Oleh: Trisnawaty Amatullah 
Mediaoposisi.com-Gemuruh teriakan merdeka, merdeka, merdeka. Terdengar  dari segala penjuru arah. Mengingat hari itu adalah peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74.
Dimeriahkan dengan berbagai lomba. Mulai lomba tarik tambang. Di saat yang sama tambang kita dirampok oleh asing. Lomba makan kerupuk. Disaat harga kebutuhan pokok mencekik. Lomba panjat pinang. Disaat hukum di negeri ini pincang.
Faktanya kemerdekaan yang diperingati setiap tahun adalah kemerdekaan semu. Bagaimana tidak. Kita masih terkungkung kemerosotan diberbagai lini. Privatisasi SDA. Berbagai impor yang merugikan rakyat . Hal yang serupa peristiwa 22 mei dan korban anggota KPPS. Namun  tampaknya penguasa mengalami amnesia terkait peristiwa tersebut.
Sejatinya kemerdekaan harus sejalan dengan yang disampaikan Sayyid Qutub, “ Pembebasan manusia secara umum di muka bumi dari penghambaan kepada sesama manusia termasuk penghambaan kepada hawa nafsunya yang juga merupakan penghambaan kepada sesama manusia dengan cara memproklamirkan ketuhanan Allah swt semata dan kekuasaanNya untuk mengatur seluruh alam” inilah kemerdekaan hakiki. Belum usai bersorak di hari kemerdekaan. Justru bagian timur Indonesia bergejolak.
Papua Bergejolak, Bukti Negara bermental Kerupuk ?
Merah putih ternoda. Peserta aksi membakarnya. Aksi kerusuhan pecah di Manokwari sejak senin pagi (19/8/2019). Massa disebut membakar gedung DPRD dan sejumlah kantor instansi lainnya. Kerusuhan dipicu kejadian di Surabaya dan Malang yang telah disebut telah menghina warga Papua (KOMPAS.com). 
Isu yang mencuat di publik adalah rusuh di Surabaya bernuansa rasis karena adanya teriakan “Mahasiswa Papua Monyet”. Problem Papua adalah problem krusial (genting). Dibalik berderetnya problem kemiskinan, ketidakadilan, ancaman disintegrasi, ketertindasan, pembantaian sipil dan militer oleh OPM hingga rusuh di Manokwari.
Problem itu berpangkal absennya negara di Papua. Ketidakhadiran negara memicu ketidakadilan. Merasa dianak tirikan. Ini menjadi celah bagi kapitalisme global asing turut andil demi kepentingan.
Negara tak berdaya tatkala gerakan separatisme terorisme OPM  secara lantang mengumumkan perang kepada negara. Menyandera dan membunuh anggota POLDA Papua. Tragisnya, dengan mengirim mayatnya kepada institusi tempatnya bekerja. Negara bungkam.
Tidak ada lagi teriakan “Aku Pancasila” , NKRI harga mati dan negara tidak boleh kalah. Dimana negara tatkala merah putih dibakar?. Statement dari orang nomor 1 negeri ini, menghimbau saling minta maaf. Apa arti hiruk pikuk perayaan kemerdekaan makan kerupuk?. Apakah negeri ini bermental kerupuk ?. Menunjukkan taring menghadapi rakyat, tapi ciut menghadapi OPM?.
Solusi Tuntas
Ditengah teriakan Papua merdeka, penting untuk dipahami khususnya rakyat Papua. Pemisahan Papua dari Indonesia bukanlah solusi. Meminta bantuan negara-negara imperialis merupakan bunuh diri politik. Memisahkan diri akan memperlemah Papua. Membuka kerang seluas-luasnya bagi negara imperialis memangsa kekayaan alam dan sumber daya negeri Papua.
Mulusnya upaya pemisahan Papua tidak bisa dilepaskan dari kegagalan rezim liberal mensejahterakan rakyat Papua di tengah kekayaan alam yang luar biasa. Pangkalnya penerapan demokrasi kapitalisme. Sistem demokrasi telah memuluskan berbagai UU liberal mengesahkan perusahaan asing seperti Freeport untuk merampok kekayaan alam Papua.
Tidak ada jalan lain untuk keluar dari persoalan ini kecuali mencampakkan demokrasi kapitalisme. Menerapkan syariah islam dalam naungan khilafah. Syariah islam akan menjaga keamanan dan menjamin kesejahteraan seluruh rakyat tanpa melihat suku, warna kulit, bangsa maupun agama.
Syariah islam akan menghentikan imperialisme Amerika, Inggris, Australia dan Barat. Menutup celah bagi negara imperialis memecah dan menguasai negeri ini. Allah swt berfirman, “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum mukmin “ (TQS an-Nisa [4]:141).
Wallahu ‘allam [MO/sg]

Posting Komentar