Oleh: Supiani
(Member Forum Muslimah Peduli Umat)

Mediaoposisi.com-Gemuruh hijrah kembali menggelegar. 01 Muharram 1441 H yang bertepatan dengan 01 September 2019 menjadi hari dimana tahun baru Islam kembali menyongsong. Hal ini semakin menampakkan geliat hijrah dan kian mempelopori berbagai upaya umat untuk mewujudkan kebaikan serta menegakkan kebenaran.

Gelora Islam yang kian eksis pun kian menarik atensi. Artis misalnya, sebagai publik figure mereka menjadi promotor ampuh bagi tersiarnya Islam. Mereka pun menunjukkan kesan Islam yang begitu humble dan mengentaskan kesan sok suci bagi para pembelajar Islam. Bersama geliat hijrah dan begitu mudahnya informasi Islam tersampaikan melalui dunia maya, membuat Islam mulai kembali kepada fitrahnya. Agama yang penuh dengan keindahan, kedamaian dan keteraturan.

Sebagaimana penjelasan dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.

Hijrah sejatinya adalah peristiwa yang mahal. Ada peran hidayah di sana, yang tak mungkin manusia jangkau. Sebab hidayah adalah hajat dari sang Maha Pencipta. Sang Khaliq yang Maha Pengatur.

Meski demikian, hijrah tak lantas menjadi suatu hal yang ekslusif. Menjadi suatu hal yang mengesankan bahwa hanya orang-orang yang benar-benar baik yang berada di barisannya. Dalam prosesnya, selain sebuah perubahan, hijrah adalah momen kebersamaan dan persatuan. Sebab, salah satu faktor istiqomah dalam berhijrah ialah kebersamaan dengan orang-orang yang kian menguatkan.

Maka kini, banyak anak muda yang mulai beralih dari kebiasaan lamanya. Majelis-majelis ilmu pun kian ramai dihadiri. Video tausyiah dan ceramah pun ramai dibagikan di media sosial. Melihat geliat ini, jelas akan selalu ada rintangan. Terlebih dari pembenci Islam, yaitu Iblis.

            Tahun Baru Islam 1441 H
           
Momen perayaan tahun baru Islam 1441 H ramai dirayakan di berbagai daerah. Mulai dari pawai obor menyambutnya. Ceramah, majelis ta’lim dan tabligh akbar. Hingga yang ramai diperbincangkan ialah parade tauhid atau parade ukhuwah yang dihadiri oleh ustadz Felix Siauw. Bahkan tagar terkait khilafah pun turut meramaikan jagat maya demi turut merayakan tahun baru Islam.

Seperti diketahui, media massa, dalam hal ini dunia maya, mampu menyebarkan opini dengan massif dan mudah. Oleh karenanya, dunia maya dijadikan alat paling ampuh demi tersiarnya paham-paham Islam. Salah satunya khilafah sebagai sistem absolut bagi pemecahan masalah yang menimpa kaum Muslim.

Maka tak heran, kemudian dunia maya menjadi standar suatu hal itu layak menjadi perhatian atau tidak melalui kata trending dan viral. Jelas, kaum Muslim hari ini tak lagi main-main terhadap keinginannya atas kembalinya kehidupan Islami sesuai tuntunan Syariah lewat tegaknya khilafah.

Sayang, peristiwa trendingnya #KhilafahWilBeBack, #HijrahMenujuIslamKaffah, #MomentumHijrahSyariahKaffah, dan #WeWantKhilafah masih ada pihak-pihak yang menyatakan bahwa ini hanyalah akal-akalan HTI. Bahkan suksesnya parade tauhid disinyalir ditunggangi HTI, tanpa melihat bahwa peristiwa besar ini adalah manifestasi dari begitu mendambanya umat akan hadirnya sang junnah. Bukan hanya sekedar ajang eksistensi bahwa HTI ingin diperhatikan.

Sungguh kekeliruan yang luar biasa, ketika keinginan umat hanya dijadikan alat demi membidik ajaran Islam. Keinginan umat Islam mestinya dijadikan salah satu pandangan bagi perubahan negeri ini ke arah yang lebih baik. Bukan malah menghadangnya lewat tuduhan radikalisme, memecah belah, anti NKRI dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, di momen tahun baru Islam, kaum Muslim mesti kembali memaknai hijrah sebagai momentum untuk kembali meraih ukhuwah yang selama ini tersekat oleh egoisme. Perbedaan harokah mestinya menjadi penguat bagi kembalinya Islam ke singgasana kejayaan. Maka oleh karena itu, seharusnya tak ada yang membenci persatuan umat Islam dalam bingkai ukhuwah. Sebab, sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz Felix Siauw pada Parade Ukhuwah dan Tabligh Akbar Umat Islam Solo, Ngarsopuro, Solo, Minggu ) 01 September 2019, “Maka ketika kaum Muslimin sudah berkumpul, tercipta ukhuwah diantara mereka. Temen-temen tahu siapa yang paling terganggu dengan ukhuwah? Yang paling terganggu adalah Iblis.” (beritaislam.org, 02/09/19)

Hijrah, Islam Kaffah, dengan Syariah Khilafah

Lihatlah kondisi umat Islam hari ini. Ketakutan hidup kian melingkupi lewat mahalnya harga bahan pokok, iuran BPJS yang dikabarkan akan naik, pendidikan kian hari kian semrawut, generasi muda terjebak pergaulan bebas, rumah tangga diambang perceraian, serta banyak lagi kesengsaraan terus menjelma menjadi hewan buas yang siap menerkam siapa saja yang lengah.

Maka lihat pulalah kondisi negeri ini. Birokrasi yang kian korup. Rezim yang kian dikuasai korporasi swasta dan asing. Independensi negeri yang kian runtuh sebab kian diintervensi oleh negeri-negeri barat. Referendum Papua yang kian memanas. Dan banyak lagi permasalahan yang tak kunjung mendapat penyelesaian secara konfrehensif.

Semua permasalahan yang kian banyak jelas bukan karena Islam kian eksis. Namun karena Islam kian menggelora, jelas para Iblis yang berada di balik oknum-oknum tertentu kian terkuak belangnya.

Ironi negeri berasas kapitalis sekuler jelas membuat Islam kian ingin mengentaskannya. Pemisahan agama dari kehidupan, pemanfaatan sumber daya alam yang tidak diperuntukkan demi kesejahteraan rakyat, serta pemerintahan yang hanya bertolak kepada keuntungan materil semata, mejadikan kaum Muslim geram.

Saatnya kita perbanyak doa, agar Allah membukakan mata hati kaum Muslim yang masih menolak khilafah untuk kemudian sadar. Tunduk akal dan hawa nafsunya terhadap syariah Islam. Bahwa khilafah adalah janji Allah yang tidak mungkin diingkari.

Kini, telah tibalah saatnya kaum Muslim untuk merapatkan barisan, menegakkan badan dan menguatkan genggaman tangan untuk berjuang menyongsong kembalinya sang mahkota kewajiban, yaitu khilafah dengan menggencarkan dakwah Islam Kaffah. Wallahu’alam bish-shawab.

Posting Komentar