Oleh: Alfiyah Kharomah
(Praktisi Senior dan Founder Griya Sehat Alfa Syifa)

Mediaoposisi.com-Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan sehat, masyarakat dapat menjalankan kehidupan dengan baik. Masyarakat dapat meningkatkan produktifitas kerja dan ibadah. Begitu pentingnya kesehatan, hingga membuat manusia rela kehilangan harta dan rumah untuk membeli sebuah kesehatan.

Namun, apa jadinya kesehatan yang vital bagi negara, namun negara tak mampu mewujudkannya. Sehingga untuk mewujudkannya harus diserahkan ke masing-masing individu melalui BPJS. Kesehatan merupakan hak setiap warga negara. Kini menjadi sebuah beban bagi negara. Karena pergeseran mindset inilah yang menjadikan negara abai terhadap kesehatan warganya. Dalam pidatonya, Menteri kesehatan Nila F. Moeloek melaporkan bahwa Indonesia sedang menghadapi transisi epidemiologi. Terkait dengan penyakit, Indonesia tengah menghadapi tiga beban penyakit (triple burden of disease). 

Tiga beban itu adalah pertama, telah bergesernya penyakit menular ke arah penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes, kanker dan sebagainya. Kedua, muncul ancaman penyakit infeksi baru, seperti flu burung, ebola dan TBC Resisten Obat. Ketiga, masyarakat masih dihadapkan pada masalah penyakit menular yang belum selesai seperti Demam Berdarah, TBC, Malaria, HIV/ AIDS, Filariasis dan Kecacingan..

Terkait masalah gizi, Indonesia menghadapi beban ganda (double burden of nutrition problem). Di satu sisi Indonesia menghadapi masalah undernutrisi (gizi kurang, pendek/ stunting dan kurus), di sisi lain Indonesia juga dihadapkan pada masalah overnutrisi, yakni masalah obesitas/ kegemukan.

Dengan demikian, penyakit yang diangap beban oleh negara tersebut, menjadi penyedot anggaran BPJS terbesar. Pada Mei 2019, Badan Pengawas dan Pembangunan (BPKP) mengumumkan hasil audit terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan atas temuan defisit anggaran sebesar Rp 9,1 Triliun. Penyebab defisit anggaran ditengarai karena tingginya jumlah peserta BPJS Kesehatan yang menderita PTM (Penyakit Tidak Menular).

Selama tahun 2018 saja, tercatat Rp20,4 Triliun telah dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiayai penyakit katastropik. Bahkan kanker paru saja masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia dengan 1,8 juta jiwa.

 Bukannya pemerintah tidak memberikan solusi, namun kebijakan yang dibuat justru tidak menyentuh akar masalah. Ketika penyakit katastropik menjadi penyumbang defsit BPJS, pemerintah justru tidak menanggung penuh (cost sharing) delapan penyakit katastropik. Yakni penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hepatitis, thalasemia, leukimia dan hemofilia. 

Kebijakan pemerintah juga timpang, saat BPJS mengambil iuran dari cukai rokok untuk menutup defisitnya dimana rokok adalah salah satu faktor penyebab PTM. Disaat kementerian kesehatan berjuang mengatasi gizi buruk dan stunting yang diakibatkan ekonomi rakyat yang lemah. 

Di sisi lain, menteri perdagangan membuka kran impor seluas-luasnya, Tarif dasar listrik dinaikan, subsidi BBM dicabut. Ini menyebabkan rakyat miskin semakin sulit memenuhi gizi anak-anak mereka. Kebijakan menaikan premi BPJS untuk menutup defisit BPJS, juga merupakan kebijakan yang tidak memihak rakyat. Alih-alih memyentuh akar masalah, justru bencana kemiskinan nyata di depan mata.

Bahkan ada kebijakan menggelikan terkait bekam. Kementerian Kesehatan melarang praktek bekam dalam bentuk apapun. Padahal, banyak penelitian, jurnal-jurnal melaporkan efektifitas bekam mengatasi penyakit-penyakit Katastropik. Seharusnya bekam bisa menjadi alternatif preventif untuk PTM. 

Pelarangan tersebut dikarenakan bekam menyumbang penularan HIV/ AIDS dan Hepatitis di Indonesia. Padahal data dan fakta membuktikan bahwa penularan HIV/ AIDS justru disebabkan perilaku seks bebas dan seks menyimpang. Bukannya memngedukasi bagaimana cara membekam yang benar dan steril, pemerintah justru melakukan pelarangan.

Germas yang digadang-gadang mampu menjadi kegiatan preventif dan promotif bagi kesehatan masyarakat, sejak tiga tahun yang lalu kini tak terlihat efektifitasnya. Tentu saja hanya akan menjadi program pemerintah yang lalu lalang saja apabila tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat dan pemerintah yang luar biasa. Disamping program germas tak menyentuh akar permasalahan kesehtaan yang sebenarnya.

Ini memperlihatkan banyak kebijakan pemerintah tentang kesehatan yang split dan bias. Para pemangku dirasa berjalan sendiri-sendiri sesuai kehendak hati dan pesanan si pemilik kapital. Maka dapat dipastikan BPJS berada dalam lingkaran setan sehingga mengulang-ulang defisit. Dan tentu saja akan berakibat pada buruknya kesehatan masyarakat Indonesia.

Apabila pemerintah serius mengatasi masalah kesehatan bangsa. Berhentilah bertingkah bipolar. Pemerintah harus mengubah mindset kesehatan yang berbasis kapital menuju mindset kesehatan yang holistik. Tak boleh melihat permasalahan kesehatan hanya dilihat dari satu sisi. Namun harus meneropong secara menyeluruh bahwa masalah kesehatan tidak akan terlepas dari masalah ekonomi, sosial dan politik.

Hanya Islam, satu-satunya sistem yang memiliki mindset holistik. Menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Karena Islam memiliki paket kebijakan kesehatan yang komprehensif. Mindset yang dibangun adalah karena keimanan kepada Allah.

Islam memandang secara proposional kesehatan pada aspek preventif, promotif, rehabilitatif dan kuratif. Rasulullah menekankan pada aspek preventif dan promotif, karena Islam mengajarkan mencegah kepada kemunkaran. Islam mencegah perilaku berlebih-lebihan terhadap aktivitas makan dan minum, membenci sifat mubadzir, Mengharamkan khamr (minuman beralkohol), zat adiktif yang merusak akal, mendorong muslim untuk memakan apa yang dihalalkan dan mengandung unsur yang toyyib.

Rasulullah juga tak melupakan aspek kuratif. Rasulullah menunjukan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal saat itu, seperti bekam. Terdapat pula hadis dari Jabir ra. Beliau berkata:

“Rasulullah telah mengutus seorang dokter kepada Ubay bin Kaab. Dokter itu memotong satu urat dari tubuhnya, lalu membakar bekas urat itudengan besi bakar.”

Para Khalifah terdahulu juga menunjukan perhatian luar biasanya kepada kesehatan dengan membangun Bimaristan, sanitasi yang terpadu, peralatan kedokteran yang canggih pada masa itu. Mensejahterahkan dokter dan perawat-perawatnya.

Islam menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan asasi setiap warga negara. Bukan sebagai beban negara. Dengan mengelola Baitul Mal yang pemasukannya diperoleh dari banyak pos, yakni zakat, pengelolaan kekayaan alam yang tepat dan lain-lain. Tidak hanya cukup bahkan mampu membiayai kesehatan negara tanpa takut defisit.

Negara akan mengolah lahan yang subur untuk mengoptimalkan potensi tanaman obat sebagai kebutuhan penelitian dan kebutuhan kesehatan itu sendiri. Sehingga negara tidak akan tergantung pada asing dan impor obat dan vaksin. Melakukan kebijakan yang akan meningkatkan ekonomi warganya. Menjaga stabilitas harga bahan pangan, sehingga warga negara dapat memenuhi gizi mereka dan anak-anak mereka.

Dengan aqidah yang kuat dan menancap, warga negara akan menjadi hamba Allah yang siap menerapkan syariat Islam. Tak terkecuali dengan aturan terkait makanan yang halal dan toyyib. Tidak berperilaku berlebihan yang memicu obesitas. Tidak berperilaku seks bebas yang menjadi vektor utama penularan virus HIV/AIDS. Sadar akan hidup sehat dengan berolah raga yang disunahkan oleh Rasulullah dan berperilaku preventif.

Negara akan memantau dan memastikan edukasi tentang kesehatan kepada warganya berjalan dengan baik. Menjadikan media bukan sebagai buzzer tapi sebagai pusat informasi anti hoaks dengan menampilkan pakar-pakar kesehatan yang terstandar. Ia juga akan melahirkan dokter, perawat, ahli gizi, pakar kesehatan, herbalis, akupunkturis, analis medis, fisioterapis, radiolog yang bertakwa dan berkemampuan. Sehingga profesi-profesi tersebut saling bersinergi sesuai porsi dalam membangun kesehatan warga negara.

Negara menjadi garda terdepan dalam sistem pelayanan, informasi, pembangunan, pendidikan, pembiayaan kesehatan bagi warganya. Dengan demikian, kesehatan yang diidam-idamkan seluruh warga negara Indonesia niscaya akan terwujud. Wallahu ‘alam bi As-showwab. [MO/AS]

 Penulis: Alfiyah Kharomariah

 Editor: Andini Sulastri


Posting Komentar