Oleh: Mochamad Efendi
Mediaoposisi.com-Harga mati sering diucapkan untuk sesuatu yang tidak bisa dirubah bahkan untuk didiskusikan saja ogah meskipun salah.

Inilah sikap orang yang tidak mau berubah suka dengan kondisi yang sudah ada. Orang seperti ini anti perubahan dan tidak mau berfikir meskipun dia tahu bahwa apa yang dipegang sebagai harga mati bisa salah.  
Bahkan pada sebuah keyakinan sekalipun harusnya diperoleh dari proses berfikir sehingga akalnya puas dan hatinya tentram menerima keyakinan itu. Keyakinan yang diperoleh dari proses berfikir akan tertanam kuat dan kokoh sehingga tidak akan mungkin tercerabut bahkan jika harus didiskusikan sekalipun.
Namun, jika keyakinan diperoleh dari sebuah doktrin akan mudah dipatahkan sehingga mereka takut untuk berdiskusi karena sebenarnya dalam dirinya ada keraguan. Sehingga banyak mualaf yang memutuskan masuk Islam setelah melewati diskusi dan perang pemikiran dalam dirinya dan pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan keyakinannya yang lama dan masuk ke dalam Islam, agama yang benar.
Namun, orang-orang sombong akan menolak kebenaran. Sehingga mereka menutup diri dari kebenaran karena Allah mengunci hatinya dari hidayah yang bisa membawa mereka pada kebenaran.
Harga mati? Hanya orang-orang bodoh dan sombong saja yang berkata harga mati. Apalagi hanya untuk buah pemikiran manusia yang lemah dan bisa berubah. Tidak ada harga mati untuk pemikiran manusia jika tidak manusia akan mengalami kemunduran. 
Pengetahuan dan teknologi tidak berkembang  jika berfikir harga mati. Kebenaran tidak teruji jika tidak mau diskusi. Pemikiran manusia bersifat nisbi jadi tidak boleh berfikir harga mati. 
Apa lagi jika sesuatu itu melibatkan dan berdampak pada banyak orang seperti halnya aktivitas politik harusnya tidak boleh harga mati tapi harus didiskusikan secara terbuka sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.
Terutama rakyat harus dilibatkan karena aktivitas politik pada hakekatnya untuk mengurusi urusan rakyat. Jadi tidak boleh penguasa memaksakan satu penafsiran berdasarkan keinginannya sendiri yang menguntungkan.
Penguasa tidak boleh menutup mata dan telinga atas satu fakta kebenaran yang bisa jadi datang dari rakyat yang dia benci. Bisa jadi yang dianggap salah ternyata mengandung kebenaran dan memberi solusi fundamental untuk berbagai masalah kehidupan. 
Jadi penguasa rezime tidak boleh menutup diri dengan meyakini satu kebenaran dengan penafsirannya sendiri dengan mengatakan harga mati. Padahal harga mati yang dimaksud adalah untuk menjaga kepentingannya sendiri. Dalam demokrasi tidak ada yang harga mati kecuali kepentingan penguasa sendiri dengan mengabaikan kepentingan rakyat. 
Padahal rakyatlah yang mengantarkanya pada kursi kekuasaan. Namun, saat kekuasaan dalam genggaman tangannya, rakyat dilupakan. Bahkan yang berani menyampaikan kritik dan saran diancam dan tidak ada tempat bagi yang menginginkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.
Rakyat tidak punya kesempatan untuk menyampaikan keberatan atas kebijakan yang menyengsarakan rakyat karena para pemimpinnya berfikir harga mati. 
Penguasa yang ideal pasti dicintai rakyatnya karena dia tidak menutup diri atas satu kebenaran yang datangnya dari rakyatnya sendiri. Seorang pemimpin ideal harus bersikap terbuka. Dia tidak boleh menutup diri dengan menganggap pendapatnya harga mati dan mengabaikan pendapat yang lain.
Tapi demokrasi memang membentuk orang-orang yang haus kekuasaan. Untuk menjaga kekuasaannya, mereka pura-pura tuli dan berfikir harga mati. Mereka tidak mau diskusi secara terbuka karena takut ketahuan belangnya. Harga mati dan menolak diskusi hanya untuk mengamankan kepentingannya. 
Sementara jika tidak menguntungkan, ternyata dia mau merubah sesuatu yang dianggap sakral dan harga mati untuk menjaga kepentingannya. Komitmen bersama dan idealisme dia langgar hanya untuk mendapatkan kursi kekuasaan yang diinginkan.
Amandemen Pun dilakukan pada UUD yang dianggap sakral. Jadi sebenarnya tidak ada harga mati dalam demokrasi tapi kepentingan yang abadi. Bahkan sesuatu yang mereka anggap harga mati mereka akan langgar sendiri ketika tidak menguntungkan dan berlawanan dengan kepentingannya. [MO/sg]

Posting Komentar