Oleh : Merli Ummu Khila 
(Kontributor Media)

Mediaoposisi.com-Dahsyatnya sebuah narasi. Ketika keluar  seorang ulama yang memiliki ilmu Islam yang mumpuni. Ditambah lagi framing media yang begitu tendensius. Konotasi negatif yang sengaja dihembuskan lewat media yang tentu saja mengerucut pada islamophobia. Jika sudah rezim yang berbicara maka dia punya segalanya. Tokoh bisa disumpal kekuasaan, media bisa di intervensi.

Bukan sesuatu yang baru lagi ketika sebuah media mampu memutarbalik fakta. Mengubah narasi hingga seorang pelaku kejahatan seolah korban dan sebaliknya. Begitu pun seorang tokoh bahkan ulama yang berbicara berdasarkan kepentingan bukan lagi berdasarkan kebenaran. Demi mengamankan dirinya dari posisi tertentu maka  argumennya akan sesuai pesanan.

Seperti dilansir oleh CNN Indonesia ,16/08/2019. Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD  "Dia menegaskan bahwa dasar negara Indonesia sudah mengandung makna syariah. Oleh karena itu, tidak perlu lagi ada istilah NKRI Bersyariah untuk mempertegas.

"Indonesia itu tidak perlu dikatakan Indonesia bersyariah, Pancasila Bersyariah, karena itu dasarnya dan semangatnya memang syariah. Sekarang ini sudah dasarnya dan semangatnya sudah syariah ndak usah ditambah-tambah itu berlebihan," kata dia. 

Jika memang dasar negara kita sudah bersyariah, mengapa phobia dengan syariah?

Sebagai umat islam, syariah adalah hal yang mutlak dalam beragama. Karena Islam identik dengan penerapan syariah. Karena menjadi kewajiban seorang muslim. Islam dan syariah adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Namun miris ketika syariah justru diskriminasi. Para penyeru syariah dibenturkan dengan pancasila.

Seolah - olah syariah bertentangan dengan pancasila. Dibuat semacam ketakutan pada umat bahwa para penyeru syariah bahkan para pengemban ide khilafah adalah muslim yang wajib dihindari, karena bertentangan dengan pancasila.

Mengapa saat ini syariah seolah hal yang tabu untuk di terapkan bahkan untuk sekedar didiskusikan tidak diberi ruang.  Semua seolah terhalang tabir bernama pancasila. Jika ditilik dari respon rezim terhadap para penyeru syariah seolah mereka seperti virus yang mematikan. Membicarakan syariah begitu dihindari. Namun disisi lain mereka menyatakan pancasila memang sudah bersyariah.

Mereka berbicara pancasila, bahkan dibentuk badan khusus demi mengamankan pancasila yaitu BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang dengan gaji selangit. Namun pada pengamalannya apakah kita sudah berhasil?.  Faktanya justru rezim sudah mengkhianati pancasila. Di semua sila.

Syariah bukan ancaman

Syariah itu adalah aturan yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Tidak terkecuali aturan bernegara.  Aturan bernegara  diatur dalam Islam dan berlaku untuk seluruh umat manusia karena Islam rahmatan lil alamin. Tidak hanya untuk umat muslim saja. Dan menerapkannya adalah kewajiban bagi seorang muslim sebagai konsekwensi dari syahadatnya.

Menerapkan syariah itu membawa kemuliaan bagi umat islam dan membawa kesejahteraan bagi seluruh alam. Karena negara diatur oleh hukum Allah Swt yang maha pengatur. Tentu saja aturan-NYA tidak akan membawa ancaman bagi kehidupan.

Kesejahteraan dalam bersyariah bukan sekedar wacana atau utopis belaka.  Namun sejarah sudah membuktikan berabad-abad lamanya. Dunia pernah dihimpun menjadi satu kepemimpinan dalam bingkai khilafah.

Will Durant adalah seorang sejarahwan barat  justru memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan:

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka"

 Jika mereka yang kafir saja mengakui kehebatan masa khilafah lalu mengapa umat muslim justru phobia?. Jika menganggap khilafah sudah tidak relevan dan kuno berarti menolak bisyarah Rosullullah..

.... Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Rezim sudah saatnya mencari solusi demi negeri ini bisa keluar dari keterpurukan. Tak ada solusi dalam demokrasi, memperbaiki negeri tanpa mengubah sistem ibarat tambal sulam. Karena slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat justru tidak akan pernah bisa direalisasikan dalam demokrasi yang jelas anak kandung dari sistem kapitalisme. [MO/vp]






Posting Komentar