya madharat dibanding sisi positifnya masihlah saja banyak yang mengelak bahwa ide didalam film-film itu tidaklah tepat untuk manusia.

Contoh saja film yang menceritakan tentang perbuatan senonoh diluar nikah hingga perutnya berisi kemudian diselesaikan dengan cara menikahkan keduanya. Yap! Dua Garis Biru yang "katanya" mampu menjadi salah satu jalan keluar menyelesaikan masalah hamil diluar nikah.

Sekilas mungkin iya. Tapi jika kita telisik lagi, justru solusi seperti ini akan menimbulkan kerusakan dan efek negatif yang luar biasa. Bagaimana tidak, wong kalau zina gampang tinggal dinikahin aja, ya pastinya akan lebih banyak lagi perzinahan, merajalela-lah kehamilan diluar nikah. 

Dan yang lebih ngeri lagi, untuk mereka yang sudah kadung berisi tapi tidak siap untuk memikul tanggung jawab sebagai orangtua akan menggungurkan bayinya dengan aborsi.

Bisa dibayangkan akan berapa bayi tak berdosa yang terpendam disia-siakan begitu saja, sedangkan banyak keluarga yang merindukan kehadiran seorang anak dalam kehidupan mereka. Akan jadi seperti apa generasi selanjutnya?

Belum lagi penyakit-penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS yang semakin luas menyebar. Entah siapa yang akan melanjutkan pergerakan dan perjuangan bangsa ini.

Penularan HIV dan AIDS di Indonesia masih tergolong tinggi, terutama di usia produktif. Survei Litbang Kesehatan bekerjasama dengan Unesco menunjukan sebanyak 5,6% remaja Indonesia sudah melakukan seks pranikah.

Survei skrining adiksi pornografi yang dilakukan di DKI Jakarta dan Pandeglang menunjukkan sebanyak 96,7% telah terpapar pornografi dan 3,7% mengalami adiksi pornografi.

Secara fisiologis anatomis kecanduan pornografi lebih berbahaya dibandingkan kecanduan narkoba dan alkohol, jelas Eni Gustinah Direktur Kesehatan Keluarga  Kemkes pada peluncuran buku laporan Indikator Utama Kesehatan Remaja hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 oleh BKKBN di Jakarta baru-baru ini. (sdki.bkkbn.go.id)

Ngeri gak sih? Itu baru satu film. Bagaimana dengan film terbaru yang juga kontroversial, yaitu film Sin?

Film yang menceritakan kisah cinta antara kakak dengan adiknya. Sungguh pernuatan yang sangat tidak sesuai dengan Islam itu sendiri.

Samarinda, IDN Times - Fakta-fakta hubungan terlarang antar saudara atau inses di Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, satu per satu mulai terkuak.

Pemuda 23 tahun nekat melakukan hubungan suami istri dengan adiknya yang berusia 19 tahun dengan alasan suka sama suka dan terlalu nyaman bersama adiknya. (09/10/2019)

Sungguh mengerikan sekali kejadian demi kejadian di negeri tercinta ini. Sudahlah hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, ditambah dengan kerusakan moral pemuda-pemudanya.

Tak heran memang jika sistem yang kita anut ini masih dengan sistem buatan manusia yang angkuh, rakus, dan sombong. Sistem sekularisme kapitalistik ini akan terus memproduksi apapun selama hal itu menguntungkan para pemilik modal.

Tak peduli lagi bagaimana sifat dan moral penerus generasinya yang penting kantong mereka tebal, perut mereka kenyang, dan ide-ide sekularisme mereka tersebarkan dengan apik.

Barat akan melakukan apapun untuk menghancurkan Islam hingga ke sel-sel nya. Membuat muslim lupa bahkan takut dengan Islamnya.

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah saw, bahwa umat Islam akan menjadi bagai prasmanan yang mudah dicaplok oleh orang-orang kafir.

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278)

Cukuplah kita selesaikan penggunaan sistem yang tak bermutu ini. Kembalilah kepada sistem Islam yang mengatur moral bahkan hingga ke sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Cukuplah Islam sebagai satu-satunya ideologi dengan aturan dari Sang Pencipta, Allah SWT, yang menjadi solusi fundamental bagi seluruh alam.

Posting Komentar