Oleh: Sri Kuntari

(Ibu Rumah Tangga)

Mediaoposisi.com-Diketahui, hasil rapat membahas soal penyelesaian defisit BPJS Kesehatan. Luhut menyatakan salah satu perusahaan asuransi asal China, Ping An, siap membantu BPJS Kesehatan dalam menyelesaikannya.

“Kemarin itu Ping An tawarkan mungkin mereka bisa bantu evaluasi sistem IT-nya. Karena kemarin Presiden minta kalau BPJS mungkin perlu lakukan perbaikan untuk sistem mereka,” katanya saat ditemui di Kantor Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (23/8).

Selain itu Luhut juga menjelaskan bahwa ada tiga masalah utama yang harus diselesaikan untuk mengatasi permasalahan defisit BPJS Kesehatan. Menurutnya, hal utama yang harus dilakukan adalah dengan menetapkan hukuman atau punishment terhadap peserta yang menunggak iuran BPJS Kesehatan.

"Kita nanti akan link dengan polisi, tapi ini bukan pidana ya nanti ini perdata kasusnya orang yang menunggak pembayaran itu. Nanti kerja sama dengan imigrasi, sehingga kalau dia mau apply visa nanti enggak bisa kalau belum bayar. Harus ada punishment buat yang nunggak,” tambahnya.

Kemudian, juga harus dilakukan penyesuaian terkait penyakit yang diobati dengan apa yang tertera di Undang-Undang. 

Menurut Luhut, ada beberapa penyakit yang harusnya tidak sesuai dengan UU. Terakhir, soal besaran iuran Luhut memaparkan BPJS Kesehatan harus melakukan penyesuaian tarif iuran. Dia juga menyarankan agar masyarakat yang mampu tidak menggunakan BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan jangan malah mempersulit masyarakat untuk mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan, semisal harus menggunakan nomor rekening. 

Di pelosok kampung dan dusun masyarakat yang kelas menengah ke bawah, dengan kesadaran sendiri yang mampu mendaftar sebagai peserta dengan manfaat kelas 3 ternyata banyak yang tidak memiliki nomor rekening.

Pemerintah seharusnya tanggap dan jangan membiarkan campur tangan asing untuk mengelola jaminan sosial, bukankah jaminan sosial adalah kewajiban negara pada warganya sebagaimana amanah Undang-undang? Atau sedemikian lemahkan negara ini hingga harus bergantung di ketek negara lain?

Siapapun akan mengakui, Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam. Termasuk sumber-sumber alam strategis yang dibutuhkan untuk menjadi negara adidaya, seperti emas, baja terbaik, uranium, migas, dan lain-lain. 

Indonesia juga memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, ditambah dengan bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya pada tahun 2045. Di mana prosentase usia produktif akan sangat besar dan sangat potensial untuk menjadi sumber tenaga murah sekaligus menjadi pasar barang produksi milik para kapitalis.

Namun sayang semua itu tak mampu membuat negeri ini tampil sebagai negara independen, apalagi adidaya. Indonesia justru sudah berhasil dijebak masuk dalam perangkap proyek kerjasama semu yang dilabeli istilah ‘perdagangan bebas’ dan investasi asing, yang lantas kedua proyek ini dilegitimasi oleh berbagai forum konferensi dan perjanjian-perjanjian internasional, yang sejatinya merupakan kedok atau alat bagi negara adidaya untuk melanggengkan penjajahan dan hegemoni sistem kapitalismenya di dunia.

Metode baku negara kapitalisme, baik Barat dan Timur, yaitu penjajahan. Penjajahan dalam bentuk politik dan ekonomi. Negara yang dijajah akan dikeruk kekayaan alamnya, dijauhkan dari agamanya (Islam), dan eksploitasi besar-besaran. Penjajahan ini untuk melemahkan semangat kaum muslim bangkit kembali kepada Islam. 

Neo-imprealisme inilah yang sering tidak dipahami umat. Hal ini disebabkan uslub penjajahannya bisa bersifat halus tak kasat mata, misalnya bantuan, skema utang, kerja sama, dll. Ada pula yang kasat mata untuk mendudukan suatu wilayah dengan hegemoni militer.

Oleh karena itu, umat muslim harus memiliki kesadaran politik dan mewaspadai manuver musuh-musuh Islam. Ketiadaan khilafah menjadikan mereka kian berani dan rakus untuk menjajah negeri-negeri kaum muslim yang berpecah belah. Keadaan ini sejatinya tidak akan lama, jika umat Islam mau bergotong royong dan berusaha keras mewujudkan kembali Khilafah.

Eksistensi Khilafahlah yang membawa ideologi Islam sangat ditakuti oleh kaum penjajah. Tatkala khilafah kembali, bisa dipastikan kaum penjajah akan lari tunggang langgang. Khilafah akan menjaga harta, jiwa, dan martabat umat manusia. 

Khilafah yang merupakan ajaran Islam  inilah yang seharusnya menjadi pandangan utama bagi perjuangan. Seruan kembali kepada syariah Islam dalam aspek kehidupan untuk kerahmatan seluruh alam. Begitu pun khilafah yang akan memimpin dunia sebagaimana janji Allah (wa’dullah) dan kabar gembira (bisyarah) Rasulullah Saw. Wallahu’alam Bi Shawwab [MO/vp]

Posting Komentar