Oleh: Ayu Deswanti Rio Dingin





















Mediaoposisi.com-Bumi pertiwi kembali berguncang hebat. Kali ini, gempa berpusat di barat daya Banten. Gempa berkekuatan 6,9 SR itu juga dapat dirasakan di sebagian wilayah Jakarta, Bandung, Bogor, dan Lampung.

Hanya sekejap, guncangan bumi itu membuat orang-orang panik, segera berhamburan keluar untuk mencari tempat aman. Apalagi ada peringatan bahwa gempa berpotensi tsunami semakin menambah cemas akan terjadinya kerusakan harta, benda, jiwa yang luas. Hingga kini, dikabarkan setidaknya 139 rumah rusak di Banten dan enam orang tewas akibat peristiwa tersebut.

Nyatanya, gempa Banten bukan yang terakhir. Bumi pertiwi patut mewaspadai kedatangan gempa yang lebih dahsyat, ialah megathrust. Merujuk pada istilah ilmu bumi, kata "thrust" artinya mekanisme gerakan lempeng bumi yang menimbulkan gempa dan memicu tsunami. Jika lempengan dua benua bertemu (Indo-Australia dan Eurasia), maka akan terjadi megathrust.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (3/8), "Ancaman [Megathrust] riil, nyata di sepanjang pantai Barat Sumatera, mungkin jaraknya sekitar 200-250 km di laut lepas." (cnnindonesia.com, 03/08/19)

Dia menegaskan jika kekuatan gempa besar dan sumbernya dangkal maka bisa memicu tsunami. Sayangnya, tak ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa terjadi. (cnnindonesia.com, 03/08/19)

Memang, manusia sebagai makhluk yang paling sempurna telah dianugerahi kemampuan akal yang hebat sehingga bisa menemukan penyebab terjadinya bencana alam. Namun, sifat akal tersebut sangatlah terbatas, sehingga selalu sampai pada titik buntu dalam menjawab penyebab mutlak alam semesta.

Megathrust atau gempa terdahsyat itu boleh jadi benar disebabkan oleh pergerakan lempeng dua benua. Lantas, mengapa kedua lempengan tersebut bisa bergerak sampai menimbulkan tumbukan? Kapan itu semua akan terjadi? Mengapa akhirnya air laut bisa meluap dan menelan jutaan nyawa, sekaligus menyelamatkan sebagian nyawa yang lain? Siapa yang menentukan hidup dan matinya seseorang?

Tidak akan ada yang pernah mengetahui waktu kedatangan bencana alam, sekalipun BMKG. Bahkan, korban bencana punya peluang yang sama untuk hidup atau mati, tapi nyatanya keputusan berada di "tangan" Sang Penguasa. Benarlah kiranya bahwa ada yang mengendalikan seisi langit dan bumi ini, Dialah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

"Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." (QS. At-Taubah : 116)

Megathrust dan setiap kejadian bencana alam bukanlah sekadar imbauan dari BMKG, tapi sejatinya merupakan peringatan dari Allah, Sang Penguasa. Tidaklah bumi bergoncang, air laut tumpah ruah, angin berhembus kencang, tanah runtuh, hingga alam luluh lantak, melainkan atas kehendak-Nya. Bukankah memang langit, bumi, dan seisinya senantiasa bertasbih dan patuh kepada-Nya?

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Isra’ : 44)

Bumi yang bergejolak akhir-akhir ini tidak terlepas dari campur tangan manusia yang selalu mengotorinya dengan kemaksiatan. Begitu pongahnya manusia berjalan di muka bumi tanpa mengindahkan aturan-aturan Allah sehingga mengundang murka-Nya. Dia pun memerintahkan bala tentara-Nya untuk mendatangkan hukuman (musibah bencana) agar menjadi muhasabah bersama.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum : 41)

Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menukil penjelasan Imam Abu al-‘Aliyah: “Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi, maka sungguh ia telah berbuat kerusakan di bumi, karena kebaikan bumi dan langit (bergantung) pada ketaatan."

Suatu kali terjadi gempa bumi di Madinah. Rasulullah saw meletakkan kedua tangannya diatas tanah dan berkata, “Tenanglah, belum datang saatnya bagimu.” Lalu Nabi saw menoleh kearah para sahabat dan berkata, “sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridho kepada kalian)."

Pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab ra juga pernah terjadi gempa bumi. Lantas, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Bila satu dua bencana tak juga menyadarkan manusia, malah semakin berpaling dari ajaran Islam, kiranya cukuplah ancaman bahaya megathrust menjadi peringatan besar agar kembali taat kepada Allah semata.

Sebab, sejatinya bumi ini milik Allah. Dia berkuasa penuh atasnya, untuk mendatangkan berkah atau musibah. Dan semuanya ini bergantung kepada perbuatan manusia entah berusaha memakmurkannya atau malah membuat kerusakan.

Maka, sudah sepantasnya kita berubah secara totalitas dengan menjadi muslim kaffah yang menaati seluruh perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Juga disertai dengan ketaatan penuh kepada syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Karena bumi ini milik Allah. Indonesia tanah air tercinta kita juga milik Allah. Marilah kita kembalikan pengaturannya kepada satu-satunya yang berhak membuat hukum, Rabb kita Al-Mudabbir. Dengan begitu, keberkahan akan menghujani sisa-sisa usia kita. 

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf : 96)

Wallahu'alam bisshowwab [MO/sg]

Posting Komentar