Oleh: Asfian Nurrabianti
(Mahasiswi)
Mediaoposisi.com-Beberapa bulan yang lalu kita telah mendengar bagaimana keputusan MK terhadap tuntutan pihak pasangan calon (paslon) nomor urut 2 mengenai kemenangan yang diraih oleh pasangan calon nomor urut 1 atas pemilihan Presiden Indonesia 2019-2024 yang diumumkan pada bulan April lalu yang dinilai banyak terjadi kecurangan dimana-mana selama pemilihan.
Oleh karena itu, dari pihak paslon nomor urut 1 mengajukan permohonan bahwa kemenangan yang diraih paslon nomor urut 1 merupakan hasil kecurangan belaka. Semua dokumen-dokumen yang menjadi bukti kecurangan yang dilakukan paslon nomor urut 1 diserahkan kepada MK, dan pada tanggal 27 Juni 2019 MK mengumumkan keputusannya.
Hasil dari sidang sengketa menyatakan bahwa permohonan yang diajukan paslon nomor urut 2 ditolak. Namun jika kubu 02 memenangkan pemilihan dan tetap dilantik sebagai presiden dan wakil presiden, kedudukan mereka dipandang sebelah mata oleh rakyat Indonesia.
Ketatnya kompetisi antara dua kubu ini menyebabkan banyaknya perpecahan, kubu 01 menuduh bahwa kubu 02 merupakan dibawah kelompok Islam radikal, pro HTI, pro Khilafah dan sebagainya. Sebaliknya dari kubu 02 menuding kubu 01 pro komunis dan membawa jaringan kelompok liberal yang hanya menguntungkan asing.
Mari kita berpikir sejenak, mengapa semua ini bisa terjadi dan menjadi sepanas ini? Tidak lain tidak bukan hal ini diakibatkan karena haus kekuasaan.
Kapitalis sekuler merasuki otak dan hati setiap insan untuk saling merebut kekuasaan, mencari keuntungan pribadi, dan tidak dipakainya aturan-aturan agama dalam dunia politik.
Dalam Islam sendiri, menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah amanah besar dan semua orang belum tentu mampu untuk mengemban amanah tersebut. Menjadi pemimpin berarti mampu melayani kepentingan-kepentingan rakyat dan negara bukan malah mementingkan kepentingan pribadi.
Pemimpin dalam Islam ialah pemimpin yang dicintai rakyatnya, dan pemimpinnya pun mencintai rakyatnya, bukan dipandang sebelah mata dan menimbulkan perpecahan dan kebencian dalam rakyatnya.
Dalam Islam tidak ada saling berebut kekuasaan, saling menuduh seperti apa yang terjadi pada saat ini. Jadi tidak mungkin negara ini akan maju jika tetap menerapkan sistem yang rusak. Awalnya saja sudah membuat kerusakan besar apa lagi diterapkan dalam waktu yang lama. 
Maka sudah jelas banyak kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh sistem sekuler saat ini. Dari pihak-pihak petinggi negara saja sudah terpecah belah dan tidak mendukung satu sama lain, bagaimana caranya mengurus rakyat dan negara jika pada diri mereka sendiri saja masih terdapat perpecahan dan kerusakan?
Solusi yang paling tepat demi terwujudnya negara yang harmonis adil dan makmur tanpa adanya perpecahan dan kecurangan dimana-mana ialah Khilafah. Kenapa, karena di dalamnya Islam diterapkan, dan peraturan dalam Islam sangatlah komplit mulai dari bangun tidur sampai bangun negara. Tak ada satupun yang terlewatkan.
Bagaimana? Masih mau setia dengan dengan sistem sekuler setelah banyaknya kerusakan dimana-mana? [MO/sg]

Posting Komentar