Oleh : Naila Dhofarina Noor S.Pd
Anggota Komunitas Penulis Muslimah Peduli Umat Kota Malang

Mediaoposisi.com-“Saya mengimbau kepada civitas akademika untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan, karena biasanya mahasiswa yang masih mencari jati diri mudah terpapar doktrin radikalisme.” 

Demikian himbauan pembicara dari Direktorat Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Sholahudin Nasution dalam kuliah umum di gedung Soetardjo Universitas Jember (26/9/2018).

Di sisi lain, Zainut Tauhid dari MUI mengatakan bahwa MUI meminta kepada pemerintah secara serius melakukan pengawasan terhadap masjid dibawah kewenangannya untuk memastikan pengelolaan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) yang terbebas dari paham radikal dan ekstrem. [Merdeka.com, 10/07/2018]

Ada yang menarik dari himbauan 2 tokoh di atas. Yaitu kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ yang dikaitkan dengan kegiataan keagamaan , khususnya di  masjid. Di masyarakat umum pun sering kita mendengar orang tua mewanti-wanti anaknya baik yang masih duduk dibangku sekolah maupun dibangku perkuliahan.

Bukan wanti-wanti supaya tidak terjerumus dalam seks bebas ataupun narkoba juga tawuran , tapi wanti-wanti supaya tidak ikutan kelompok islam radikal, atau islam garis keras, ikut islam yang biasa-biasa aja. 

Tidak mengherankan, karena orang tua memang didoktrin dalam pertemuan orang tua/wali untuk mewanti-wanti soal itu. Demikianlah propaganda yang sedang disounding di tengah masyarakat negeri mayoritas muslim ini.

Sebagai masyarakat yang cerdas, tentu kita perlu mendalami apa yang dimaksud dengan radikal dan radikalisme. Radikal diambil dari bahasa latin yakni radix yang berarti “akar” . Dalam kamus besar bahasa Indonesia, radikal memiliki arti : mendasar (sampai pada hal prinsip) : maju dalam berpikir dan bertindak. (kbbi.web.id). 

Kata radikal luas konotasinya, sebagaimana kita jumpai saat belajar ilmu kimia, ada yang dinamakan radikal bebas. Jika konteksnya adalah Islam bisa saja Islam dikatakan radikal. Mengapa? karena Islam adalah sebuah ajaran yang mendasar yakni ada akidah yang menjadi dasar setiap perbuatan, juga ada syariah yang merupakan implementasi dari akidah itu sendiri.

Adapun istilah radikal ditambah isme  sehingga menjadi radikalisme, menurut KBBI, memiliki arti: paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dalam konteks ini, Islam bertolak belakang. Islam tidak mengajarkan radikalisme. 

Di dalam alquran surat al-baqarah ayat 256 , Alloh berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk islam. Juga sebagaimana yang dicontohkan Rosululloh SAW dalam dakwahnya yang laa unfiyah (non kekerasan), fikriyah (dengan pemikiran), siyasiyah (dengan politik), juga jam’iyah (dengan kelompok).

Propaganda Islam radikal sejatinya tidak lepas dari sebuah kajian lembaga think-thank AS yakni Rand Corporation pada tahun 2003. Secara terbuka, dalam hasil kajiannya yang berjudul Civil Democratic Islam , lembaga ini membagi umat islam menjadi 4 kelompok, yakni kelompok Islam fundamentalis (radikal), Tradisonalis, Modernis, dan Sekuleris. [www.rand.org]. 

Yang kemudian tahun 2007 diterbitkan dokumen yang berjudul building moderate muslim networks yang mengungkapkan road map membangun jaringan muslim moderat dengan memberi bantuan pada pihak yang cepat memberi dampak dalam perang pemikiran.

Sebagai masyarakat cerdas, tentulah propaganda yang mencitraburukkan Islam dengan menyematkan Islam radikal pada sekelompok orang-orang bercelana cingkrang, berhijab syar’i atau berbicara mendalam soal pemerintahan Islam tidak menjadikan kita lari dari ajaran Islam itu sendiri. 

Justru di masa sekarang inilah masa-masa ujian siapakah yang berhasil dengan sabar melewati ujian keyakinan atas ajaran Islam. Ajaran yang telah Rasulullah bawa dengan perjuangan yang tiada terbeli dengan apapun demi menyelamatakan umatnya tercinta dari kejahiliyahan. 

Mungkin kita tidak diuji atau telah berhasil bersabar dari ujian kesehatan, kebendaan, ataupun kedudukan. Namun bagaimana dengan ujian berupa propaganda ini? Akankah propaganda Islam radikal  berhasil membuat kita takut dengan ajaran kita sendiri?

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (TQS. Al-baqarah[2]:155)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (TQS. Albaqarah[2]:120)

Semoga kita menjadi masyarakat yang cerdas menanggapi setiap propaganda yang menyusup. Dan sudah semestinya kita menangkal propaganda Islam radikal  yang dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari Islam ini, dengan terus mengkristalkan pemahaman Islam yang seutuhnya dengan penuh kesabaran.[MO/vp]

Posting Komentar