Oleh:
Elis Herawati
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang mulia dalam Islam. Bulan Muharram juga menjadi bulan pembuka awal tahun Hijriah dalam sistem penanggalan Islam.

Hijriyah dan Hijrah, secara linguistik terdengar mirip. Karenanya, banyak yang memaknai Tahun Baru Hijriyah, tahun barunya umat Islam sebagai peringatan pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah) yang ditetapkan oleh khalifah Umar bin Khatab pada tahun 638 M (17 H).

Dalam konteks perkembangan jaman terkini, peringatan Tahun Baru Islam lebih banyak dititikberatkan pada peristiwa Hijrahnya Rasulullah SAW. Ini memang penting, karena hijrahnya Rasulullah dan kaum Muhajirin ke Madinah menjadi tonggak sejarah perkembangan, penyebaran agama dan peradaban Islam ke seluruh muka bumi. Namun, jangan lupakan pula esensi syariat agama yang terkandung dalam peringatan Tahun Baru Islam ini.

Dewasa ini, Alhamdulillah, banyak kita mendengar serta melihat langsung terkait dengan fenomena hijrah. Misalnya seseorang yang dulu dikenal sebagai sosok yang penuh dengan kemaksiatan, kemudian hijrah menjadi sosok yang taat pada ajaran Islam. 

Dari yang tidak menutup aurat, kemudian beralih memakai hijab, hingga bercadar. Fenomena seperti ini salah satu hal yang harus senantiasa kita syukuri. Bersyukur karena semakin banyak umat Islam yang menyadari kesalahan jalan hidup yang selama ini mereka tempuh, yakni jauh dari Islam.

Namun, kerap hijrah tersebut hanya dimaknai sekadar perubahan untuk invididu saja. Dari individu yang berperilaku maksiat, berubah atau berpindah menuju individu yang melaksanakan ketaatan. 

Harusnya, lebih dari itu, yakni turut mengupayakan bagaimana agar kehidupan masyarakat juga berubah, dari kehidupan masyarakat yang tidak islami menjadi kehidupan yang diatur dengan Islam.

Ketika kita bicara hijrah yang semestinya, kita tahu bahwa dalam konteks syariat Islam, Hijrah berarti meninggalkan/menjauhkan keburukan dan perbuatan munkar untuk berpindah menuju kebaikan dan jalan yang ditempuh Rasulullah, yaitu jalan Allah.

Dengan demikian, ketika datang bulan Muharram yang didalamnya kita peringati sebagai awal bulan Tahun Baru Islam, inilah saatnya kita berhijrah dengan semestinya. Dalam peringatan Tahun Baru Islam sendiri walaupun tidak “semeriah” Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Islam oleh sebagian umat Islam tetap dirayakan. 

Biasanya dengan mengadakan acara zikir dan muhasabah akhir tahun. Memang, kegiatan seperti ini tidak ada contohnya dari Rasulullah saw dan para Sahabat Nabi. Namun demikian, kegiatan semacam ini bukanlah termasuk aktivitas yang haram dilakukan. 

Pasalnya, melakukan muhasabah dan zikir adalah perkara yang baik, selama bukan dipahami sebagai sesuatu yang “wajib” karena sebab tertentu.Namun, yang lebih utama umat Islam seharusnya melakukan muhasabah dan berupaya agar perpindahan tahun baru Islam itu menuju perpindahan kehidupan yang lebih baik.

Kehidupan yang lebih baik tentu yang berpijak pada syariah Islam. Karena itu kaum Muslim harus berhijrah dari sistem sekuler menuju sistem Islam. Jika tidak, yang terjadi hanyalah perpindahan tahun saja tanpa diikuti dengan perpindahan kehidupan. Padahal, jika ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, kita harus menuju sistem yang baik. 

Sistem yang baik tentu yang bersumber dari Zat Yang Maha Baik. Dialah Allah SWT, yang meletakkan kedaulatan hanya pada hukum syara' sebagai bentuk buah ketaatan. Juga untuk menyelamatkan negeri ini dari cengkeraman penjajahan asing dan aseng, agar umat mendapatkan "Kemerdekaan" yang hakiki dalam kehidupan individu, masyarakat, berbangsa dan negara.

Sistem tersebut adalah sistem Khilafah Islam. Sistem ini berfungsi untuk menjalankan syariah Islam secara kaffah. Sistem pemerintahan Islam ini diwariskan oleh Rasulullah saw. kepada para penerusnya, yakni para khalifah. 

Dengan sistem khilafah tersebut, kurang lebih selama 14 abad lamanya umat Islam berhasil menjadi umat terbaik (khayruummah). Terkait itu, hijrah Rasulullah sawmengandung makna politis, yakni tonggak berdirinya Daulah Islamiyah (Negara Islam) untuk pertama kalinya. 

Dengan berdirinya Daulah Islamiyah di Madinah, seluruh kehidupan masyarakat di sana diatur dan di urusi dengan syariah Islam.
Wallahu’alambishawab.

Posting Komentar