Oleh: Ummu Azka

Mediaoposisi.com-Siapa yang ingin harta, datanglah ke ibukota. Frasa tersebut berlaku bagi semua yang menginginkan dunia. Menjadi tujuan utama, gemerlap  kehidupan ibukota menggoda para pendatang. Lalu lintas manusia datang silih berganti.  Menantang teriknya mentari, demi mencari sesuap nasi.

Kini Ibukota  menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Wacana pemindahan  dari Jakarta menuju Kutai Kartanegara menarik banyak pihak untuk andil dalam berbagai narasi.

Bagaimana tidak, Jakarta yang selama ini disebut menjadi pusat pusaran uang dalam negeri, akan berganti status.  Ditinggalkan dengan gunungan masalah, segudang kesemrawutan, serta seonggok potret menyedihkan.

 Ya, jauh di pojok kota, Jakarta ternyata menyimpan bara.  Penyakit sosial menggelambir di pinggiran. Seolah menunjukkan bahwa hingar bingar  Ibukota tak pernah melirik mereka.

Kota metropolitan ini menduduki posisi ke enam dari sepuluh kota di dunia dengan jumlah gelandangan terbanyak. Tercatat ada 28.000 orang gelandangan. Bahkan ketika banjir mewabah, 100.000 orang lebih kehilangan rumah mereka.(poskota.com)

Tunawisma nyatanya tak hanya ramai di Jakarta. New York , salah satu kota paling populer juga memiliki masalah yang sama. Melampaui Jakarta,  gelandangan disana menduduki posisi kedua terbanyak di dunia. Tercatat  sekitar 75 ribu penduduk kota  merupakan gelandangan. Dari jumlah itu sebanyak 22 ribu adalah anak-anak.

Fakta yang cukup mencengangkan karena New York dikenal sebagai Ibu kota dunia atau kota yang tak pernah tidur. Beragam aktivitas ekonomi penghasil dollar terjadi setiap hari di sana.
Penyebab klasik

Kondisi yang sama terjadi pada dua kota dengan klaim  yang berbeda.  New York sebagai ibukota dunia nyatanya tak lebih baik dari Jakarta sebagai ibukota negeri kita. Padahal New York merupakan bagian dari negara adidaya.sebuah negara yang mengklaim dirinya maju dan modern.

Ini semua terjadi karena keduanya memiliki corak kehidupan yang seirama. Kapitalisme sekuler menjadi aturan yang mereka ambil dan gunakan. Perekonomian bertumpu pada riba dan mengandalkan sektor non ril. Jual beli saham serta berbagai fluktuasi yang menyertainya lebih mereka sukai ketimbang menjual hasil karya yang terbukti tahan krisis dan abadi.

Lelahnya dunia mereka bayar pada malam hari. Berdiri kelab malam lengkap dengan isinya miras dan aneka hiburan lain, yang menjadikan wanita sebagai komoditas. Sempat tenar hotel Alexis di Jakarta. Bisnis hiburan ala kapitalis. Dengan keuntungan yang fantastis, bahkan mampu menyumbang APBD Provinsi.

Dalam kapitalisme sekuler, kebahagiaan diukur dari kenikmatan jasadi . Ramai mengejar dunia. Demi keuntungan materi.  Ranah sosial, ekonomi hingga pemerintahan tak boleh membawa embel-embel agama. Tak ada pengaturan bagaimana membuat rakyat sejahtera secara merata. 

Kekayaan yang ada pasti berputar pada kalangan itu itu saja. Akibatnya yang kaya makin kaya, yang miskin makin prihatin.  Kesemrawutan pengaturan negara dalam menyediakan pemukiman serta jaminan yang rendah terhadap kebutuhan rakyat menambah banyaknya angka kemiskinan. Dalam kapitalisme , dominasi kebijakan dipegang para pemilik modal. 

Tentu untuk kepentingan mereka. Maka wajar, banyaknya uang di sana, tak mampu mengubah wajah muram Ibukota.

Ini tentu berbeda jika saja ada aturan sempurna untuk mengatur ibukota. Kota yang menjadi sentra sebuah negara, sudah selayaknya disulap sedemikian rupa. Karena darinya dipandang keseluruhan negeri. Disinilah urgensi sebuah sistem paripurna untuk pengaturan sebuah kota. 13 abad lamanya Islam berkuasa. Adalah Baghdad sebagai ibukota, tepatnya ketika Abbasiyah berkuasa.

Baghdad boleh dibilang sebagai ibu kota dunia pada abad pertengahan. Ketika Eropa dicengkram kegelapan, Baghdad justru telah menjelma sebagai pusat peradaban terbesar dan menjadi tanah impian yang begitu memikat. Di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kota metropolis intelektual itu mencapai masa keemasannya dan telah mewariskan peradaban bagi dunia.

Kota yang berjuluk 1001 malam itu berada di dataran subur, pusat pertanian Irak yang dilalui Sungai Tigris. Baghdad terletak di sebelah utara Sungai Efrat dan sebelah barat laut Teluk Persia. Sebelum mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-8 M, Baghdad telah dijelajahi dan ditempati manusia pada tahun 4000 SM. Persia, Romawi serta Yunani silih berganti menguasai Baghdad.

Kota Baghdad mulai memegang peranan penting, ketika Dinasti Abbasiyah.  Di bawah kekuasaan Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur, pusat kekuasaan beralih ke Baghdad. Khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah itu, pada 762 M, menyulap perkampungan kecil itu menjadi sebuah kota baru.

Pemilihan Baghdad sebagai pusat pemerintahan didasarkan pada berbagai pertimbangan, seperti politik, keamanan, sosial serta geografis.  Kajian ilmiah pun dilakukan Khalifah Al-Mansur sebelum mendapuk Baghdad sebagai sentral pemerintahan.

Al-Mansur mengirimkan sejumlah ahli untuk meneliti Baghdad. Kondisi tanah, udara serta lingkungan benar-benar dipertimbangkan. Setelah dinilai layak, barulah Khalifah mengetuk palu memutuskan Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Abbasiyah.

Semua dilakukan demi kemaslahatan umat dan negara. Pengaturan yang khas memakai sistem Islam, telah membuat Baghdad menjadi rahim dari para ulama sekaligus ilmuwan Islam. Salah satunya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. 

Ia merupakan seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 M di Khwarizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 M di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad.

Buku pertamanya, Al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar.

 Sebagai pusat negara, ibukota harusnya menjadi cerminan yang baik bagi sebuah negeri. Berbagai penyakit sosial seperti kemiskinan dan banyaknya gelandangan secara mutlak harus diatasi.
Dibawah ini adalah cara Islam dalam Mengentaskan Kemiskinan :

Pertama: Secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233). Rasulullah saw. juga bersabda:

Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain (HR ath-Thabarani).

Jika seseorang miskin, ia diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal seraya tetap berprasangka baik kepada Allah sebagai Zat Pemberi rezeki. Haram bagi dia berputus asa dari rezeki dan rahmat Allah SWT. Nabi saw. bersabda:

Janganlah kamu berdua berputus asa dari rezeki selama kepala kamu berdua masih bisa bergerak. Sungguh manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah tanpa mempunyai baju, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla memberi dia rezeki (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan.

Rasulullah saw. bersabda:

Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Rasulullah saw. juga bersabda:
Penduduk negeri mana saja yang di tengah-tengah mereka ada seseorang yang kelaparan (yang mereka biarkan) maka jaminan (perlindungan) Allah terlepas dari diri mereka (HR Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah).

Ketiga: Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:
Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Di Madinah, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada zaman beliau ada ahlus-shuffah. Mereka adalah para sahabat tergolong dhuafa. Mereka diizinkan tinggal di Masjid Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara.

Saat menjadi khalifah, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab biasa memberikan insentif untuk setiap bayi yang lahir demi menjaga dan melindungi anak-anak. Beliau juga membangun “rumah tepung” (dar ad-daqiq) bagi para musafir yang kehabisan bekal.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuat kebijakan pemberian insentif untuk membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang.

Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah sakit-rumah sakit lengkap dan canggih pada masanya yang melayani rakyat dengan cuma-cuma.

Sudah saatnya kini ibukota bahkan negara mengadopsi Islam sebagai  aturan kehidupan. Berpijak di atasnya adalah kewajiban sekaligus kebahagiaan.

Sehingga ibukota bisa menjelma menjadi kota besar tanpa kesenjangan yang harus disembunyikan. [MO/vp]



Posting Komentar