Oleh: Mochamad Efendi 
(Pengamat dari el-Harokah Research Center)

Mediaoposisi.com-Kampus dengan label Islam harusnya memberikan kesejukan pada setiap orang bukan menyebarkan kebencian yang didasarkan pada asusmi yang disebar oleh orang yang tidak mampu berfikir jernih dan cemerlang. Sering karena kebencian seseorang tidak mampu melihat kebenaran sehingga bersikap dzalim pada orang yang dibenci. 

Spanduk terkutuk jika dipasang liar di jalanan mungkin masih wajar karena mereka tidak mampu berfikir yang benar. Mereka yang di jalanan mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian. Namun tidak wajar jika spanduk terkutuk yang menyebar kebencian ditemukan dilingkungan kampus yang berisikan orang-orang terpelajar dan berpendidikan tinggi. 

Mereka harusnya mampu berfikir cerdas dan cemerlang terbebas dari intervensi yang menyesatkan. Mereka harusnya tidak mudah kena hasutan orang-orang yang tidak menggunakan akal sehat saat bertindak.

Kampus dijadikan tempat untuk menyebarkan kebencian  terhadap HTI. Sebelumnya sudah pernah ada di Unbraw dengan mencatut satu nama orang penting dari kampus Tapi kecerdasan dan kematangan Universitas Brawijaya  menolak intervensi dari luar yang mengajak untuk membenci HTI, dengan menurunkan spanduk terkutuk yang berisi kebencian. 

Kita juga berharap UINSA yang merupakan kampus berlabel Islam akan melakukan hal yang sama. Jangan sampai kampus UINSA mau diadu domba oleh pihak luar dengan membenci saudara sendiri. UINSA harusnya bisa menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat untuk bisa bersikap yang arif dan bijak.

HTI bukan organisasi terlarang. Apa yang diperjuangkan hanyalah Islam dan cara yang dikakukan adalah apa yang dicontohkan rasullulah. Tidak ada bukti bahwa HTI adalah ormas Islam yang radikal karena perjuangan pemikiran yang dipilih bukan kekerasan. Tapi hembusan kebencian yang menciptakan radikalisme. Pengajian dibubarkan dengan cara kekerasan. 

Padahal yang disampaikan adalah ajaran Islam. Bendera tauhid, dinistakan dan dibakar juga karena dorongan kebencian.  

Jika kita berfikir jernih dan objektif tentunya kita tahu siapa yang radikal. Radikalisme bisa muncul karena terprovokasi oleh spanduk-spaduk terkutuk baik muncul di kampus atau terpasang liar di jalanan. Ini adalah perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Mereka menghembuskan kebencian dan mengadu domba umat. Seharusnya, orang-orang yang menyebar fitnah dan kebencian di tengah umat harus ditangkap. 

Karena mereka yang menyebarkan pemikiran radikal dengan mendiskreditkan satu pihak dan mengajak pihak lain untuk membenci dan memusuhi. Inilah paham radikalisme yang sebenarnya dihembuskan di tengah umat dengan cara memasang spanduk terkutuk di kampus atau di jalan  dan tempat umum lainnya. 

Umat dipecah belah dan diprovokosi untuk melakukan kekerasan dengan membenci dan memusuhi satu sama lain.

HTI tidak terbukti melakukan kekerasan dan mengajarkan radikalisme. Namun, penguasa rezime sering menyebarkan kebencian dan tuduhan yang bersumber dari asumsi yang salah. HTI hanya ingin sebuah perubahan Indonesia yang lebih baik. HTI mengajak seluruh komponen bangsa untuk diskusi dan menawarkan solusi fundamental dengan Islam secara kaffah. 

Aneh, mereka ketakutan jika Islam diterapkan secara kaffah. Mereka tidak mau tahu jika demokrasi adalah sumber permasalahan yang terjadi di negeri ini.

Hentikan kebencian terhadap HTI. Mari kita bicarakan bersama untuk Indonesia yang lebih baik. Islam tidak mengajarkan radikalisme. Namun, cara pandang penguasa dengan kaca mata radikalisme dan terorisme yang sering memicu terjadinya kekerasan di tengah umat. 

Sering, sikap penguasa yang tidak adil terhadap seluruh komponen bangsa bisa memunculkan radikalisme. Gagalnya negara dalam menjamin kesejehteraan dan kemakmuran secara adil dan merata akan memunculkan  kerusuhan seperti yang terjadi di Timika Papua sebagai luapan ketidakpuasan rakyat terhadap penguasa rezime.

Hentikan menyalahkan HTI atas setiap masalah yang terjedi di negeri ini karena ketidakmampuan penguasa rezime untuk mengatasi setiap permasalahan. 

HTI tidak pernah korupsi. HTI juga tidak ingin memisahkan diri dari NKRI seperti yang dilakukan kelompok bersenjata OPM di Papua. Kalau penguasa rezime gagal memimpin negeri ini, jangan mencari kambing hitam. Jadilah kesatria yang mengakui kesalahan tanpa menyalahkan yang lain dan berani mundur jika merasa gagal.

Hentikan fitnah terhadap HTI. Aparat penegak hukum yang mengerti hukum harusnya tidak ikut-ikutan menyebar kebencian. Penegak hukum harus bersikap adil terhadap semua rakyat termasuk HTI. Wahai, penguasa negeri bersikaplah adil pada seluruh rakyatmu. 

Jangan kau menyebarkan kebencian dan paham radikalisme di tengah umat. Jangan kau mengadu domba umat agar saling membenci dan bermusuhan satu sama lain. Turunkan dan tertibkan spanduk terkutuk yang menyebar kebencian yang memicu radikalism di tengah umat. [MO/vp]

Posting Komentar