Oleh : Sari Ningsih
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Menuju Indonesia yang diberkahi, demikian kutipan tema diatas. Menjadi harapan dan keinginan semua lapisan masyarakat Indonesia yang masih memiliki hati nurani, yang terselip di lubuk hatinya rasa cinta dan kebaikan-kebaikan untuk Indonesia.

Diberkahi berarti adanya nilai kebaikan yang semakin bertambah, tentunya nilai kebaikan yang akan mewujudkan pada ketaatan dan keridhoan untuk berhukum pada hukum yang membuat manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT.

Demikian halnya dengan pertemuan ulama dan tokoh nasional pada Ijtimak Ulama 4, yang diadakan pada Senin, 5 Agustus 2019, dengan tema" Memperkuat Arah Perjuangan Umat Islam Indonesia". Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa cinta dan kepedulian umat Islam, khususnya yang direpresentasikan oleh para ulama pada negeri tercinta, yaitu Indonesia.

Hasil Ijtimak Ulama 4 salah satu poinnya adalah bahwa sesungguhnya semua ulama ahlusunnah wal jamaah telah sepakat bahwa penerapan syariah dan penegakan khilafah serta amar ma'ruf bagi mungkar adalah kewajiban umat islam.

 Akan tetapi hasil Ijtimak Ulama 4 dipandang pemerintah dan politisi salah satunya sekjen PPP Arsul Sani sebagai suatu ancaman dan perlu untuk ditolak.

Yang penting untuk diingat oleh bangsa Indonesia, khususnya rezim yang berkuasa saat ini, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari perjuangan dan pengorbanan para ulama dan umat Islam yang berada pada garda terdepan dalam mengusir penjajah yang berkeinginan kuat menguasai Indonesia.

Merupakan tuduhan dan fitnah yang keji bila acara Ijtimak Ulama 4 dipandang sebagai sesuatu yang akan memecah belah bangsa ataupun merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Justru keterlibatan para ulama dan tokoh nasional dalam rangka untuk mengokohkan persatuan dan kesatuan yang lebih luas lagi, yaitu menjadikan Indonesia bagian dari peradaban dunia yang membawa misi kebaikan hakiki. Tentu kebaikan hakiki ini tidak di dapat dan tidak pernah bisa di dapatkan pada sistem yang saat ini diterapkan di Indonesia, yaitu sistem kapitalis-sekular.

Sistem kapitalis sekuler telah nyata merenggut nilai kebaikan dan kemanusiaan pada diri manusia itu sendiri.

Berbuat sesuatu berdasarkan asas manfaat, halal dan haram tidak lagi menjadi tolak ukur dalam berbuat. Wajar bila sistem sekuler kapitalis telah menyuburkan tindak kejahatan korupsi,kriminalisasi, prostitusi, dan seabreg kemaksiatan yang semakin difasilitasi oleh kaum berdasi maupun politisi.

Tentu Indonesia butuh solusi kongrit untuk mengentaskan berbagai permasalahan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalis-sekular. Sistem ini telah nyata menunjukan kebobrokan dan kerapuhannya. Saatnya Indonesia beralih pada satu sistem yang paripurna, sistem yang menjamin kemaslahatan bagi umat manusia seluruhnya, yaitu sistem Islam. Kenapa mesti dan harus sistem Islam??

Karena Sistem (aturan) Islam tegak diatas aqidah yang terang, jelas, dan tidak ada kesamaran didalamnya. Aqidah yang menjelaskan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Dari aqidah ilahiyah ini lahir sebuah sistem (aturan) untuk memecahkan permasalahan manusia, aturan tersebut adalah apa yang ada dan tertera di dalam Al-qur'an dan As-sunnah.

Adapun tatacara pelaksanaannya melalui keberadaan institusi negara. Dalam pelaksanaan sistem tersebut berpegang pada 2 prinsip yaitu ketaqwaan dan keimanan seorang muslim atas kebenaran dan pentingnya sistem Islam disatu sisi, serta tajamnya undang-undang dan sanksinya disisi lain. Dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, tentu akan menjamin kemaslahatan dan keberkahan dunia dan akhirat.

Bukti keberhasilan sistem Islam yaitu  sistem Islam telah diterapkan selama 13 abad lamanya. Mengapa sistem Islam dapat diterapkan selama belasan abad lamanya?

Pertama, sistem Islam mampu merubah bangsa arab keseluruhan, dari bangsa yang sangat rendah dan terbelakang menjadi bangsa yang derajatnya  tinggi dan maju.

Bangsa yang sebelum Islam datang menjadi bangsa yang suka berperang memperebutkan padang rumput dan lahan pengembalaan, yang kuat memakan yang lemah, yang kaya menindas yang papa, persis seperti negara-negara yang mengadopsi sistem kapitalis-sekuler saat ini.

Kemudian datanglah Islam membawa mereka ke tingkat kemuliaan. Bangsa arab dibawah sistem sistem Islam terdahulu, senantiasa memikirkan bangsa lain dan berupaya membangkitkan mereka, menuntunnya dari kegelapan menuju cahaya Islam.

Kedua, sistem Islam mampu melebur dengan bangsa-bangsa lain yang memiliki perbedaan dalam hal bahasa, adat istiadat, bahkan perbedaan agama dan keyakinan. Islam mampu menjadikan mereka semua sebagai umat yang satu dengan berbagai keragaman budaya yang ada.

Menjadi sebuah tuduhan tanpa dasar yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan yang tidak memahami sistem Islam yang menganggap bahwa sistem Islam sebuah ancaman bagi kebinekaan dan keberagaman bangsa Indonesia. Mereka berupaya mengkriminalisasi dan mendiskreditkan umat Islam dan ajarannya yang mulia.

Ketiga, islam tidak cukup hanya membangkitkan dan melebur berbagai bangsa yang berbeda-beda sebagai umat yang satu. Lebih dari itu, Islam menjadikan sebagai umat yang satu sebagai umat tertinggi diseluruh penjuru dunia.

Baik dari segi hadharoh (peradabannya), madaniah (budayanya), tsaqofah atau pun ilmu pengetahuannya selama kurun waktu 13 abad. Sejak pertengahan abad 7 masehi hingga 18 masehi, sebuah kurun waktu yang hingga sekarang belum pernah ada satu bangsa atau umat pun didunia ini yang mampu bertahan sebagai negara adidaya, selain Islam.

Maka sebuah kesombongan dan rendahnya cara berfikir orang-orang yang menolak berhukum dengan sistem Islam, dengan sederet kemuliaan dan kegemilangan yang telah berhasil diwujudkan 13 abad lamanya.

Cukuplah firman Allah dalam surat Al-a'raf ayat 96 menjadi renungan kita, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan”.[MO/vp]


Posting Komentar