Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Pada bulan agustus banyak orang merayakan kemerdekaan RI. Rumah-rumah dihiasi dan berbagai lomba diikuti untuk merayakan kemerdekaan. Mereka mengadakan tasyakuran di pos pinggir jalan untuk kemerdekaan. Uforia kemerdekaan muncul hanya di bulan Agustus. Benarkah mereka telah merdeka?

Merdeka adalah saat kita berani menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran yang bersumber dari keyakinan. Merdeka saat kita mampu berislam secara kaffah di tengah banyaknya persekusi dan kriminalisasi. Walaupun punya jabatan tinggi, tapi tidak berani menyampaikan kebenaran, berarti dia belum merdeka. 

Banyak saudara kita mengakui bahwa khilafah adalah Islami, ajaran Islam, tapi tidak berani memperjuangkannya karena takut dianggap radikal dan makar. Bahkan meskipun dia seorang kyai dan punya jabatan tinggi sebagai wakil presiden pada hakekatnya dia belum merdeka  sebelum berani berislam secara kaffah.

Jika meyakini khilafah Islami tapi kenapa menganggapnya sebagai ancaman? Khilafah akan mengancam rezime dzalim dan anti-Islam, tapi berbagai masalah kehidupan akan terselesaikan dengan khilafah. Kriminalisasi ulama' dan persekusi tidak mungkin akan terjadi dalam sistem khilafah. 

Ulama' akan dijadikan rujukan setiap mengambil kebijakan. Suara ulama' akan didengar dan dipertimbangkan bukan dianggap sebagai ancaman. 

Tuduhan makar juga tidak pantas jika ditujukan pada ulama' karena mereka tidak menggunakan senjata yang bisa memaksa satu keputusan. Ulama' hanya menyampaikan kebenaran dari ajaran Islam yang mulia lewat lisan dan tulisan mereka. Jadi tuduhan makar adalah sesuatu yang berlebihan.

Sudah tahu bendera tauhid adalah bendera rasullulah kenapa harus alergi dan takut mengibarkannya. Para pejabat publik ketakutan dan menunjukkan islamofobia padahal mereka mengaku muslim dan tinggal di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 

Aneh, mereka terjajah oleh pengaruh asing dengan mengimpor islamofobia dari negeri kafir penjajah yang tidak mengiinkan kebangkitan Islam. Bahkan anak MAN saja mampu melepaskan diri dari pemikiran penjajah yang menginginkan umat Islam membenci agamanya sendiri. 

Mereka masih remaja tapi berani mengibarkan bendera tauhid dengan bangga di tengah arus islamofobia yang diimpor rezime masuk ke dalam negeri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Pemimpin muslim di negeri Muslim tapi tidak berani berislam secara kaffah berarti mereka masih terjajah. Setiap kebijakan yang diambil tak lepas dari intervensi asing. 

Pemimpin terjajah tidak manpu menyuarakan kebenaran yang diyakini dari agama yang benar. Sebagai seorang muslim, mereka harusnya berani berislam secara kaffah karena itu adalah perintah Allah yang harus ditaati. 

Itulah pemimpin merdeka yang berani melakukan yang benar tanpa ragu. Jika meyakini khilafah ajaran Islam harusnya berani untuk memperjuangkannya bukan menganggap khilafah sebagai ancaman.

Islam adalah solusi fundamental untuk masalah kehidupan. Hanya khilafah yang mampu menerapkan Islam secara kaffah. Banyak ajaran Islam yang wajib tidak bisa diterapkan karena tidak adanya khilafah. 

Oleh karena itu khilafah wajib kita perjuangkan. Jika kita memang merdeka, harus berani mengatakan ya untuk khilafah. Jangan ragu atau bimbang untuk menjadikan khilafah solusi fundamental.

Kalau kita merasa merdeka jangan takut mengatakan tidak pada demokrasi kerena berbagai masalah kehidupan muncul karena diterapkannya sistem yang rusak ini. Berbagai penyimpangan marak terjadi pada sistem demokrasi yang mengagungkan kebebasan bertingkah laku. 

Vedio mesum viral jadi berita setiap hari. LGBT berani unjuk gigi dan ingin diakui. Sungguh, Ngeri narkoba telah menyebar bahkan pada remaja dan anak-anak. Generasi dirusak dengan berbagai cara. Banyak dari mereka yang menenggelamkan diri hanya pada kesenangan sesaat. 

Jika kita memang merasa merdeka, kita harus berani menolak demokrasi dan menggantinya dengan khilafah yang akan menjamin diterapkan Islam secara kaffah. [MO/vp]

Posting Komentar