Oleh: Wiwit Irma Dewi
(Pemerhati Sosial dan Media)

Mediaoposisi.com-Isu Islam radikal, hingga terorisme kembali dihembuskan ke tengah masyarakat oleh rezim saat ini. Dengan dalih deradikalisasi, pemerintah dan berbagai pihak terus menyerang dan memojokkan Islam dan berbagai ajaran di dalamnya.

Seperti istilah khilafah yang sengaja digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan dan harus dihindari. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu saat memberi kuliah umum kepada mahasiswa baru di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Ryamizard menegaskan khilafah tidak dapat diterima di Indonesia. Dia mengingatkan bahwa para mahasiswa itulah yang nanti bisa menyelamatkan Indonesia dari paham tersebut. (Detik.com)

Gagal pahamnya pemerintah terkait istilah khilafah merupakan hal yang sangat krusial, mengingat khilafah merupakan istilah yang tidak bisa dipisahkan dari Islam. Hal tersebut tentu akan memberi dampak buruk bagi pemahaman kaum muslim terhadap ajarannya. 

Bagaimana mungkin seorang muslim anti terhadap khilafah bahkan menolaknya, padahal jelas-jelas khilafah adalah bagian dari Islam itu sendiri.

Adanya agenda deradikalisasi secara masif yang dilakukan pemerintah jelas sebagai perwujudan bahwa rezim yang ada saat ini adalah rezim anti Islam. 

Bebagai cara dilakukan untuk membentuk stigma negatif terkait khilafah, bahkan alienisasi dan monsterisasi istilah khilafah terus digaungkan di mana-mana. 

Yang lebih parah lagi ketika ada yang mendakwahkan ide khilafah akan dicap sebagai seorang yang anti NKRI, tidak pancasilais, bahkan dianggap sebagai ancaman yang mengancam sosial budaya karena dianggap menimbulkan segregasi di tengah masyarakat.

Segala tudingan tersebut jelas tidak benar, itu semua mereka lakukan semata-mata untuk menghambat laju dakwah Islam, meredam kebangkitan umat yang kian lama kian terlihat. Dan ini tak bisa dilepaskan dari peran musuh-musuh Islam dibalik para penguasa negeri.

Sebagaimana yang kita tahu kebencian kaum kuffar begitu mengakar terhadap umat Islam, hal ini jelas terbukti dari fakra sejarah bagaimana mereka menghancurkan Islam dengan mengkerat-kerat "daulah khilafah Islamiyah" menjadi potongan negara bangsa, lebih dari 50 negara. 

Yang lebih parah lagi kaum kuffar dengan leluasanya mengangkangi negeri-negeri kaum muslim dengan melakukan penjajahan gaya baru, secara rakus mereka merampok negeri-negeri kaum muslim dan melakukan penganiayaan tanpa belas kasihan.

Mereka sadar bahwa dengan bersatunya umat Islam dalam satu institusi (khilafah) akan membawa umat Islam pada kebangkitan dan kegemilangan kembali, itulah yang mereka takuti. Sadar bahwa kebangkitan umat Islam adalah sebuah ancaman bagi imperialisme mereka, berbagai cara mereka gunakan untuk mencegah atau minimal memperlambat laju kebangkitan Islam.

Penanaman sikap patriotisme/nasionalisme, jerat ekonomi, perusakkan generasi muda, pembentukkan organisasi untuk mewadahi ghirah umat Islam (sebagai kamuflase) dan adanya penguasa boneka adalah cara-cara yang digunakan kaum kuffar untuk menghalau dakwah Islam.

Penguasa yang ada saat ini adalah cerminan penguasa boneka, yang digunakan sebagai alat mempertahankan hegemoni imperialisme kapitalis yang tengah berkuasa. Para penguasa kapitalis sengaja membuat umat jauh dari agamanya, hal ini tidak aneh mengingat bahwa sistem kapitalis adalah sebuah sistem yang berdiri di atas sekularisme (pemisahan kehidupan dengan agama, pemisahan agama dari negara). 

Tak ayal jika kita jumpai banyak umat Islam yang takut bahkan menolak syariat Islam termasuk khilafah, diakibatkan virus sekularisme ini. Hal itu pula yang menjadikan turunnya taraf berpikir umat, terjauhkannya umat dari hukum Syariat. Dan itulah yang dikehendaki oleh musuh-musuh Islam.

Padahal sejatinya Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, yang akan memberikan kebaikan bagi seluruh aspek kehidupan. Islam bukan hanya sekedar aqidah ruhiyah semata melainkan juga aqidah siyasiyah (politik), oleh karenanya selain melahirkan pemikiran terkait akhirat Islam juga memiliki pemikiran terkait aturan kehidupan manusia di dunia.

Ketika keduanya dikombinasikan maka akan tercipta "Islam kaaffah" yang dengannya akan muncul berbagai kemaslahatan umat, diantaranya terjaganya jiwa, akal, agama, keturunan, kehormatan, harta, kemanan dan negara yang diperlukan oleh individu dan seluruh masyarakat juga negara.

Jelas tudingan khilafah sebagai sebuah ancaman semata-mata datang dari rezim panik kapitalis-sekular, yang takut akan kebangkitan umat Islam. Umat Islam tidak perlu khawatir apalagi sampai menolak khilafah, justru dengan Syariat dan khilafahlah generasi mulia akan hadir di tengah umat, generasi yang jauh dari gaya hidup hedon dan kunsumtif, generasi yang akan menjadi pemimpin peradaban gemilang dengan pemikiran yang cemerlang.

Terlepas dari berbagai kemaslahatan yang diberikan, penerapan atas hukum syariat dan khilafah adalah perkara wajib, hal tersebut telah disepakati oleh berbagai mazhab dan ulama-ulama masyhur.
Dengan penerapan Islam secara kaffah maka akan memberikan kesejahteran, kenyamanan, dan keamanan yang real. Tidak seperti pada sistem kapitalisme-sekuler yang hanya memberi ilusi kesejahteraan di tengah kebobrokan dan kerusakan sistem buatan akal manusia tersebut. Wallahua'lam.[MO/vp]










Posting Komentar