Oleh : Dila Kamilah Amalia, S.Kep
(Perawat Muda, Mahasiswi Program Profesi Ners)

Mediaoposisi.com-Islam adalah agama yang di turunkan Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesama manusia serta hubungan sebelum dan sesudahnya.

Hubungan sebelumnya dikaitkan dengan darimana manusia berasal dan sesudahnya akan kemanakah manusia setelah alam kehidupan ini. Tentu jawabannya adalah berasal dari Allah & akan kembali pada Allah. Lantas, apa yang dilakukan manusia di dunia? Dalam surat Az-Zariyat : 56
Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum kehidupan adalah ketundukan manusia terhadap berbagai perintah dan larangan Allah SWT (Syariat), sedangkan hubungan antara kehidupan dunia dengan sesudah kehidupan dunia adalah adanya hari kiamat yang didalamnya terdapat pahala dan siksa, serta surga & neraka.

Maka disini jelas, bahwa Islam bukan hanya sebuah agama ritual yang mengatur urusan ibadah dengan Allah semata. Namun, Islam adalah sebuah ideologi atau pandangan hidup bagi para pemeluknya. Ideologi Islam, mampu memancarkan peraturan hidup dari lini kehidupan sehari-hari maupun kehidupan bernegara.


Penerapan syariat Islam secara menyeluruh, dapat direalisasikan melalui 3 pilar yaitu individu, masyarakat dan negara. Jika peranan individu adalah meningkatkan ketaqwaannya pada Allah SWT, peranan masyarakat adalah peduli terhadap sesama manusia maka, peranan negara adalah menerapkan syariat Islam secara kaffah dengan menjadikan Alquran & As-Sunnah sebagai pedomannya.

Penerapan syariat secara kaffah akan menjadi pintu kemashlahatan bagi setiap orang, dimana setiap hukum-hukum yang tidak bisa dilaksanakan secara individu melalui negara dapat dilaksanakan seperti, uqubat contohnya.

Namun sayang. Di alam demokrasi ini, ketundukan kaum muslimin terhadap penerapan total dari syariat tidak dapat dilaksanakan secara utuh, mengutip dari hasil Ijtimak Ulama IV yang disampaikan oleh Habib Luthfi bin Yahya. Menegaskan  bahwa penerapan syariat Islam dan penegakan khilafah adalah kewajiban bagi setiap muslim ini. Reaksi nyata dari Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan, pemerintah tidak menganggap Ijtimak Ulama IV yang salah satu rekomendasinya mewujudkan NKRI syariah sesuai Pancasila dan menegaskan semua hal yang berlawanan dengan Pancasila harus dilawan.

"Begini, negara kita ini kan bukan negara Islam. Negara kita ini negara... sudah jelas ideologinya, ideologi lain nggak bisa dikembangkan di sini. Sepanjang itu berlawanan dengan ideologi Pancasila, ya harus dilawan," kata Moeldoko saat dimintai tanggapan di Istana Negara, Selasa (6/8/2019) Dikutip dari Detik.news

Hal senada juga dilontarkan oleh Sekjen PPP Arsul Sani mengatakan tidak boleh ada pihak yang mengubah ideologi dan bentuk negara. Asrul mengatakan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI telah disepakati sebagai konsensus kebangsaan. Keempatnya merupakan pilar bangsa dan bersifat final.

"Tidak boleh diutak-atik. Jadi tidak boleh kemudian ada orang Islam di negara ini yang karena pemahaman keagamaannya lalu ingin mengubah ideologi atau dasar negara kita atau bentuk negara kita. Dari negara kesatuan menjadi misal negara dengan sistem khilafah," ujar Arsul di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (6/8).


Rezim saat ini, bukan hanya mengomentari hasil Ijtimak Ulama secara blak-blakan saja, namun juga mengkambing hitamkan HTI, ormas Islam yang telah dicabut BHP nya pada tahun 2017 silam sebagai akibat dari masifnya isu khilafah saat ini.

"HTI harus dialienisasi, dimunculkan fakta kalau mereka berlawanan dengan karakter masyarakat Indonesia. Kalau mereka mengkampanyekan khilafah, harus ada narasi kalau NKRI sudah Islami. Narasi itu harus lebih tinggi, sehingga HTI tidak laku," Kata Analis Intelijen dan Keamanan, Ridlwan Habib saat ditemui Gatra.com di kawasan Setia Budi, Jakarta, Jumat (9/8).

Mengapa menjadi sangat alergi dengan syariat Islam? Padahal khilafah adalah ajaran Islam, sistem pemerintahan Islam yang pernah di praktekan langsung oleh Rasulullah SAW  kulturnya adalah sunnah yang pernah di contohkan oleh para Khulafaur Rasyidin, dilanjutkan oleh generasi setelahnya serta merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menerapkannya.

Inilah upaya musuh Islam & wajah dari sistem demokrasi kapitalisme yang terus menghembuskan opini-opini busuk dengan mestigmaisasi khilafah. Ideologi kapitalisme ala barat yang sudah bercokol dipikiran orang orang seperti ini lah yang harus diwaspadi. Sungguh mengherankan memang, jika ada orang yang mengaku dirinya sebagai muslim & beriman, namun mereka anti dengan aturan aturan yang berasal dari Islam.

Sistem demokrasi kapitalis ini telah rusak, dan secara praktis telah terbukti tidak mampu memberikan kebaikan pada kaum muslim. Maka, solusi dari kejadian ini adalah, campakan demokrasi kapitalisme yang sama sekali tidak memberi ruang terhadap Islam, yang terus menebar Islamphobia ditengah-tengah masyarakat. Segeralah beralih dan memperjuangkan tegaknya Khilafah agar kemashlahatan umat terjamin & penerapan syariat Islam total dapat dilaksanakan.[MO/vp]

Posting Komentar