Oleh: Siti Subaidah
(Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Pendidikan karakter kini menjadi hal yang urgent untuk segera disosialisasikan. Bukan tanpa sebab, maraknya perilaku buruk yang dilakukan oleh generasi muda kita dari tahun ke tahun menjadi problem tersendiri dan tentu menyita banyak perhatian. 

Lihat saja bagaimana angka kriminalitas remaja terus meningkat, belum lagi pergaulan bebas serta bullying yang kerap kali menyelimuti pergaulan generasi kita. Hal ini pula yang mendasari dilakukannya berbagai upaya dari dinas terkait untuk segera mengatasinya baik di level nasional maupun daerah.

Di Balikpapan sendiri hal ini pun telah dilakukan. Dilansir dari INIBalikpapan.com (13/08/19), sekitar 97 siswa ABC kelas V SD Nasional KPS Balikpapan mengikuti seminar Bullying (perundungan) dan Pubertas yang diselenggarakan pihak sekolah bersama Komisi X DPR RI. 

Dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua Komisi X Bidang Pendidikan DPR RI Hetifah Sjaefudian  memotivasi dan mengajarkan langsung kepada siswa agar menghindari perbuatan bullying kepada sesama siswa baik di sekolah maupun di rumah. 

Menurut beliau, sejak usia dini perlu diperkenalkan sikap-sikap toleran, saling menghargai, tidak menyakiti dan lingkungan sekolah harus mendukung itu supaya mereka nyaman mengikuti kegiatan belajar.

Selain itu, wakil walikota Rahmad Mas’ud meyakini memiliki karakter yang kuat dan moral yang baik sebagai salah satu syarat menjadi generasi yang cemerlang untuk menjadi pemimpin. Program pendidikan karakter yang disampaikan wakil Ketua Komisi X akan berdampak positif bagi tumbuh kembang anak-anak SD hingga SMA. “Kami berharap program ini bisa merata dan manfaatnya sangat baik bagi generasi penerus bangsa,”tuturnya

Pendidikan karakter dinilai sebagai solusi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul di lingkungan remaja dengan anggapan bahwa perbaikan karakter akan menghasilkan generasi terbaik dalam hal pengetahuan dan moral. 

Sebagai catatan, pendidikan karakter merupakan program turunan dari Sekolah Ramah Anak ( SRA). Program Sekolah Ramah Anak tidak lepas dari pengembangan program Kota Layak Anak ( KLA) karena pemenuhan 31 hak anak juga melalui lingkungan sekolah, dalam artian sekolah ramah anak dibutuhkan untuk meraih predikat Kota Layak Anak.

Bias Dalam Program Sekolah Layak Anak

Terkait kebijakan pendidikan karakter dalam program sekolah ramah anak nampaknya masih di nilai bias dalam hal tujuan dan prinsip kebijakannya. Salah satu prinsipnya yaitu adanya penghormatan terhadap pandangan anak yang mencakup penghormatan atas hak anak untuk mengekpresikan pandangan dalam segala hal yang mempengaruhi anak. 

Hal ini tentu dapat diartikan dengan perspektif yang berbeda- berbeda tergantung kepentingan yang ada didalamnya. Hal inipun menjurus pada kebebasan berpendapat dan berekspresi yang gencar digaungkan saat ini. Terlihat baik memang, namun tentu perlu adanya kajian akan dampak yang ditimbulkan.

Sebagai contoh, kasus salah satu guru di Sidoarjo yang dipolisikan karena mencubit siswanya yang tidak mau ikut kegiatan shalat dhuha. Padahal kegiatan  tersebut merupakan kebijakan sekolah untuk menumbuhkan sikap bertaqwa kepada siswanya. 

Insiden pencubitan tersebut juga dilakukan dalam koridor mendidik anak. Namun ketika hal ini dibenturkan dengan prinsip sekolah layak anak, maka si anak mendapat perlindungan hukum padahal ia jelas salah karena tidak taat pada kebijakan yang telah dibuat oleh sekolah.

Hal yang harus digarisbawahi dalam program ini adalah sefatal apapun kesalahan anak maka ia tidak dapat dijerat hukum. Kasus narkoba, zina, bahkan pembunuhan sekalipun hanya ditindak dengan pembinaan dan pengawasan. 

Hal ini dikarenakan pemerintah sendiri telah menetapkan usia dewasa dengan batas 17 tahun keatas maka dibawah dari usia tersebut masih dikatakan sebagai anak-anak. Dengan adanya landasan seperti ini masih dapatkah program ini  menyelesaikan masalah generasi atau malah menambah permasalahan baru?

Pendidikan Karakter Ala Islam Tuntaskan Problem Remaja

Berbicara soal pendidikan, sektor ini mendapat perhatian khusus dalam islam. Bahkan bisa dikatakan basic atau pokok dalam menjadikan islam sebagai mercusuar peradaban. Hal ini dikarenakan pilar peradaban berasal dari para generasi. 

Tentu untuk membentuk peradaban yang gemilang diperlukan generasi yang tangguh dan berkarakter yaitu generasi yang bersyaksiyah islam ( berkepribadian islam) dengan aqidah sebagai dasarnya.

Untuk mewujudkan hal itu, pendidikan karakter dalam islam berorientasi untuk membentuk aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah ( pola sikap) IslamHal itupun dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga dengan dasar penanaman aqidah islam dalam seluruh aktivitas. 

Hal itu antara lain penanaman keimanan, pembinaan ibadah, pendidikan akhlaq, pembentukan jiwa, pembentukan intelektual, dan pembinaan kemasyarakatan. Jadi didalam islam, kewajiban pengajaran tidak serta merta di bebankan hanya pada sekolah layaknya sekarang.

Islam pun tidak membedakan antara anak laki-laki dan perempuan dalam bidang pengajaran dan pendidikan. Mereka sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan agar dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan diatas pundaknya kelak.

Di sekolah pun aktivitas pembentukan syaksiyah islam menjadi point utama dalam pendidikan islam. Disini  anak-anak dibentuk menjadi pribadi yang tak hanya cerdas intelektualnya namun juga berakhlaq. 

Penanaman nilai-nilai islam seperti takut kepada Allah, amanah, cinta kepada akhirat dan lain-lain terus diberikan. Sehingga individu-individu yang lahir dari pendidikan islam adalah individu yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki kepribadian luhur islam yaitu selalu memotivasi diri berlomba-lomba dalam kebaikan dan tentunya menjadi generasi yang bermanfaat.

Berbeda dengan sekolah saat ini walaupun pembentukan kepribadian ada namun sangatlah minim, dalam artian sekolah saat inj hanya fokus pada nilai akademik. Sekalipun berusaha membentuk kepribadian dan karakter, tetapi output yang dihasilkan adalah individu-individu yang sekuler (memisahkan aturan agama dari kehidupan) atau jauh dari kepribadian islam. 

Sehingga wajar saja kita dapati remaja saat ini adalah remaja yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya tanpa peduli konsekuensi terlebih lagi dosa.

Dengan mekanisme pendidikan karakter dalam islam, remaja bangga dengan tugas mulianya sebagai pilar dan pemimpin peradaban. Tidak seperti sekarang yang malah menjadi beban dan begitu banyak menyita perhatian. Wallahu alam bishawab. [MO.ip]

Posting Komentar