Oleh: El-Karimah
Mediaoposisi.com-Hidup itu perjuangan. Bahkan bagi yang memilih tidak berjuang pun harus memperjuangkan pilihan hidupnya tersebut. Persoalannya adalah perjuangan seperti apa yang harus dipilih oleh seorang muslim?
Siapapun akan berjuang untuk meraih apa yang menjadi cita-cita tertingginya. Adalah satu hal yang lazim bagi muslim -yang meyakini bahwa Allah satu-satunya Maha Benar dalam mengatur- akan mencita-citakan dapat menjalani hidup dengan hukum terbaik dariNya. Karena hidup hanya sekali dan manusia membutuhkan petunjuk pasti sebelum mati. 
Memiliki keyakinan berdasarkan ideologi masing-masing merupakan hak manusia. Islam sendiri tidak pernah memaksakan non muslim meninggalkan keyakinannya untuk memeluk Islam. Bahkan peradaban Islam sejak awal berdirinya di masa Rasulullah Saw. sudah mengenal dan menerapkan konsep keberadaban dalam hal hidup berdampingan dan toleransi antar umat beragama.
Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, tak ada satupun sejarawan -termasuk sejarawan Barat- yang menulis kesewenang-wenangan sistem Islam terhadap non muslim kecuali mereka yang memendam kebencian atas Islam. Beberapa kekaguman sejarawan Barat akan kecanggihan Islam mengatur keragaman dapat kita simak sebagai berikut: 
T.W. Arnold adalah seorang orientalis dan sejarawan Kristen. Meski dia beragama Kristen, ia ternyata memuji kerukunan beragama dalam negara Khilafah. Dalam bukunya, The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith, ia banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan beragama dalam negara Khilafah. Ia berkata:
"The treatment of their Christisn subject by of Ottoman emperors--at least for two centuries after their conquest of greece--exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe"
(Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani--selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani--telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa). (The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith,1896,hlm. 134)
Dia juga berkata:
"....kaum calvinis Hungaria dan Transilvania serta Negara Utaris (Kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintah Turki daripada berada dibawah pemerintahan Habsburg yang fanatik:
kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam... kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen dibawah pemerintahan Sultan".
Orientalis Inggris ini juga berkata:
"Ketika Konstantinopel dibuka oleh keadilan Islam pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya pelindung gereja Yunani. Penindasan pada kaum Kristen dilarang keras dan untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada uskup Agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya. Hal yang tak pernah didapatkan dari penguasa sebelumnya.
Gennadios diberi staf keuskupan oleh Sultan sendiri. Sang Uskup juga berhak meminta perhatian pemerintah dan keputusan Sultan untuk menyikapi para gubernur yang tidak adil...
Tak beda jauh beda dengan T.W. Arnold, Karen Amstrong seorang mantan biarawati sekaligus penulis terkenal memuji kehidupan beragama yang ada dalam negara Khilafah. Dalam negara Khilafah, agama selain Islam mendapatkan perlakuan yang sangat baik. Bahkan menurut Karen Amstrong, kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di Andalusia. "Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus" tulis Karen Amstrong.
Lalu apa yang salah dari seorang muslim jika ia merindukan sistem manusiawi ini hadir kembali di tengah-tengah mereka dan mengatur urusan kehidupannya? Apa yang salah apabila seorang muslim ingin berpegang teguh pada Syari'at Islam dan menjalankan ajarannya mulai dari perkara 'aqidah (keimanan), mu'amalah (hubungan dengan manusia dalam pendidikan, pergaulan, kesehatan, ekonomi), dakwah hingga siyasah (politik Islam)?.
Dan apakah salah jika seorang muslim memilih berjuang mewujudkan sistem terbaik yang terbukti nyata tidak amatiran dalam mengurusi keberagaman dan menyejahterakan? 
Will Durant seorang sejarawan Barat memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan:
"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka"
Tak hanya becus mengurusi kesejahteraan masyarakat plural di dalam wilayahnya, Khilafah dengan syari'at Islam nyatanya memiliki kebijaksanaan agung dan rasa kemanusiaan yang tinggi. 
Mary McAleese. Ia adalah Presiden ke-8 Irlandia yang menjabat dari tahun 1997 sampai 2011 . Ia juga anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru pada 1984 dan anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades pada 1996. Meski dia beragama kristen Katolik, namun tak disangka, ia memuji kedermawanan negara Islam (Khilafah).
Dalam pernyataan persnya, ia memuji bantuan Khilafah Turki Utsmani ke negaranya, Irlandia, sekitar tahun 1847. Bantuan itu dikirimkan ke Irlandia saat terkena musibah kelaparan hebat (The Great Famine), yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia. Terkait bantuan itu, Mary McAleese berkata:
“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani)  mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini," 
Untuk mengenang jasa Khilafah tersebut, kini Irlandia menggunakan logo Khilafah Turki Utsmani (Bulan Sabit) di Klub Sepak Bolanya. "Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita," katanya.
Jika sudah demikian riil keagungan Syari'at Islam dan Khilafah, akal manusia mana yang masih sibuk mencari argumen penolakan terhadapnya?
Dimana letak kriminalitas Syari'at Islam dan Khilafah bila diterapkan nantinya justru akan membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia?
Bukankah keyakinan dan kebebasan menjalankan ajaran agama atas pemeluknya diakui oleh Pancasila?
Bukankah justru kenyataan sebagai negara besar sebagaimana dibuktikan Khilafah di masa lampau menjadi tujuan negeri ini yang juga dinyatakan dalam preambul UUD 1945?
Jika tidak demikian logikanya, jangan-jangan penolakan atas penerapan Syari'at Islam dan Khilafah sengaja untuk menutupi konfirmasi kegagalan sistem 'beradab maksimal' (baca: final) yang selama ini dianut?
Karena sejatinya tidak ada yang bisa mengelak realitas problem disintegrasi yang tak kunjung usai dari kasus lepasnya Timor-Timor maupun letupan di Papua Barat serta awetnya tirani minoritas atas mayoritas di negeri ini. 
Wallahu a'lam bi ash-showab [MO/sg]


Posting Komentar